Ellyana Ilsan Eka Putri
Universitas Negeri Surabaya

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Program Penguatan Kesejahteraan melalui Peningkatan Pengetahuan Pencegahan Bullying dan NAPZA Rizky Putra Santosa; Ellyana Ilsan Eka Putri; Ni Wayan Sukmawati Puspitadewi; Adiwignya Nugraha Widhi Harita; Mimbar Oktaviana; Mesa Taja Izza Jannati Erbi; Nayra Aqilah
Journal of Community Development Vol. 6 No. 1 (2025): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v6i1.1730

Abstract

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa MTs Kebunrejo Genteng, Banyuwangi mengenai pencegahan perilaku bullying dan bahaya NAPZA melalui intervensi psikoedukasi. Remaja di lingkungan pesantren rentan terhadap permasalahan psikososial seperti perundungan dan penyalahgunaan NAPZA. Metode pelaksanaan meliputi presentasi materi, diskusi, studi kasus, dan praktik pembuatan poster edukasi yang diikuti oleh 56 siswa. Efektivitas program diukur menggunakan instrumen pretes-postes yang dianalisis dengan uji statistik paired sample t-test dan Wilcoxon signed-rank test. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan keseluruhan yang signifikan (t(55) = -2,46; p < 0,01; d = -0,32), meskipun dengan efek yang tergolong kecil (d = -0,32). Program ini menyimpulkan bahwa pendekatan psikoedukasi efektif untuk materi faktual seperti NAPZA, namun membutuhkan strategi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan untuk mengatasi kompleksitas pencegahan perilaku bullying. Respon peserta terhadap program secara keseluruhan berada pada kategori puas. Rekomendasi untuk intervensi serupa di masa depan adalah pengembangan program yang lebih diferensiatif sesuai dengan karakteristik masing-masing permasalahan.
Gambaran Persepsi Pernikahan pada Perempuan Dewasa Awal yang Kehilangan Peran Ayah Noer Erika; Ellyana Ilsan Eka Putri
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 02 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n02.p629-646

Abstract

Kehadiran ayah berperan bagi perkembangan emosional, sosial, dan pandangan anak perempuan terhadap hubungan interpersonal. Kehilangan peran ayah berkaitan dengan cara individu membentuk hubungan pada masa dewasa awal. Kondisi tersebut menunjukkan betapa pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi pernikahan pada perempuan dewasa awal yang kehilangan peran ayah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian terdiri dari tiga perempuan dewasa awal yang kehilangan peran ayah. Kriteria subjek pada penelitian ini adalah perempuan dewasa awal berusia 20-25 tahun, belum menikah, kehilangan ayah karena kematian, dan kepergian ayah sejak masa kanak-kanak. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi terstruktur dan dianalisis dengan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman kehilangan ayah membentuk persepsi pernikahan berbeda pada tiap partisipan. Persepsi pernikahan pada partisipan terbentuk berdasarkan pengalaman kehilangan ayah, cara mengelola duka, dan keberadaan figur pengganti. Penelitian ini menunjukkan bahwa peristiwa kehilangan ayah berperan dalam membentuk cara individu memaknai hubungan, kepercayaan, dan komitmen dalam kehidupan dewasa. Abstract The presence of a father plays a role in the emotional and social development of daughters and their views on interpersonal relationships. The loss of a father's role is related to how individuals form relationships in young adulthood. This situation highlights the importance of father’s involvement in raising their daughters. This study aims to determine the perception of marriage among young adult women who have experienced the lost of the father's role. This study uses a qualitative phenomenological approach. The criteria for participants in this study are young adult women aged 20–25, who are unmarried, have lost their fathers to death, and whose fathers left when they were children. The research subjects consisted of three young adult women who had experienced the loss of the father's role. This study employed semi-structured interviews as a data collection method and analyzed the data using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The results showed that the participants perceptions of marriage were shaped by their experiences of the loss the father’s role, how they managed their grief, and the presence of a substitute figure. This study shows that the experience of loss the father’s role plays a role in shaping how individuals perceive relationships, trust, and commitment in adulthood.
PEMAKNAAN REMAJA TERHADAP POLA ASUH ORANG TUA DALAM PENGALAMAN MENIKAH DINI : STUDI FENOMENOLOGI DI KABUPATEN TUBAN Amanda Dwi Selvi Tahlilia; Ellyana Ilsan Eka Putri
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 02 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n02.p647-662

Abstract

Fenomena pernikahan dini di Kabupaten Tuban masih marak terjadi dan sering dikaitkan dengan perilaku seksual pra nikah pada remaja. Keluarga sebagai lingkungan terdekat bagi remaja memiliki peran penting dalam membentuk perilaku serta pengambilan keputusan anak melalui pola asuh. Penelitian ini bertujuan memahami makna pengalaman pola asuh orang tua sebagaimana dimaknai oleh remaja yang menikah dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) untuk mengeksplorasi pengalaman partisipan secara mendalam. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah tiga orang remaja yang menikah di usia dini akibat perilaku seksual pra nikah. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan dini berkaitan dengan pola asuh orang tua yang tidak seimbang antara dimensi demandingness dan responsiveness. Ketidakseimbangan pola asuh tersebut menghambat perkembangan otonomi psikologis, regulasi diri, serta kemampuan remaja dalam  mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Sehingga penting untuk menerapkan pola asuh yang seimbang antara tuntutan dan dukungan emosional sebagai upaya preventif dalam menekan resiko pernikahan dini pada remaja. Abstract The phenomenon of early marriage in Tuban Regency remains prevalent and is often associated with premarital sexual behavior among adolescents. As the closest environment for teenagers, the family plays a vital role in shaping their behavior and decision-making. This study aims to understand the meaning of parenting experiences as perceived by adolescents who marry early.This study employed a qualitative approach using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) to explore the participants’ lived experiences in depth. The participants consisted of three adolescents who entered early marriage due to a premarital pregnancy. Data were collected through semi-structured in-depth interviews. The findings indicate that the experience of early marriage among adolescents is associated with parenting styles characterized by an imbalance in the dimensions of demandingness and responsiveness. This imbalance hinders the development of psychological autonomy, self-regulation, and adolescents’ ability to consider long-term consequences. Therefore, it is important to implement a balanced parenting style between demands and emotional support as a preventive effort to reduce the risk of early marriage among adolescents.
Inggris Nur Ikhsan; Ellyana Ilsan Eka Putri
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 02 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n02.p702-711

Abstract

The rapid advances in information technology have made the internet a primary tool in academia, which has also led to the emergence of cyberloafing as a way for students to escape academic pressure. This study aims to examine the influence of academic stress on cyberloafing behavior among college students at University X. The study used a non-experimental quantitative method with an associative-predictive approach, involving 200 respondents selected via accidental sampling. The instruments used were the modified Student Cyberloafing Scale and the Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA). The results indicate a positive and significant effect of academic stress on cyberloafing behavior, with a significance level of p < 0.001 and a regression coefficient of 0.811. Analysis of the coefficient of determination shows that academic stress accounts for 36.5% of the variance in cyberloafing behavior, while the remainder is influenced by other factors outside the scope of this study. These findings emphasize the importance of interactive learning methods and counseling services to develop better coping strategies to reduce non-academic internet use during learning activities. Abstrak Pesatnya kemajuan teknologi informasi menjadikan internet sarana utama dalam bidang akademik. Namun, kondisi ini juga memicu munculnya fenomena cyberloafing sebagai bentuk pengalihan mahasiswa dari tekanan akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stres akademik terhadap perilaku cyberloafing pada mahasiswa Universitas X. Metode yang digunakan adalah kuantitatif non-eksperimen dengan pendekatan asosiatif prediktif, melibatkan 200 responden yang diperoleh melalui teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan adalah Student Cyberloafing Scale dan Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) yang telah dimodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan stres akademik terhadap perilaku cyberloafing dengan nilai signifikansi p < 0,001 dan koefisien regresi sebesar 0,811. Analisis koefisien determinasi menunjukkan stres akademik mampu menjelaskan 36,5% varian perilaku cyberloafing, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Temuan ini menekankan pentingnya metode pembelajaran interaktif dan layanan konseling untuk mengembangkan strategi coping yang lebih baik guna mengurangi penggunaan internet non-akademik selama kegiatan belajar.