Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN ANEMIA DENGAN KEJADIAN KETUBAN PECAH DINI DI RSIA HUSADA BUNDA TAHUN 2021 Putri, Resky Ananda; Hastuty, Milda; Lubis, Duma Sari; Handayani, Fitri
Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 3 (2023): Volume 1 Nomor 3 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jiik.v1i3.18412

Abstract

Saat ini KPD masih menjadi masalah di Dunia termasuk Indonesia dan memerlukan perhatian yang besar, karena prevalensinya yang cukup tinggi, angka kejadian KPD di dunia mencapai 12,3% dari total angka persalinan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan anemia dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini di RSIA Husada Bunda Tahun 2021. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan menggunakan desain penelitian case control yang bersifat retrospektif. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh data ibu bersalin tahun 2020 sebanyak 233 orang. Sampel dalam penelitian ini menggunakan perbandingan 1:1, yaitu 46 dengan sampel kasus (ibu yang mengalami KPD) dan 46 dengan sampel kontrol (ibu yang tidak mengalami KPD). Alat pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar checklist. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisa univariat dan bivariat. Hasil penelitian didapatkan bahwa responden yang mengalami anemia yaitu 46,7%. Ada hubungan anemia dengan ketuban pecah dini dengan p value 0,003. Diharapkan Bagi petugas kesehatan terutama bidan dapat memberikan pelayanan ANC dengan baik, seperti memberikan KIE dan konseling pada ibu tentang pentingnya meminum tablet tambah darah, agar kejadian anemia tidak terjadi lagi sehingga dapat mencegah terjadinya ketuban pecah dini di RSIA Husada Bunda untuk meningkatkan mutu pelayanan kebidanan.
Organic Waste Management into Eco-Enzyme and Maggot Feed at A Hotel in Makassar: A Descriptive Qualitative Study Amansyah, Munawir; Syarif, Alwiyah Nur; Putri, Resky Ananda; Amalia, Khairiyah Reski; Fadilah, Siti Mutiah; Nurfadila, Nurfadila
Unihealth Community Research Vol 2 No 1 (2026): September-February
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ucr.v2i1.65810

Abstract

Recent hospitality waste studies increasingly promote circular organic-waste treatment, yet empirical descriptions of how hotels operationalize low-cost bioconversion pathways (eco-enzyme fermentation and black soldier fly/maggot production) in day-to-day routines remain limited, particularly in Eastern Indonesia. This study aimed to describe the management of hotel organic waste into eco-enzyme and maggot feed at Mercure Makassar (Makassar City, Indonesia) using a descriptive qualitative design. Data were collected through non-participant observations of kitchen waste flows, in-depth interviews with key hotel personnel (food production, stewarding, housekeeping, engineering, and management), and document review (SOPs, training materials, and relevant local/national regulations). Data were analyzed thematically with iterative coding and triangulation across sources. The findings indicate that the system hinges on (i) source segregation at food-preparation and post-consumption points, (ii) stabilization steps to reduce contamination and odor before processing, (iii) standardized eco-enzyme fermentation using organic residues with sugar/molasses and water ratios commonly reported in the literature (e.g., 1:3:10 or 10:3:1 by weight/volume) and a multi-month maturation period, and (iv) BSF-based bioconversion that rapidly reduces restaurant waste while producing larval biomass and frass as by-products. Implementation is shaped by staff literacy, space constraints, pest-control requirements, and alignment with municipal and national waste-management mandates. Overall, this case demonstrates a feasible, practice-oriented circular pathway for hotels, with implications for SOP development, staff training, and measurable reduction of landfill-bound organic waste in Makassar.