Edi Yusrianto
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Globalization In Anthony Giddens' Perspective: Analysis Of Global Interconnections and Their Relevance In The Context of Islamic Society Irwan Suanto; Edi Yusrianto
JURNAL ARMADA PENDIDIKAN Vol 4 No 2 (2026): JURNAL ARMADA PENDIDIKAN
Publisher : Kilau Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60041/jap.v4i2.461

Abstract

Globalization is a multidimensional phenomenon that not only includes economic aspects, but also social, cultural, and political dimensions. Anthony Giddens, as a leading sociologist, made an important contribution to understanding globalization through the concept of global interconnectedness rooted in modernity. This article aims to analyze the concept of globalization according to Giddens, specifically through the framework of time-space distancing, interdependence, and global–local dialectics, and examine its relevance in the context of Muslim society. This study uses a qualitative approach through a literature study by analyzing Giddens' main works as well as relevant secondary literature. The results of the study show that globalization in Giddens' perspective is not just a process of homogenization, but a complex dynamic that involves a reciprocal transformation between global structures and local contexts. From an Islamic perspective, global interconnectedness is in line with the principle of human interconnectedness (ta'āruf), but it also requires a critical attitude in filtering out values that are contrary to Islamic teachings. Globalization presents challenges as well as opportunities for Muslim communities, especially in maintaining religious identity while actively participating in the global order. This study concludes that a critical, adaptive, and value-oriented understanding of globalization is essential for Muslim societies to be able to play a constructive role in the global arena without losing its normative foundation.
Analisis Fungsi Sosial Agama Dan Pendidikan Dalam Perspektif Émile Durkheim Dan Implikasinya Bagi Pendidikan Agama Islam Faqih Faqih; Edi Yusrianto
Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 7 No. 5 (2026): Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP)
Publisher : Lembaga Riset dan Inovasi Almatani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55583/jkip.v7i5.2558

Abstract

Artikel ini bertujuan menganalisis fungsi sosial agama dan pendidikan dalam perspektif teori struktural fungsional Émile Durkheim serta mengkaji relevansi dan batasannya terhadap Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) melalui analisis terhadap karya-karya utama Durkheim dan berbagai literatur yang relevan dalam bidang sosiologi dan pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa menurut Durkheim agama berfungsi membentuk kesadaran kolektif (collective conscience), memperkuat solidaritas sosial, serta menjaga integrasi dan keteraturan masyarakat. Sementara itu, pendidikan berfungsi sebagai agen sosialisasi moral yang mentransmisikan nilai, norma, dan budaya kepada generasi muda guna mempertahankan keberlangsungan sistem sosial. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam, pemikiran Durkheim relevan untuk menjelaskan peran pendidikan dalam pembentukan karakter, penguatan moderasi beragama, serta pembangunan kohesi sosial. Namun demikian, terdapat perbedaan mendasar antara perspektif Durkheim dan Islam, terutama terkait sumber legitimasi nilai dan tujuan pendidikan. Durkheim menempatkan masyarakat sebagai sumber pembentukan nilai moral, sedangkan Islam menempatkan wahyu sebagai sumber utama nilai dan norma kehidupan. Oleh karena itu, teori Durkheim dapat dimanfaatkan sebagai instrumen analisis sosial, tetapi tidak dapat menggantikan landasan normatif dan teologis yang menjadi dasar Pendidikan Agama Islam.