Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

EKOLOGI SASTRA PADA CERITA ANAK KALIMATAN SELATAN ‘DOA UNTUK AMANG KANI’ KARYA NURUL MAKIAH Erni Susilawati; Novia Winda; Heppy Lismayanti
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 7 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v7i1.480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekologi alam Kalimantan Selatan dalam cerita anak yang berjudul ‘Doa Untuk Amang Kani’ karya Nurul Makiah. Karya sastra dibutuhkan oleh alam sebagai sarana publikasi dan sarana dalam penyampaian gagasan tentang alam dan pelestariannya. Ekologi alam dan ekologi budaya pada cerita anak Kalimantan Selatan yang berjudul ‘Doa Untuk Amang Kani’ karya Nurul Makiah ini patut digambarkan sebagai bentuk apresiasi terhadap sastra yang peduli terhadap kelestarian alam sekitar. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan ekologis dengan jenis penelitian kualitatif. Hasil penelitian ditemukan bahwa ekologi sastra Masyarakat Kalimantan Selatan terbagi menjadi 2 yakni, a) sastra yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan yang meliputi menanam pohon, merawat tanaman hiyas, dan keinginan mengetahui berbagai jenis tumbuhan dan manfaatnya, b) sastra yang berhubung dengan pemanfaatan meliputi: pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan kerajinan, bahan bangunan, obat-obatan, dan penjaga ekosistem alam.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHAPAD PENGGUNAAN LAMUT TATAMBA DALAM PRAKTIK SPRITUAL DI DESA SUNGAI TUAN KECAMATAN ASTAMBUL KABUPATEN BANJAR Novia Winda; Erni Susilawati; Edi Sutardi
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i1.605

Abstract

Lamut tumbuh dan berkembang di masyarakat Banjar sebagai sebuah tradisi keluarga secara turun-temurun. Lamut dikenal sebagian masyarakat sebagai pertunjukkan untuk tatamba atau pengobatan maupun hiburan. Sebagai sebuah tradisi, lamut memiliki kelengkapan upacara tersendiri berupa tatungkal (sesajen) yang digunakan selama upacara, terdiri dari empat puluh satu macam wadai (kue) yang diletakkan di ancak (tempat yang terbuat dari daun kelapa berbentuk persegi empat), piduduk (bahan-bahan mentah untuk membuat sesajen), dan kelengkapan lainnya. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengetahui persepsi masyarakat dalam balamut batatamba dan (2) Mengetahui proses acara balamut tatamba. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan hermeutika. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, dokumentasi, dan kajian kepustakaan. Langkah-langkah penelitian dilakukan dengan pengumpulan dokumen, pengamatan, merekam, dan mencatat hasil wawancara. Analisis data dilakukan dengan melakukan identifikasi, klasifikasi, rekontruksi, dan menarik simpulan. Keabsahan data penelitian diuji dengan tranferbilitas. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa: (1) Persepsi masyarakat dalam balamut batatamba di desa Sungai Tuan adalah wajib dilaksanakan bagi keturunan tertentu. Jika tidak melaksanakan takutnya akan sakit, yang tidak bisa disembuhkan secara medis. Cenderungnya keluarga palamutan melaksanakan lamut ketika anak kecil. Ketika tasmiyah anak dilaksanakan siang hari, maka lamut diadakan pada malam hari dan (2) Proses acara lamut tatamba (pengobatan) diperlukan beberapa properti yang digunakan sebagai kelengkapan upacara. Kelengkapan upacara ini berupa tatungkal (sesajen) yang digunakan selama upacara, terdiri dari empat puluh satu macam wadai (kue) yang diletakkan di ancak (tempat yang terbuat dari daun kelapa berbentuk persegi empat), nasi lemak, dan ayam hitam, piduduk (bahan-bahan mentah untuk membuat sesajen), dan kelengkapan lainnya.
Beyond Ritual Practice: Moral Value Internalization through Dawn Halaqah in Islamic Boarding Schools Hasni Noor; Murdan Murdan; Muhdi Muhdi; Erni Susilawati; Galuh Nashrulloh Kartika MR; Suraijiah Suraijiah
Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 9 No. 1 (2026): Transformative Islamic Education in Pesantren and Madrasah
Publisher : Universitas Pesantren Kh abdul Chalim Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/nzh.v9i1.262

Abstract

Morals are the primary foundation for students' character in Islamic boarding schools, but modern challenges, such as globalization and the development of information technology, may weaken the internalization of moral values. In this case, the dawn halaqah activity at the Darul Ilmi Banjarbaru Islamic Boarding School is a vital strategy to instill moral values through direct experience, material appreciation, and the example of the supervisors. This research aims to examine the process of internalizing moral values through dawn halaqah as a medium for students' character development. The approach used is a phenomenological qualitative approach, with data collected through in-depth interviews with ustaz, pesantren administrators, and students, as well as participatory observation and documentation. Data analysis is carried out inductively through the stages of reduction, presentation, and conclusion drawing. The results of the study show that dawn halaqah plays a significant role in shaping the attitudes and behaviors of students, including honesty, tawadhu’, responsibility, patience, discipline, tolerance, and emotional control, thereby creating a harmonious and conducive pesantren environment. The internalization process occurs through regular habituation, spiritual reflection, and the example of the supervisor, strengthening spirituality and building students' emotional and social maturity. These findings confirm the effectiveness of routine religious activities as a medium for character development and show that a hands-on and exemplary approach can strengthen the internalization of moral values. The implications of this research can serve as a basis for developing character education strategies in other Islamic boarding schools and religious education institutions, as well as guide teachers in designing activities that are more contextual, systematic, and oriented towards the formation of a complete character. The uniqueness of this study lies in the discovery that the intensity of student involvement in the dawn halaqah is a key factor that directly accelerates the internalization of moral values. This finding has not been widely reported in previous research.
Educational Values in the Symbolic Meaning of the Baharin Traditional Ceremony among the Meratus Dayak Community in Mantuyan Village, Halong District, Balangan Regency Lastaria; Irni Cahyani; Erni Susilawati; Milawati; Ahmad Syarif
Jurnal Hadratul Madaniyah Vol. 13 No. 2 (2026): Jurnal Hadratul Madaniyah
Publisher : ​Institute for Researches and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jhm.v13i2.12983

Abstract

This study examines the symbolic meaning in the traditional ceremony of the Dayak Maratus tribe which aims to describe the meaning and symbols used in the traditional ceremony of Baharin Dayak Meratus in Mantuyan Village, Halong District, Balangan Regency. This study uses a literary semiotic approach to systematically examine knowledge about signs or symbols, symbols, and the process of creation. The type of research is qualitative with descriptive method. The subjects in this study were people or community leaders who had experience or knowledge of Dayak traditional ceremonies in Mantuyan Village. The data collection technique in this study is a data reduction technique as an effort to process the focus of the study, abstracting, transforming data, and presenting data from the process of collecting and organizing. The results of this study are classified into two parts, namely the classification of meanings and symbols in the Baharin traditional ceremony. From the results of customary symbols there are two parts, namely: (a) Verbal symbols there are thirteen discussions, and (b) Non-verbal symbols have six discussions. Judging from the results of the meaning of verbal and non verbal symbols in the traditional ceremony of Baharin Dayak Meratus, 19 discussions.