Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

GAMBARAN TINGKAT DEPRESI PADA REMAJA YANG AKTIF BERORGANISASI DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN X BANYUWANGI: Description Of Depression Levels In Active Adolescent Organized In X Vocational High School In Banyuwangi Gayatri Rahma Dewi; Susy Katikana Sebayang; Meirina Hapsah; Ary’s Kusumaayu Purwoningrum
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 3 No. 1 (2020): OCTOBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v3i1.48

Abstract

ABSTRACTDepression is a feeling of emptiness and sadness that leads to decreased interest in happy activities, resting and eating irregularly, decreased concentration, guilt to yourself, and the emergence of suicidal thoughts. Adolescence is a transitional phase of children's life and adult life can be seen from the growth and development of the body's biological and psychological. Adolescents in Indonesia aged at 15-19 years experience moderate depressive symptoms reaching 22% and severe depression symptoms reaching 7.2%. The purpose of this study was to see a picture of depression in adolescents at X vocational high school in Banyuwangi. This research method uses descriptive research with a quantitative approach. The level of adolescent depression at X vocational high school in Banyuwangi was measured using the Beck Depression Inventory-II. Results: 29.4% of adolescents had mild depression, 17.6% of adolescents had moderate depression, and 2% of adolescents had major depression. The conclusion of this study is depression in adolescents at X vocational high school in Banyuwangi has the highest level of minimal depressive symptoms. Severe depression that occurs in adolescents needs to be treated immediately so that it does not threaten their future.Keywords: Depression, Adolescent, Beck Depression Invetory-II ABSTRAKDepresi adalah perasaan hampa dan sedih hingga menurunnya minat pada kegiatan yang membuat senang, istirahat dan makan tidak teratur, konsentrasi menurun, rasa bersalah dalam diri, dan munculnya keinginan untuk bunuh diri. Masa remaja adalah fase peralihan dari kehidupan anak-anak dan masa kehidupan orang dewasa dapat dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan biologis pada tubuh dan psikologis. Remaja di Indonesia pada usia 15-19 tahun mengalami gejala depresi tingkat sedang mencapai 22% dan gejala depresi tingkat berat mencapai 7,2%. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat gambaran tingkat depresi pada remaja yang aktif berorganisasi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) X di Banyuwangi. Metode penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Tingkatan depresi remaja di SMK X di Banyuwangi diukur menggunakan Beck Depression Inventory-II. Hasil dari penelitian menunjukan sebanyak 29,4% remaja mengalami depresi ringan, 17,6% remaja mengalami depresi sedang, dan 2% remaja mengalami depresi berat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah depresi pada remaja SMK X di Banyuwangi memiliki tingkat gejala depresi minimal tertinggi. Depresi berat yang terjadi pada remaja perlu segera ditangani agar tidak mengancam masa depannya.Kata kunci: depresi, remaja, Beck Depression Invetory-II
PENGARUH EMOTIONAL INTELLIGENCE DAN MOTIVASI TERHADAP EE DENGAN KEPUASAN SEBAGAI VARIABEL MEDIASI KARYAWAN RSU X SIDOARJO Meirina Hapsah; Dewie Tri Wijayati Wardoyo; Andre Dwijanto Witjaksono
Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi, & Akuntansi (MEA) Vol 9 No 2 (2025): Edisi Mei - Agustus 2025
Publisher : LPPM STIE Muhammadiah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31955/mea.v9i2.6122

Abstract

Persaingan antar rumah sakit dalam meningkatkan kepuasan pelanggan menuntut strategi yang efektif, salah satunya melalui upaya mempertahankan karyawan. Di tengah meningkatnya jumlah rumah sakit, ketidakseimbangan antara pertumbuhan institusi dan kepuasan pelanggan menjadi tantangan signifikan. Sebanyak 77% tenaga kerja di Indonesia mempertimbangkan untuk mengundurkan diri, dengan alasan utama ketidaksesuaian gaji. Oleh karena itu, perencanaan sumber daya manusia yang strategis menjadi krusial. Employee Engagement (EE) dipandang sebagai faktor penting dalam mendorong kinerja dan keberlangsungan organisasi, mengingat sebagian besar waktu karyawan dihabiskan untuk bekerja. RSU X Sidoarjo mengalami peningkatan jumlah pengunduran diri karyawan selama tiga tahun terakhir yaitu 2% (2022), 3% (2023), dan 4% (2024). Fenomena ini menuntut evaluasi menyeluruh terhadap hubungan organisasi dan karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Emotional Intelligence (EI) dan motivasi terhadap Employee Engagement (EE) dengan Kepuasan Kerja (KK) sebagai variabel mediasi. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan sampling sebanyak 174 karyawan, menggunakan teknik simple random sampling. Analisis data dilakukan melalui Structural Equation Modeling (SEM) dengan bantuan IBM SPSS Statistics 25 dan SmartPLS 4. Hasil menunjukkan bahwa EI tidak berpengaruh terhadap KK, tetapi berpengaruh signifikan terhadap EE. Motivasi berpengaruh signifikan terhadap KK, namun tidak terhadap EE. KK terbukti berpengaruh terhadap EE, serta memediasi pengaruh motivasi terhadap EE, namun kepuaasan kerja tidak memediasi pada pengaruh EI terhadap EE. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya manajemen sumber daya manusia yang terstruktur, termasuk sistem penghargaan dan punishment, promosi, penilaian kinerja, pelatihan, serta survei KK.