Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EDUKASI PENCEGAHAN DEPRESI PADA POST PARTUM DI DESA TAPELAN KAPAS BOJONEGORO Wiwik Muhidayati; Nur Azizah; Suci Arsita Sari; Ihsanti Indri Fajriya; Titik Nuryanti
Kelompok Studi Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): Volume 4 No 2 : Oktober 2024
Publisher : University of Karya Husada of Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34310/kespera.v4i1.118

Abstract

Abstrak   Masa nifas (Post Partum) adalah masa di mulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandungan kembali semula seperti sebelum hamil, yang berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari. Selama masa pemulihan tersebut berlangsung, ibu akan mengalami banyak perubahan fisik yang bersifat fisiologis dan banyak memberikan ketidak nyamanan pada awal postpartum, yang tidak menutup kemungkinan untuk menjadi patologis bila tidak diikuti dengan perawatan yang baik. Metode yang digunakan secara sistematik adalah 1.Memberikan informasi tentang Upaya-upaya pencegahan depresi postpartum. Apa itu depresi postpartum penyebab atau faktor risiko gejala depresi post partum dampak cara pencegahan dan pentingnya peran keluarga. Apa itu baby blues dan depresi pasca melahirkan. Kesehatan mental Ibu pasca melahirkan.Terapi dan pengobatan depresi post partum serta pencegahan dan juga pentingnya deteksi dini depresi pasca melahirkan Kegiatan dilakukan selama selama 60 menit, dan evaluasi selama 15 menit. Evaluasi dilakukan dengan pertanyaan dan memastikan ibu memahami tentang cara pencegahan depresi post portum. Hasil dari edukasi yang dilakukan Sebagian besar ibu bisa tentang pencegahan depresi Post partum   Kata Kunci: Edukasi. Depresi Post Partum   Abstract   The postpartum period (Post Partum) is the period that begins after the birth of the placenta and ends when the uterus returns to its normal state before pregnancy, which lasts for 6 weeks or 42 days. During the recovery period, the mother will experience many physical changes that are physiological in nature and cause a lot of discomfort in the early postpartum period, which does not rule out the possibility of becoming pathological if not followed by good care. The method used systematically is 1. Providing information about efforts to prevent postpartum depression. What is postpartum depression, causes or risk factors for postpartum depression symptoms, the impact of prevention methods and the importance of the role of the family. What are baby blues and postpartum depression. Postpartum maternal mental health. Therapy and treatment of postpartum depression as well as prevention and also the importance of early detection of postpartum depression. Activities are carried out for 60 minutes, and evaluation for 15 minutes. Evaluation is carried out by asking questions and ensuring the mother understands how to prevent post-portal depression. The results of the education carried out by most mothers are about preventing post partum depression   Keywords: Education. Post Partum Depression
Analisis Faktor Pergaulan dengan Kenakalan Remaja Berbasis Konsumsi Miras di Desa Trenggulunan Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro Tahun 2024 Titik Nuryanti; Wiwik Utami; Rahmawati Rahmawati
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.749

Abstract

Pada masa remaja, pergaulan memegang peranan sangat penting. Lingkungan pergaulan bisa memberikan pengaruh positif maupun negatif, tergantung pada individu dan lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor pergaulan dengan kenakalan remaja yang berupa konsumsi minuman keras (miras) di Desa Trenggulunan, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh remaja di Desa Trenggulunan yang berjumlah 113 orang. Sampel sebanyak 88 orang dipilih secara acak sederhana (simple random sampling). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah lingkungan pergaulan, sedangkan variabel terikatnya adalah kenakalan remaja yang berupa konsumsi miras. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Data yang terkumpul kemudian dianalisis melalui tahap editing, coding, scoring, dan tabulasi. Selanjutnya dilakukan uji Chi Square dan koefisien kontingensi untuk mengetahui apakah ada hubungan antara lingkungan pergaulan dengan kenakalan remaja, serta seberapa kuat hubungan tersebut. Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p sebesar 0,000 (< 0,05), sehingga hipotesis nol ditolak. Ini berarti ada hubungan yang signifikan antara lingkungan pergaulan dan kenakalan remaja dalam bentuk konsumsi miras di Desa Trenggulunan. Namun, koefisien kontingensi sebesar 0,158 menunjukkan hubungan tersebut tergolong lemah. Hasil penelitian ini terdapat hubungan antara lingkungan pergaulan dengan kenakalan remaja dalam bentuk konsumsi minuman keras di Desa Trenggulunan, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro tahun 2024. Oleh karena itu, diharapkan para remaja dapat menjaga lingkungan pergaulan yang positif dan menghindari lingkungan yang kurang baik agar dapat mencegah terjadinya kenakalan remaja berupa konsumsi miras.
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN PADA KLIEN SKIZOFRENIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SINGGAHAN KABUPATEN TUBAN: NURSING CARE WITH THE RISK OF VIOLENT BEHAVIOR IN SCHIZOPHRENIC CLIENTS IN THE WORKING AREA OF THE SINGGAHAN HEALTH CENTER, TUBAN DISTRICT Ilham Murfid D.C; Titik Nuryanti; wiwik Utami
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Risiko Perilaku Kekerasan (RPK) merupakan kondisi ketika seseorang berpotensi melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain, sering disertai amuk dan kegelisahan yang tidak terkontrol. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbandingan asuhan keperawatan pada dua klien, yaitu Tn. J dan Tn. N, dengan RPK di wilayah Puskesmas Singgahan. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi rekam medis. Subjek penelitian terdiri dari dua klien, masing-masing berusia 44 tahun dan 38 tahun, yang didiagnosis skizofrenia dengan risiko perilaku kekerasan. Penelitian dilaksanakan pada Maret 2025 dengan minimal empat kali kunjungan, menggunakan proses asuhan keperawatan yang mencakup pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Hasil menunjukkan bahwa kedua klien memiliki diagnosis keperawatan yang sama, yaitu risiko perilaku kekerasan, dengan gejala psikotik seperti berbicara sendiri, kecurigaan berlebihan, dan perilaku agresif. Intervensi yang diberikan meliputi teknik relaksasi, kontrol verbal, manajemen emosi, serta peningkatan kepatuhan minum obat. Evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan klien dalam mengenali dan mengontrol perilaku kekerasan serta kepatuhan terhadap terapi. Penerapan strategi pelaksanaan (SP 1–4) selama 4–5 pertemuan terbukti efektif. Disarankan perawat meningkatkan pengkajian awal dan melibatkan keluarga untuk mendukung keberhasilan perawatan. .Kata kunci: Resiko Perilaku Kekerasan, Skizofrenia ABSTRACT Risk of Violent Behavior (RVB) is a condition in which an individual has the potential to perform actions that may harm themselves or others, often accompanied by uncontrolled anger and restlessness. This study aimed to describe a comparison of nursing care provided to two clients, Mr. J and Mr. N, with RVB in the Singgahan Community Health Center area. This study used a descriptive design with a case study approach. Data collection techniques included interviews, observations, and medical record documentation. The subjects consisted of two clients aged 44 and 38 years, both diagnosed with schizophrenia and at risk of violent behavior. The study was conducted in March 2025 with a minimum of four visits, applying the nursing care process, including assessment, diagnosis, planning, implementation, and evaluation. The results showed that both clients had the same nursing diagnosis, namely risk of violent behavior, with psychotic symptoms such as talking to themselves, suspiciousness, and aggressive behavior. Interventions included relaxation techniques, verbal control, emotional management, and medication adherence. Evaluation indicated improvement in the clients’ ability to recognize and control violent behavior, as well as adherence to treatment. The implementation of strategies (SP 1–4) over 4–5 sessions proved effective. It is recommended that nurses enhance initial assessments and involve families to improve care outcomes. Keywords: Risk of Violent Behavior, Schizophren