Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Leadership of Vocational High School Principals After the COVID-19 Pandemic In SMK Diponegoro Depok Yoyakarta Maftuh; Choirul Muna
Journal of Indonesian Progressive Education Vol. 1 No. 1 (2024)
Publisher : Early Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63617/jipe.v1i1.1

Abstract

Even though the COVID-19  pandemic has not ended, signs of improvement have been felt by many people. This is an opportunity and opportunity to improve due to problems that have hindered, including the education sector. There needs to be a further intervention related to the education sector, especially in the leadership aspect of the educational institution. This research aims to explore the leadership of school principals after the COVID-19  pandemic, especially in vocational high schools. With a descriptive qualitative approach through interviews, observation and literature view, at the Diponegoro Depok Vocational School, it was found that several roles had been carried out by the principal. As for the roles that can be seen from the aspect of supervision and managerial. In addition, in general, the principal can act as a facilitator, motivator, mentor, consultant, communicator, counselor, leader, innovator and is responsible for achieving educational goals. With the many roles that can be given by the principal, of course the hope is to advance education in Indonesia in general. With guarantees, they must be able to face increasingly complicated challenges, for example in developing an education system that is adaptive and able to adapt to the times.  
Internalisasi Nilai-Nilai Islam Moderat Sebagai Upaya Deradikalisasi Pada Pengurus Ormawa Istaz Al-Azhar Menganti: Penelitian Muhammad Wafais; Maftuh
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 3 No. 4 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 3 Nomor 4 (April 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v3i4.822

Abstract

Problem dalam penelitian ini adalah munculnya indikasi sebagian kelompok mahasiswa yang tertarik dengan cara berpikir kelompok radikal. Terlepas dari ada tidaknya latar belakang aktivisme keagamaan, persoalan serius yang perlu mendapat perhatian mahasiswa adalah sikap eksklusif yang muncul di dunia kampus serta mengantisipasi mahasiswa mulai menjadi tidak toleran, baik karena pemahaman agama atau karena mereka mabuk agama yang disebabkan oleh terfokusnya pada teknologi media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk 1. Untuk mengetahui nilai nilai Islam moderat yang ditransformasikan terhadap pengurus ORMAWA ISTAZ AL AZHAR Menganti. 2. Untuk mengetahui pelaksanaan Internalisasi nilai-nilai Islam moderat terhadap pengurus ORMAWA ISTAZ AL AZHAR Menganti. Pendekatan penelitian adalah kualitatif. Jenis penelitian ini adalah studi kasus. Teknik pengumpulan data berupa wawancara dan observasi. Adapun teknik analisis data menggunakan Miles dan Huberman, yang tahapannya meliputi: reduksi data (data reduction), penyajian data (data display) serta penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing/ verification). Penelitian ini menyimpulkan (1) Nilai nilai Islam moderat yang ditransformasikan terhadap ORMAWA yakni, Tawassuth, Tawazzun, Al i’tidal, Tasamuh, Al musawah dan Assyura. (2) Pelaksanaan internalisasi Islam moderat yakni dengan tahap transformasi nilai, tahap transaksi nilai, dan juga tahap internalisasi.
Model Pendidikan Moderat di Pondok Pesantren: Studi Multisitus di Pondok Pesantren Sidogiri Kraton Pasuruan dan Pondok Pesantren Al Anwar Modung Bangkalan: Penelitian Ahmad Atha’illah; Maftuh
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2281

Abstract

Islamic boarding schools (pondok pesantren) are Islamic educational institutions that play a crucial role in shaping religious and social character, aiming to cultivate individuals with noble character who bring benefit to all of creation. This study aims to examine the implementation of the moderate Islamic education model at Sidogiri Islamic Boarding School and Al-Anwar Islamic Boarding School, identify differences in their approaches, analyze the impacts on students and the surrounding community, and explore the challenges faced in its development. This research employed a qualitative descriptive approach with a multisite research design, in which data were obtained through observation and documentation, then analyzed descriptively and interpreted with the support of relevant theories. The findings reveal that both institutions implement moderate Islamic education through learning modules, extracurricular activities, and daily practices that instill anti-violence values, preserve local culture, and foster national commitment. The difference lies in Sidogiri Islamic Boarding School maintaining a strong adherence to traditional salaf values, whereas Al-Anwar Islamic Boarding School integrates salaf traditions with formal education. The impact can be seen in the positive responses from students and their parents toward the provided guidance. The challenges faced include diverse cultural backgrounds that are not always aligned, requiring proper management and structuring so that the teachings can be well accepted and understood.
Ketimpangan Akses Pendidikan Agama dan Implikasinya terhadap Mobilitas Sosial: (Analisis Perspektif Teori Konflik) Ita Fatmawati; Maftuh
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.4311

Abstract

Ketimpangan akses terhadap pendidikan agama masih menjadi persoalan yang mengemuka dalam sistem pendidikan di Indonesia. Meskipun pendidikan agama diposisikan sebagai bagian penting dalam pembentukan karakter dan nilai moral peserta didik, realitas di lapangan menunjukkan adanya perbedaan kualitas dan kesempatan belajar yang dipengaruhi oleh kondisi sosial-ekonomi, kebijakan pendidikan, serta distribusi sumber daya yang tidak merata. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji ketimpangan akses pendidikan agama dengan menggunakan perspektif teori konflik, serta menganalisis implikasinya terhadap mobilitas sosial dalam masyarakat. Penulisan makalah ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan menelaah pemikiran tokoh-tokoh teori konflik, seperti Karl Marx, Max Weber, dan Pierre Bourdieu, serta berbagai hasil penelitian kontemporer dalam bidang sosiologi pendidikan dan pendidikan agama Islam. Kajian ini menunjukkan bahwa pendidikan agama tidak hanya berfungsi sebagai sarana transmisi ajaran dan nilai keagamaan, tetapi juga berperan sebagai modal sosial dan kultural yang dapat memengaruhi posisi sosial individu. Ketimpangan dalam akses dan mutu pendidikan agama berpotensi memperkuat stratifikasi sosial dan membatasi peluang mobilitas sosial, khususnya bagi kelompok masyarakat yang kurang beruntung. Oleh karena itu, pemerataan pendidikan agama perlu dipahami sebagai bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial. Tanpa kebijakan yang inklusif dan berorientasi pada pemerataan kualitas, pendidikan agama berisiko menjadi sarana reproduksi ketimpangan sosial, bukan sebagai instrumen pemberdayaan dan peningkatan mobilitas sosial.
Teori Exchange (Hubungan Guru dan Murid dalam Pendidikan Agama) Alfin Camelia; Mohammad Rofiq; Maftuh
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 1 (2026): February : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i1.1012

Abstract

Artikel ini mengkaji relevansi dan keterbatasan Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory) dalam memahami hubungan antara guru dan peserta didik dalam Pendidikan Agama Islam (PAI). Teori Pertukaran Sosial memandang interaksi sosial sebagai suatu proses pertukaran yang didasarkan pada perhitungan antara ganjaran (reward) dan biaya (cost), yang dapat digunakan untuk menganalisis motivasi, partisipasi, dan kepatuhan dalam konteks pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), yang bersumber dari buku, artikel jurnal, serta berbagai referensi ilmiah yang relevan dengan Teori Pertukaran Sosial dan pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan guru dan peserta didik dalam PAI mencerminkan unsur-unsur pertukaran sosial, di mana guru memberikan pengetahuan, bimbingan, dan keteladanan, sedangkan peserta didik memberikan perhatian, kepatuhan, serta partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Ganjaran seperti nilai, pujian, dan pemahaman terhadap nilai-nilai keagamaan, serta biaya berupa kedisiplinan, usaha belajar, dan pengendalian diri, memengaruhi motivasi awal peserta didik dalam mempelajari PAI. Namun demikian, penelitian ini juga mengungkap bahwa Teori Pertukaran Sosial memiliki keterbatasan dalam konteks pendidikan Islam, karena teori ini menekankan perhitungan rasional dan kepentingan pribadi. Pendidikan Islam lebih mengutamakan keikhlasan, pembentukan akhlak, serta pengabdian kepada Allah SWT sebagai tujuan utama. Oleh karena itu, Teori Pertukaran Sosial dapat berfungsi sebagai kerangka analisis pendukung, tetapi tidak dapat dijadikan sebagai landasan utama dalam memahami tujuan dan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam.
REKONSTRUKSI MODERASI BERAGAMA DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM: ANALISIS EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI NASIONAL Muhammad Zainudin; Muhammad Sohib; Maftuh
AL-MUADDIB: Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan Vol. 8 No. 2 (2026): April
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Religious moderation is a strategic national agenda aimed at strengthening civic character and preventing radicalism within educational settings. The integration of moderate values into the Islamic Education (PAI) curriculum is expected to cultivate inclusive and tolerant attitudes among students. However, its implementation continues to encounter conceptual and pedagogical challenges that reduce the effectiveness of value internalization. This study aims to analyze the effectiveness of religious moderation implementation in the PAI curriculum and to propose a more contextual and applicable curriculum reconstruction model. This research employs a qualitative approach based on library research, analyzing national policy documents and reviewing empirical studies published within the last five years. No primary field data were collected. Data were examined using content analysis and thematic synthesis to identify implementation patterns, challenges, and opportunities for curriculum improvement.The findings reveal that the implementation of religious moderation in the PAI curriculum remains largely normative and top-down, lacking clear operational pedagogical guidelines and insufficiently supported by teacher capacity development in managing diversity-oriented learning. In addition, school ecosystems that are not yet fully inclusive and limited student digital literacy further hinder the authentic internalization of moderate values.The study concludes that curriculum reconstruction is necessary through strengthening socio-religious competencies, applying dialogical pedagogy, integrating digital literacy, and adopting a whole-school approach to ensure effective and sustainable implementation of religious moderation in the national education system.