Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERAN MATA PELAJARAN SENI TARI DALAM PEMBENTUKAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS Edi Sutardi; Rahmani Rahmani; Andi Wijaya
Gesture: Jurnal Seni Tari Vol. 13 No. 2 (2024): Gesture: Jurnal Seni Tari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gjst.v13i2.64627

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran mata pelajaran seni tari dalam pembentukan kecerdasan emosional siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA). Seni tari, sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan, menawarkan ruang ekspresi bagi siswa untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi mereka melalui gerakan yang terstruktur dan bermakna. Kecerdasan emosional, yang mencakup kemampuan memahami emosi diri dan orang lain, serta kemampuan mengatur dan mengekspresikan emosi dengan tepat, sangat penting dalam perkembangan pribadi dan sosial siswa. Studi ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus di beberapa SMA di Banjarmasin kalimantan selatan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan guru dan siswa, serta analisis dokumen terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran seni tari tidak hanya meningkatkan kemampuan siswa dalam mengekspresikan diri, tetapi juga memperkuat hubungan sosial melalui empati dan kerja sama. Seni tari juga membantu siswa dalam mengelola emosi negatif, seperti stres dan frustrasi, melalui saluran kreatif yang positif. Oleh karena itu, seni tari berperan penting dalam pembentukan kecerdasan emosional siswa di SMA dan dapat menjadi komponen penting dalam pendidikan karakter.
Simbolisme Kematian Dan Kesunyian Dalam Naskah Senja Dengan Dua Kelelawar Karya Kirdjo Muljo Edi Sutardi; Budi Dharma; Arif Hidajad
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 23, No 1: March 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v23i1.17802

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengkaji simbolisme kematian dan kesunyian dalam naskah Senja dengan Dua Kelelawar karya Kirdjo Muljo dengan menggunakan pendekatan semiotika dan hermeneutika eksistensial. Naskah ini menampilkan konflik batin tokoh-tokohnya; Ismiyati, Suwarto, dan Marsudi yang terjebak dalam ambiguitas moral dan psikologis di ruang senja, yakni batas antara kehidupan dan kematian. Simbol-simbol seperti senja, dua kelelawar, rel kereta api, dan kesunyian diinterpretasikan sebagai representasi kesadaran manusia terhadap kefanaan, rasa bersalah, dan keterasingan eksistensial. Analisis dilakukan melalui pembacaan secara intensif terhadap struktur dramatik, dialog, serta tanda-tanda visual dan atmosferik dalam teks, yang menunjukkan bahwa kematian dalam naskah ini tidak hanya berfungsi sebagai akhir biologis, tetapi juga sebagai metafora kematian spiritual dan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan. Kesunyian yang melingkupi naskah berperan sebagai medium refleksi diri yang menyingkap kegelisahan dan absurditas hidup manusia modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kirdjo Muljo menghadirkan teater sebagai ruang kontemplatif untuk menafsir ulang makna hidup, cinta, dan penderitaan dalam horizon kesadaran eksistensial.Kata kunci: simbolisme, kematian, kesunyian, eksistensialisme, Kirdjo Muljo
PERSEPSI MASYARAKAT TERHAPAD PENGGUNAAN LAMUT TATAMBA DALAM PRAKTIK SPRITUAL DI DESA SUNGAI TUAN KECAMATAN ASTAMBUL KABUPATEN BANJAR Novia Winda; Erni Susilawati; Edi Sutardi
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i1.605

Abstract

Lamut tumbuh dan berkembang di masyarakat Banjar sebagai sebuah tradisi keluarga secara turun-temurun. Lamut dikenal sebagian masyarakat sebagai pertunjukkan untuk tatamba atau pengobatan maupun hiburan. Sebagai sebuah tradisi, lamut memiliki kelengkapan upacara tersendiri berupa tatungkal (sesajen) yang digunakan selama upacara, terdiri dari empat puluh satu macam wadai (kue) yang diletakkan di ancak (tempat yang terbuat dari daun kelapa berbentuk persegi empat), piduduk (bahan-bahan mentah untuk membuat sesajen), dan kelengkapan lainnya. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengetahui persepsi masyarakat dalam balamut batatamba dan (2) Mengetahui proses acara balamut tatamba. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan hermeutika. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, dokumentasi, dan kajian kepustakaan. Langkah-langkah penelitian dilakukan dengan pengumpulan dokumen, pengamatan, merekam, dan mencatat hasil wawancara. Analisis data dilakukan dengan melakukan identifikasi, klasifikasi, rekontruksi, dan menarik simpulan. Keabsahan data penelitian diuji dengan tranferbilitas. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa: (1) Persepsi masyarakat dalam balamut batatamba di desa Sungai Tuan adalah wajib dilaksanakan bagi keturunan tertentu. Jika tidak melaksanakan takutnya akan sakit, yang tidak bisa disembuhkan secara medis. Cenderungnya keluarga palamutan melaksanakan lamut ketika anak kecil. Ketika tasmiyah anak dilaksanakan siang hari, maka lamut diadakan pada malam hari dan (2) Proses acara lamut tatamba (pengobatan) diperlukan beberapa properti yang digunakan sebagai kelengkapan upacara. Kelengkapan upacara ini berupa tatungkal (sesajen) yang digunakan selama upacara, terdiri dari empat puluh satu macam wadai (kue) yang diletakkan di ancak (tempat yang terbuat dari daun kelapa berbentuk persegi empat), nasi lemak, dan ayam hitam, piduduk (bahan-bahan mentah untuk membuat sesajen), dan kelengkapan lainnya.