Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Integration of Indigenous Knowledge and Modern Science: An Ethnopharmacological Study of Lansano (Pterocarpus indicus Willd.) as a Traditional Medicine in West Sumatra Nurhasnah; Media Roza; Lince Meriko; Indah Kencanawati; Lufri; Abdul Razak
Al Jahiz Vol 6 No 2 (2025): Al-Jahiz: Journal of Biology Education Research, July-December 2025
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training UIN Jurai Siwo, Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/al-jahiz.v6i2.11005

Abstract

This study explores ethnoscientific practices surrounding Lansano (Pterocarpus indicus Willd.), a medicinal plant traditionally used in West Sumatra, Indonesia. Qualitative ethnographic methods, including direct observation and semi-structured interviews, were used with 50 respondents from various regions, including Padang, Pariaman, Solok, Sijunjung, Pasaman, Padang Panjang, and Pesisir Selatan. Participants included local healers, herbal practitioners, and community members known to use Lansano for medicinal purposes. This study employed a quantitative ethnobotanical approach with two main parameters: Use Value (UV) and Informant Consensus Factor (ICF). This study revealed a significant relationship between traditional practices and scientific evidence in the use of Lansano as an herbal medicine. This study is the first step in integrating Lansano ethnobotanical practices with bioactive data for the development of local culture-based phytopharmaceuticals. Use Value (UV) analysis showed that the leaves had the highest utilization value (UV = 0.70), followed by the roots (0.44), sap (0.36), and stems (0.30). Meanwhile, Informant Consensus Factor (ICF) analysis showed a complete consensus (ICF = 1.00) among informants regarding the use of lansano for various ailments, with the highest frequency of use for mouth ulcers, followed by diarrhea, menstrual pain, and burns. These results confirm that lansano has high ethnopharmacological value and is widely believed to be a primary traditional medicine in West Sumatra.
Pendidikan Islam di Singapura: Islamic Education in Singapore Nurhasnah; Dede Rosyada; Muhammad Zalnur; Hamzah Irfanda; Ifkar Rasyid
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 7 No. 7: July 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v7i7.5618

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana pendidikan Islam berkembang di Singapura, dari awal kedatangan Islam hingga saat ini. Metode yang digunakan adalah studi pustaka (library research). Singapura, yang merupakan sebuah negara kota, berdiri pada 9 Agustus 1965 setelah memisahkan diri dari federasi Malaysia. Islam diperkirakan masuk ke Singapura pada abad ke-10 hingga ke-14 Masehi, seiring dengan berkembangnya perdagangan internasional di semenanjung Malaya. Populasi Muslim di Singapura sekitar 15% dari total penduduk yang berjumlah sekitar 4,5 juta orang, termasuk pekerja asing yang memiliki izin tinggal. Etnis di Singapura terdiri dari 77% keturunan China, 14% keturunan Melayu, 7,6% keturunan India, dan 1,4% lainnya. Pendidikan Islam di Singapura terbagi menjadi tiga jenis: pendidikan separuh masa, pendidikan sepenuh masa, dan program Islam awam. Pemerintah Singapura saat ini bersikap ketat dan keras terhadap para aktivis Islam, termasuk mendeportasi mahasiswa Islam yang dianggap berkomitmen terhadap perkembangan dakwah. Akibatnya, aktivitas keislaman di Singapura sangat terbatas. Berbeda dengan pemerintah Indonesia yang memasukkan pendidikan agama sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, pemerintah Singapura, sebagai negara sekuler dengan keragaman agama dan etnis, menganggap bahwa urusan agama dan pendidikan agama adalah tanggung jawab pribadi warganya, bukan negara.