Pelayaran Laksamana Cheng Ho menjadi kisah penting dalam penyebaran Islam di nusantara. Namun pembahasan ini jarang berakhir pada penelitian Laksamana Cheng Ho tentang penyebaran Islam di Indonesia, khususnya dalam perjalanannya ke nusantara. Hal ini mencakup ekspansi awal Tiongkok ke nusantara melalui perdagangan, yang setelah itu pedagang Tiongkok secara bertahap menetap di pesisir nusantara. Mereka bahkan menikah dengan penduduk asli agar bisa tinggal permanen di Indonesia dan tidak pernah kembali ke negaranya. Artikel ini membahas. Kedatangan Cheng Ho di nusantara bertepatan dengan dimulainya proses Islamisasi. Penelitian menunjukkan hal ini dalam penjelajahan Laksamana Cheng Ho terhadap penyebaran Islam Sunda. Kunjungan armada Laksamana Cheng Ho tergolong singkat yaitu hanya 7 hari 7 malam, namun kunjungan singkat tersebut membawa pengaruh terhadap suatu peradaban di Tanah Sunda. Laksamana Cheng Ho singgah di Pelabuhan Muarajati untuk yang ketiga kalinya dan ternyata ia tidak sendirian, dalam rombongan tersebut ada seorang Syekh yang bernama Hasanudin bin Yusuf Shidik, ia adalah seorang wali yang mengajarkan Al-Qur'an sehingga ia dijuluki Syekh Kuro. Kedatangan armada Cheng Ho ke tingkat Sunda telah memberikan manfaat yang begitu besar. Selain memberikan kemajuan dalam berbagai bidang antara lain pertanian, perdagangan, seni arsitektur/bangunan, seni ukir dan seni budaya lainnya. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan Cheng Ho tidak hanya bermuatan politik dan ekonomi, namun juga mempunyai agenda tersembunyi berupa Islamisasi. Penelitian ini penting untuk mengisi kelangkaan referensi mengenai sejarah penyebaran Islam di nusantara, khususnya etnis Tionghoa.