Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Meningkatkan pengetahuan dan skill terkait TB, PTM dan gizi melalui pemberdayaan dan pelatihan kader kesehatan Siswanto Siswanto; Irfansyah Baharuddin Pakki; Muh Amri Arfandi; Muhamad Zakki Saefurrohim; Akhmad Azmiardi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 3 (2025): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i3.30727

Abstract

Abstrak Wilayah kerja Puskesmas Palaran di Samarinda dihadapkan dengan berbagai tantangan kesehatan dalam 3 tahun terakhir, termasuk tingginya angka penyakit menular seperti tuberkulosis, serta masalah stunting dan malnutrisi pada balita yang diperparah oleh komplikasi kehamilan pada ibu dengan obesitas, hipertensi, dan diabetes. Program pengabdian masyarakat ini dirancang untuk memperkuat kapasitas kader kesehatan melalui ceramah, demonstrasi serta praktik langsung, sehingga mereka dapat berkontribusi secara efektif dalam pencegahan dan deteksi dini masalah kesehatan masyarakat. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 16 November 2024 bertempat di Puskesmas Palaran, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda. Sebanyak 20 orang kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Palaran, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda menjadi sasaran dalam kegiatan ini. Pemberian edukasi dilakukan melalui presentasi materi, pembagian modul kesehatan serta praktik pemeriksaan kesehatan oleh kader, yang diawali dengan pemberian pre-test kemudian pemberian post-test pada sesi akhir. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader yang ditandai dengan peningkatan jumlah kader yang memiliki pengetahuan yang baik setelah mendapatkan edukasi dan pelatihan (TB: 5 menjadi 16 orang (220%), PTM: 13 menjadi 18 orang (38%), Antropometri: 16 menjadi 20 orang (25%)). Hasil tersebut menunjukkan adanya pengaruh positif dari pemberian edukasi terhadap tingkat pengetahuan kader kesehatan terkait TB, PTM (HT dan DM) serta Antropometri (Uji wilcoxon : p < 0.05). Kader posyandu kini lebih memahami pentingnya deteksi dini TBC, pemantauan pertumbuhan balita menggunakan antropometri, dan pencegahan serta pengelolaan penyakit tidak menular. Direkomendasikan untuk melaksanakan pelatihan kader secara rutin dengan materi terkini, didukung oleh monitoring dan evaluasi untuk memastikan penerapan di lapangan. Kata kunci: edukasi; hipertensi; kader kesehatan; pemberdayaan; tuberkulosis Abstract Palaran Public Health Center (Puskesmas Palaran) in Samarinda has faced various health challenges over the past three years, including a high incidence of infectious diseases such as tuberculosis (TB), as well as issues related to stunting and malnutrition among children under five. These conditions are further exacerbated by pregnancy complications in mothers with obesity, hypertension, and diabetes. This community service program was designed to strengthen the capacity of health cadres through lectures, demonstrations, and hands-on practice, enabling them to contribute effectively to the prevention and early detection of public health problems. The activity was conducted on November 16, 2024, at the Palaran Public Health Center, Palaran Sub-district, Samarinda City. A total of 20 health cadres in the Palaran working area participated in this initiative. The educational sessions were delivered through material presentations, distribution of health modules, and practical health check-ups conducted by the cadres. These activities were preceded by a pre-test and concluded with a post-test. The results showed an increase in cadre knowledge, as indicated by the rise in the number of cadres with good understanding following the education and training sessions (TB: from 5 to 16 cadres, a 220% increase; NCDs: from 13 to 18 cadres, a 38% increase; Anthropometry: from 16 to 20 cadres, a 25% increase). These findings indicate a positive impact of the educational intervention on cadre knowledge related to TB, non-communicable diseases (NCDs: hypertension and diabetes), and anthropometric measurement (Wilcoxon test: p < 0.05). As a result, Posyandu cadres now have a better understanding of the importance of early detection of TB, monitoring child growth using anthropometry, and the prevention and management of non-communicable diseases. It is recommended that cadre training be conducted regularly with updated materials, supported by monitoring and evaluation to ensure effective implementation in the field.. Keywords: education, empowerment, health cadres, hypertension, tuberculosis
Analisis Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kinerja Pegawai Puskesmas di Kota Samarinda Agustina Simanangi Pamowa; Ratno Adrianto; Akhmad Azmiardi; Irfansyah Baharuddin Pakki; Rahmat Bakhtiar; Ida Ayu Indira Dwika Lestari
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.44055

Abstract

Tantangan yang dihadapi Puskesmas dalam meningkatkan kinerja karyawan cukup kompleks. Beberapa kendala yang sering dihadapi termasuk beban kerja yang tinggi, keterbatasan sumber daya manusia, serta fasilitas yang kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja pegawai Puskesmas di Kota Samarinda. Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini ialah seluruh pegawai Puskesmas Sidomulyo, Puskesmas Remaja, Puskesmas Karang Asam dan Puskesmas Segiri dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sebanyak 169 orang. Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisa univariat dengan distribusi frekuensi, analisa bivariat dengan uji chi square dan analisa multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan faktor yang berhubungan adalah kompetensi (p=0,010), motivasi (p=0,017), kepemimpinan (p=0,020), disiplin kerja (p=0,005), budaya organisasi (p=0,003) dan lingkungan kerja (p=0,011). Sedangkan faktor yang tidak berhubungan ialah kemampuan (p=0,228) dan penghargaan (p=0,420). Faktor yang paling dominan dalam penelitian ini ialah kompetensi (p = 0,003, OR= 18,289) yang berarti pegawai dengan kompetensi yang baik memiliki kemungkinan 18,3 kali lebih besar untuk memiliki kinerja yang baik dibandingkan dengan pegawai yang kompetensinya kurang.
Analisis Kinerja Puskesmas dalam Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Kesehatan dengan Pendekatan Balanced Scorecard Pada Puskesmas Sei Siring Jami’an Jami’an; Ratno Adrianto; Rahmat Bakhtiar; Jaya Mualimin; Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Akhmad Azmiardi
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.58041

Abstract

Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan merupakan indikator kinerja utama pelayanan dasar yang wajib dicapai oleh Puskesmas. Pengukuran kinerja yang komprehensif diperlukan untuk mengevaluasi pencapaian tersebut, salah satunya melalui pendekatan Balanced Scorecard (BSC). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan terhadap pencapaian SPM kesehatan di Puskesmas Sei Siring Kota Samarinda. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan teknik total sampling terhadap 55 pegawai. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan keempat perspektif BSC berpengaruh signifikan terhadap pencapaian SPM (p=0,001) dengan nilai adjusted R² sebesar 0,301, yang berarti model mampu menjelaskan 30,1% variasi kinerja. Namun secara parsial, seluruh variabel tidak berpengaruh signifikan (p>0,05) meskipun memiliki arah hubungan positif. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan menunjukkan kontribusi relatif paling besar serta berhubungan signifikan pada analisis bivariat (OR=4,148; p=0,012). Secara deskriptif, sebagian besar responden menilai pencapaian SPM dalam kategori baik, meskipun masih terdapat kesenjangan pada beberapa indikator layanan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa Balanced Scorecard dapat digunakan sebagai alat evaluasi kinerja Puskesmas secara komprehensif, dengan penguatan pada aspek pembelajaran dan pertumbuhan sebagai strategi utama peningkatan kinerja pelayanan kesehatan. Kata Kunci: Kinerja Puskesmas, Standar Pelayanan Minimal, Balanced Scorecard, Pelayanan Kesehatan Primer
Analisis Model Regresi Ketepatan Waktu Vaksinasi Meningitis Pada Jamaah Umrah di Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Samarinda Alwan Zakki Nozomi; Irfansyah Baharuddin Pakki; Akhmad Azmiardi; Ratno Adrianto; Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Yadi Yadi
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.60049

Abstract

Timeliness of meningitis vaccination among Umrah pilgrims remains an important public health issue due to the high risk of Neisseria meningitidis transmission during umrah activities. Although meningitis vaccination is a mandatory requirement for Umrah pilgrims, many individuals still receive the vaccine close to their departure date, resulting in suboptimal immune protection. This study aimed to analyze the factors associated with the timeliness of meningitis vaccination among Umrah pilgrims at the Health Quarantine Office Samarinda in 2026. A quantitative study with a cross-sectional design was conducted involving 306 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using structured questionnaires and vaccination records, then analyzed using univariate, bivariate, and multivariate logistic regression analyses. The findings revealed that individual factors, including knowledge, perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, and attitudes, were significantly associated with vaccination timeliness. External factors such as access to information, travel agent support, and family support, as well as structural factors including distance accessibility, procedural convenience, and availability of health facilities, also demonstrated significant associations with timely vaccination. Multivariate analysis identified the most dominant factor influencing vaccination timeliness among Umrah pilgrims. The study concludes that the timeliness of meningitis vaccination is influenced by a combination of individual, social. Keywords : meningitis vaccination, timeliness, Umrah pilgrims.
Analisis Faktor -Faktor yang Berhubungan dengan Upaya Pencegahan Infeksi Menular Seksual Pada Anak Buah Kapal Tug Boat di Perairan Sungai Mahakam Nunuk Kusuma Wardani; Irfansyah Baharuddin Pakki; Akhmad Azmiardi; Ratno Adrianto; Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Iryani Kamaruddin
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.60262

Abstract

Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih banyak ditemukan pada kelompok pekerja dengan mobilitas tinggi, termasuk Anak Buah Kapal (ABK) Tug Boat di Perairan Sungai Mahakam. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan upaya pencegahan IMS pada ABK Tug Boat. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional terhadap 193 responden yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-square serta regresi logistik ganda. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa lama berlayar, frekuensi pulang, pengetahuan IMS, tekanan sebaya, dukungan sosial, persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi hambatan, isyarat bertindak, keyakinan diri, lama berlabuh, dan perilaku seksual berhubungan dengan upaya pencegahan IMS (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa frekuensi pulang merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi upaya pencegahan IMS (OR=277,079; 95%CI=12,277–6253,514; p<0,001), diikuti tekanan sebaya, persepsi keseriusan, persepsi hambatan, keyakinan diri, dan perilaku seksual. Temuan ini menunjukkan perlunya program pencegahan IMS yang komprehensif melalui penguatan dukungan sosial dan peningkatan akses layanan kesehatan reproduksi. Kata kunci: Anak Buah Kapal, Health Belief Model, Infeksi Menular Seksual, pencegah
Analysis of Risk Factors for Pulmonary Function Disorders among Workers at PT X Coal Division, East Kalimantan Lisa Septiana; Irfansyah Baharuddin Pakki; Akhmad Azmiardi; Ratno Adrianto; Iriyani K.; Ida Ayu Indira Dwika Lestari
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 3 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i3.6146

Abstract

Pulmonary function impairment remains a critical occupational health issue among coal industry workers due to prolonged exposure to airborne pollutants. Despite the implementation of occupational health regulations, respiratory disorders continue to be prevalent, leading to decreased work capacity and increased health risks. Identifying key risk factors is essential to developing targeted preventive measures. Objective: This study aims to analyze the relationship between occupational risk factors and pulmonary function impairment among workers at PT X Coal Division, East Kalimantan. A cross-sectional study was conducted on 183 coal division workers selected through cluster random sampling. Data were obtained through structured questionnaires, spirometry tests, and workplace dust level measurements. Multivariate logistic regression analysis was used to determine the most influential factors associated with pulmonary function impairment. The analysis identified significant associations between pulmonary function impairment and a history of other diseases (p = 0.001; OR = 11.709; 95% CI: 2.901–47.257), work tenure of ≥3 years (p = 0.032; OR = 3.319; 95% CI: 1.109–9.934), heavy physical workload (p = 0.036; OR = 2.807; 95% CI: 1.071–7.361), and inadequate personal protective equipment (PPE) usage (p = 0.015; OR = 2.566; 95% CI: 1.205–5.463). Other factors such as age, body mass index (BMI), work location, dust exposure, exercise habits, and smoking were not significantly associated with pulmonary function impairment. Work-related exposures and individual health conditions play a crucial role in pulmonary function impairment among coal workers. Strengthening workplace safety measures, enforcing PPE compliance, and implementing regular health screenings are necessary to mitigate respiratory risks. Ensuring a safer work environment through targeted preventive strategies is essential for protecting workers from long-term pulmonary complications while enhancing occupational health policies in the coal industry.
Analysis of Factors Related to the Incidence of Ventilator-Associated Pneumonia (VAP) in the Intensive Care Unit Yudi Jaya Cahyana; Irfansyah Baharuddin Pakki; Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Ratno Adrianto; Yadi Yadi; Akhmad Azmiardi
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 5 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i5.6628

Abstract

Ventilator-associated pneumonia (VAP) occurs in patients who have been on mechanical ventilation with an endotracheal tube (ETT) for at least 48 hours. This type of pneumonia typically arises as a result of nosocomial infections or Healthcare-Associated Infections (HAIs) and is commonly linked to the use of ventilators in hospital settings. This study was to identify the factors associated with the incidence of VAP among patients admitted to the Intensive Care Unit of Abdoel Wahab Sjahranie Hospital, Samarinda. Method: A cross-sectional study was conducted. The study population consisted of all patients who had undergone mechanical ventilation in the ICU without a prior history of pneumonia, totaling 118 respondents, using the HAIs bundle observation tool and direct observation. Chi-square and multiple logistic regression were used for statistical analysis, along with a predictive model. The results showed that the prevalence of VAP among respondents in the ICU was 5.9%. Factors significantly associated with the incidence of VAP included duration of ventilator use (p = 0.000), oral hygiene procedures (p = 0.000), head-of-bed elevation to 30–45° (p = 0.007), hand hygiene compliance (p = 0.015), and aseptic suctioning procedures (p = 0.043). The multivariate analysis identified duration of ventilator use ≥96 hours as the most dominant factor, with the highest Odds Ratio (OR = 13.975; 95% CI: 0.753–227.435). Duration of ventilator use was the most significant factor associated with an increased risk of VAP, with patients ventilated for ≥96 hours being 13 times more likely to develop VAP compared to those ventilated for <96 hours. Proper oral hygiene, appropriate head-of-bed elevation (30–45°), compliance with hand hygiene, and aseptic suctioning procedures were also found to be significantly associated with VAP incidence among ICU patients at Abdoel Wahab Sjahranie Hospital
Analysis of Factors Affecting Antiretroviral Adherence in HIV/AIDS Patients Mochamad Makin; Irfansyah Baharuddin Pakki; Akhmad Azmiardi; Ratno Adrianto; Yadi Yadi; Ida Ayu Indira Dwika Lestari
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 5 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i5.6944

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) remains a major global public health issue, with antiretroviral (ARV) therapy playing a critical role in its management. Adherence to ARV therapy is essential to suppress viral load, prevent drug resistance, and improve the quality of life of people living with HIV/AIDS (PLWHA). However, cases of non-adherence persist. At RSUD A. Wahab Sjahranie, a referral hospital in East Kalimantan, 16% of patients have been found to be non-adherent to their ARV medication. Ensuring adherence is vital to avoid complications and prevent HIV transmission. This study aims to identify and analyze the factors influencing ARV adherence among HIV/AIDS patients at the Anyelir Outpatient Clinic, RSUD A.W. Sjahranie, Samarinda. This study employed a quantitative analytical approach with a cross-sectional design. It involved 106 HIV/AIDS patients who were actively receiving antiretroviral therapy (ART). The independent variables included knowledge, self-efficacy, duration of therapy, side effects, family support, social support, and healthcare staff attitude. Data were collected using a structured questionnaire administered directly to respondents and supported by secondary data from medical records. A total sampling technique was applied, and data were analyzed using chi-square tests and logistic regression at a 95% significance level. A total of 85.8% of respondents were classified as adherent to ARV treatment. Bivariate analysis showed that knowledge (p = 0.019), family support (p = 0.018), social support (p = 0.011), healthcare staff attitude (p = 0.006), and self-efficacy (p = 0.002) were significantly associated with ARV adherence. Multivariate analysis identified family support (OR = 4.275), healthcare staff attitude (OR = 6.834), and self-efficacy (OR = 20.241) as the most influential factors. Knowledge, side effects, family support, social support, healthcare staff attitude, and self-efficacy are significant determinants of ARV adherence among PLWHA. Among these, self-efficacy emerged as the most dominant factor.
The Influence of Quality of Work Life (QWL) on Employee Performance Through Organizational Citizenship Behavior (OCB) in the Emergency Department Nafira Junaedi; Rahmat Bahtiar; Riyan Ningsih; Indah Puspitasari; Irfansyah Baharuddin Pakki; Akhmad Azmiardi
Indonesian Journal of Global Health Research Vol. 7 No. 6 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i6.961

Abstract

Achieving good employee performance requires a positive and conducive Quality of Work Life (QWL), which in turn enhances employees Organizational Citizenship Behavior (OCB) at Hospital X in Samarinda. Therefore, employees with high QWL and OCB are needed to improve hospital services. The purpose of this study is to determine and analyze the influence of Quality of Work Life on employee performance through Organizational Citizenship Behavior (OCB) as an intervening variable.This research is a quantitative study using an observational approach with a cross-sectional design. Primary data were collected through questionnaires distributed to 138 employees in the Emergency Department of Hospital X in Samarinda. Data were analyzed using SmartPLS 4.0 software.The results showed that the p-value of the Quality of Work Life variable was 0.00 < 0.05, indicating that QWL has a direct and positive effect on employee performance with a coefficient of 0.409 (40.9%). The p-value for QWL was 0.000 < 0.05, meaning QWL has a direct and positive effect on Organizational Citizenship Behavior with a coefficient of 0.611 (61.1%). The p-value for OCB was 0.000 < 0.05, indicating that OCB has a direct and positive effect on employee performance with a coefficient of 0.421 (42.1%). The p-value for QWL was 0.000 < 0.05, showing that QWL has an indirect and positive effect on employee performance through OCB with a coefficient of 0.257 (25.7%).It is recommended that the management of Hospital X in Samarinda improve employee performance by enhancing the Quality of Work Life first or through the development of Organizational Citizenship Behavior.
Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Berisiko HIV Pada Anak Buah Kapal Kargo Internasional di Muara Mahakam Muhammad Noor; Irfansyah Baharuddin Pakki; Yadi Yadi; Akhmad Azmiardi; Ratno Adrianto; Muhammad Sultan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.60169

Abstract

Anak Buah Kapal (ABK) kargo internasional merupakan kelompok pekerja dengan mobilitas tinggi yang rentan terhadap perilaku berisiko HIV. Penelitian mengenai determinan perilaku berisiko HIV pada ABK masih terbatas dan umumnya hanya menilai faktor perilaku secara parsial. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor individu, lingkungan, dan pelayanan kesehatan dengan perilaku berisiko HIV pada ABK kargo internasional di Muara Mahakam serta mengidentifikasi faktor yang paling dominan. Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional ini dilakukan pada 193 ABK kargo internasional di wilayah kerja Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Samarinda tahun 2025. Sampel diperoleh menggunakan teknik teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur berbasis Health Belief Model (HBM) yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data meliputi analisis univariat, uji Chi-square, dan regresi logistik berganda dengan metode Backward Likelihood Ratio pada tingkat signifikansi 5%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa lama bekerja, lama berlayar, hubungan seksual dengan pasangan tidak tetap, jumlah pasangan seksual, riwayat pemeriksaan HIV, pengetahuan, persepsi hambatan, dan akses pelayanan kesehatan berhubungan dengan perilaku berisiko HIV (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa lama bekerja (Exp(B)=0,014; p=0,003), hubungan seksual dengan pasangan tidak tetap (Exp(B)=0,003; p<0,001), jumlah pasangan seksual (Exp(B)=0,032; p=0,005), dan persepsi hambatan (Exp(B)=9,004; p=0,004) berasosiasi secara independen dengan perilaku berisiko HIV. Model regresi memiliki kesesuaian yang baik berdasarkan uji Hosmer–Lemeshow (p=0,479) dengan nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,888. Perilaku berisiko HIV pada ABK kargo internasional di Muara Mahakam berasosiasi dengan lama bekerja, hubungan seksual dengan pasangan tidak tetap, jumlah pasangan seksual, dan persepsi hambatan. Program pencegahan HIV perlu difokuskan pada pengurangan hambatan akses layanan kesehatan, penguatan edukasi berbasis Health Belief Model, serta penyediaan layanan konseling, tes HIV sukarela, dan kondom di lingkungan pelabuhan.