Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Keterlibatan Perempuan Dalam Melestarikan Tenun Ikat Di Desa Nele Wutung, Dusun Kode, RT 01/RW 001 Alfian Harbiyanto; Higinus Wilbrot
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2447

Abstract

Penelitian ini mengkaji bentuk keterlibatan perempuan, faktor pendorong dan penghambat, serta dampak kontribusi perempuan dalam proses produksi dan pelestarian tenun ikat di Desa Nele Wutung, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.Tenun ikat di Desa Nele Wutung merupakan warisan budaya penting yang kelestariannya sangat bergantung pada peran aktif perempuan. Penelitian ini melalui pendekatan kualitatif dengan metode observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual, ditemukan bahwa perempuan di Desa Nele Wutung memiliki keterlibatan menyeluruh dalam setiap tahapan produksi tenun ikat, mulai dari perancangan motif, pengikatan benang (ikat), proses menenun, pengawasan kualitas, hingga pengemasan produk. Keterampilan dan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun menjadi fondasi utama peran mereka. Faktor-faktor yang mendorong keterlibatan perempuan antara lain dukungan kuat dari keluarga dan masyarakat, keinginan untuk meningkatkan pendapatan keluarga, serta rasa bangga terhadap produk tenun ikat yang mereka hasilkan. Namun, terdapat pula faktor penghambat seperti keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam inovasi, akses terbatas terhadap sumber daya dan fasilitas, persaingan dengan produk tekstil lain, serta kurangnya promosi dan pemasaran yang efektif. Keterlibatan perempuan ini memberikan dampak positif signifikan, meliputi pelestarian pengetahuan tradisional, peningkatan kualitas dan keunikan produk tenun ikat, pemberdayaan ekonomi perempuan, penguatan identitas budaya komunitas, serta potensi pengembangan pariwisata budaya di Desa Nele Wutung. Mengingat tantangan modernisasi, penelitian ini mengidentifikasi kebutuhan akan strategi peningkatan keterlibatan melalui pelatihan berkelanjutan, fasilitasi akses sumber daya, penguatan jaringan pemasaran digital dan kolaborasi, pembentukan kelompok usaha, serta dukungan kebijakan pemerintah. Penelitian ini menegaskan bahwa perempuan adalah aktor kunci dalam menjaga dan mengembangkan tenun ikat Nele Wutung. Rekomendasi diberikan untuk mendukung peran mereka agar tenun ikat dapat terus lestari sebagai warisan budaya sekaligus sumber kesejahteraan masyarakat.
Peranan Komunikasi Politik Partai dalam Meningkatkan Pendidikan Politik bagi Masyarakat Kabupaten Sikka Higinus Wilbrot; Yusuf Yusuf
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 3 (2026): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/7hnn0e46

Abstract

Political education is a crucial instrument for fostering political awareness and participation among citizens who are critical and rational. In Sikka Regency, East Nusa Tenggara, political parties play a strategic role as primary agents in conducting political communication and education. This study aims to: (1) Analyze the forms and channels of political communication used by political parties in Sikka Regency; (2) Assess the effectiveness of party political communication in enhancing public political education; and (3) Identify the structural and cultural obstacles encountered in this political communication process. The study employs a descriptive qualitative approach. Primary data were obtained through in-depth interviews with political party officials (at the branch and regional levels in Sikka), community leaders, local academics, and the general public in both urban areas (Maumere) and island or remote inland areas. Secondary data were gathered from documents provided by the General Elections Commission (KPU) and the Sikka Regency National Unity and Politics Agency (Kesbangpol), as well as from social media sources. The findings indicate that political communication conducted by parties in Sikka Regency utilizes two main approaches: formal communication (legislative recess periods, branch conferences, and program dissemination) and cultural communication rooted in local wisdom (such as *Kula Babong* or traditional deliberation practices). Digital media, including Facebook and WhatsApp groups, are also being extensively used to reach young voters. However, the effectiveness of this political communication in delivering substantive political education remains moderate. This is attributed to the prevalence of communication that is seasonal in nature—occurring primarily in the lead-up to general or regional elections—and the persistence of a pragmatic political culture (characterized by "money politics"). The study concludes that political communication based on local wisdom needs to be institutionalized on a sustainable basis—beyond election periods—to foster transformative political education in Sikka Regency.