Ida Ayu Indira Dwika Lestari
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Evaluation of Heat Stress Control Worker in Kiln and Cast Shop at PT X: Evaluation of Heat Stress Control Worker in Kiln and Cast Shop at PT X Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Dewi Novita Hardiyanti; Ida Bagus Made Widiadnya
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 13 No. 2 (2022): Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.467 KB) | DOI: 10.51888/phj.v13i2.142

Abstract

PT X merupakan perusahaan yang bergerak di bidang sanitary manufactur yang memproduksi peralatan sanitasi. Salah satu tahapan produksinya yaitu pencetakan (casting) serta pembakaran yang suhunya dapat mencapai 20000C. Penelitian ini bertujuan untuk mengethui pengendalian heat stres yang telah dilakukan perusahaan terhadap pekerja di area Kiln dan Cast shop di PT X.  Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain penelitian cross-sectional, dengan unit analisis perusahaan manufacturing. Penelitian dilakukan dengan mengukur suhu lingkungan dan suhu yang diterima oleh pekerja yang berada di unit cast shop dan kiln. Hasil menunjukkan indeks WBGT in rata-rata area Kiln dan Cast Shop antara 30.710C-33.80C dengan pola kerja pekerja 50%-75% serta beban kerja yang masuk dalam katagori sedang jika dibandingkan dengan standard yang ditetapkan, kondisi ini dapat menyebabkan pekerja mengalami heat stress. Adapun rekomendasikan yang diberikan yaitu dengan penambahan titik untuk penyedian air minum, agar satus hidrasi pekerja tetap terjaga sehingga pekerja tidak mengalami heat stress selama bekerja PT X is a company engaged in the sanitary manufacturing sector that produces sanitary equipment. One of the production stages is molding (casting) and burning where the temperature can reach 20000C. This study aims to determine the control of heat stress that has been carried out by the company on workers in the Kiln and Cast shop area at PT X. This research is descriptive with a cross-sectional research design, with a manufacturing company as the unit of analysis. The research was conducted by measuring the ambient temperature and the temperature received by workers in the cast shop and kiln units. The results show that the average WBGT index in the Kiln and Cast Shop area is between 30.710C-33.80C with a work pattern of 50% -75% and the workload is in the moderate category when compared to the standards set, this condition can cause workers to experience heat stressed. The recommendations given are by adding points for the provision of drinking water, so that the hydration status of workers is maintained so that workers do not experience heat stress while working.
Analisis Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kinerja Pegawai Puskesmas di Kota Samarinda Agustina Simanangi Pamowa; Ratno Adrianto; Akhmad Azmiardi; Irfansyah Baharuddin Pakki; Rahmat Bakhtiar; Ida Ayu Indira Dwika Lestari
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.44055

Abstract

Tantangan yang dihadapi Puskesmas dalam meningkatkan kinerja karyawan cukup kompleks. Beberapa kendala yang sering dihadapi termasuk beban kerja yang tinggi, keterbatasan sumber daya manusia, serta fasilitas yang kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja pegawai Puskesmas di Kota Samarinda. Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini ialah seluruh pegawai Puskesmas Sidomulyo, Puskesmas Remaja, Puskesmas Karang Asam dan Puskesmas Segiri dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sebanyak 169 orang. Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisa univariat dengan distribusi frekuensi, analisa bivariat dengan uji chi square dan analisa multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan faktor yang berhubungan adalah kompetensi (p=0,010), motivasi (p=0,017), kepemimpinan (p=0,020), disiplin kerja (p=0,005), budaya organisasi (p=0,003) dan lingkungan kerja (p=0,011). Sedangkan faktor yang tidak berhubungan ialah kemampuan (p=0,228) dan penghargaan (p=0,420). Faktor yang paling dominan dalam penelitian ini ialah kompetensi (p = 0,003, OR= 18,289) yang berarti pegawai dengan kompetensi yang baik memiliki kemungkinan 18,3 kali lebih besar untuk memiliki kinerja yang baik dibandingkan dengan pegawai yang kompetensinya kurang.
Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Manajemen Pengendalian Bahaya Kimia Sebagai Upaya Pencegahan Bahaya di Laboratorium PT. X Kota Balikpapan Fahriza Nur Azzahra; Muhammad Sultan; Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Iwan M Ramdan; Dewi Novita Hardianti
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 6 No. 1 (2025): Januari - Juni 2025
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.6.1.33-41.2025

Abstract

Bahan kimia memiliki berbagai risiko, baik ke manusia maupun ke lingkungan kerja. Oleh karena itu penting dilakukannya pengendalian bahaya kimia. Menurut Kepmenaker RI No. 187 Tahun 1999, Pengendalian bahan kimia berbahaya adalah upaya untuk mengurangi risiko akibat penggunaan bahan kimia berbahaya di tempat kerja kepada tenaga kerja, peralatan maupun lingkungan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, hazard communication¸ standar operasional prosedur, dan pengawasan dengan manajemen pengendalian bahaya kimia di Laboratorium PT. X Kota Balikpapan. Desain penelitian ini ialah penelitian kuantitatif dengan studi cross sectional yang memiliki sampel sebanyak 35 orang dan menggunakan uji Rank Spearman. Hasil penelitian didapatkan bahwa manajemen pengendalian bahaya kimia di Laboratorium PT. X Kota Balikpapan 100% dalam kategori baik. Berdasarkan analisis data, terdapat hubungan antara manajemen pengendalian bahaya kimia dengan pengetahuan (p = 0.033), hazard communication (p = 0.001), standar operasional prosedur (p = 0.049), dan pengawasan (p = 0.001). Dari hasil tersebut, disimpulkan terdapat hubungan antara pengetahuan, hazard communication¸ standar operasional prosedur, dan pengawasan dengan manajemen pengendalian bahaya kimia. value = 0.049), dan pengawasan (p-value = 0.001). Dari hasil tersebut, disimpulkan terdapat hubungan antara pengetahuan, hazard communication¸ standar operasional prosedur, dan pengawasan dengan manajemen pengendalian bahaya kimia.
Analisis Pengaruh Nilai yang Dirasakan dan Kepuasan Terhadap Loyalitas Pasien Puskesmas di Kota Samarinda Noor Hariyani; Ratno Andrianto; Nur Rohmah; Rahmat Bakhtiar; Irfansyah Baharuddin Pakki; Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Dian Ayu Fitriani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55092

Abstract

Service quality in public health centers (Puskesmas) plays a crucial role in shaping patient perceptions and behaviors, which in turn influence patient loyalty. In Samarinda City, declines in patient visits and the achievement of Minimum Service Standards (MSS) indicate ongoing challenges in primary healthcare services. This study aims to analyze the effects of perceived value and patient satisfaction on patient loyalty at Puskesmas. Using a quantitative approach with a cross-sectional design, the study involved 420 respondents selected through cluster random sampling and convenience sampling. Data were collected using questionnaires that had been tested for validity and reliability and were analyzed using path analysis. The results show that perceived value has a positive and significant effect on patient loyalty (β = 0.2405), while patient satisfaction demonstrates a stronger influence on loyalty (β = 0.3410). In addition, patient satisfaction mediates the relationship between perceived value and loyalty, whereas perceived value acts as a mediating variable in the relationship between satisfaction and loyalty. These findings confirm that patient loyalty is shaped not only by direct effects but also through reciprocal mediating relationships between perceived value and patient satisfaction.
Analisis Kinerja Puskesmas dalam Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Kesehatan dengan Pendekatan Balanced Scorecard Pada Puskesmas Sei Siring Jami’an Jami’an; Ratno Adrianto; Rahmat Bakhtiar; Jaya Mualimin; Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Akhmad Azmiardi
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.58041

Abstract

Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan merupakan indikator kinerja utama pelayanan dasar yang wajib dicapai oleh Puskesmas. Pengukuran kinerja yang komprehensif diperlukan untuk mengevaluasi pencapaian tersebut, salah satunya melalui pendekatan Balanced Scorecard (BSC). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan terhadap pencapaian SPM kesehatan di Puskesmas Sei Siring Kota Samarinda. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan teknik total sampling terhadap 55 pegawai. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan keempat perspektif BSC berpengaruh signifikan terhadap pencapaian SPM (p=0,001) dengan nilai adjusted R² sebesar 0,301, yang berarti model mampu menjelaskan 30,1% variasi kinerja. Namun secara parsial, seluruh variabel tidak berpengaruh signifikan (p>0,05) meskipun memiliki arah hubungan positif. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan menunjukkan kontribusi relatif paling besar serta berhubungan signifikan pada analisis bivariat (OR=4,148; p=0,012). Secara deskriptif, sebagian besar responden menilai pencapaian SPM dalam kategori baik, meskipun masih terdapat kesenjangan pada beberapa indikator layanan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa Balanced Scorecard dapat digunakan sebagai alat evaluasi kinerja Puskesmas secara komprehensif, dengan penguatan pada aspek pembelajaran dan pertumbuhan sebagai strategi utama peningkatan kinerja pelayanan kesehatan. Kata Kunci: Kinerja Puskesmas, Standar Pelayanan Minimal, Balanced Scorecard, Pelayanan Kesehatan Primer
Hubungan Kepemimpinan Autentik Terhadap Kinerja Melalui Komitmen Afektif Pada Pegawai Rumah Sakit Umum Daerah Ratu Aji Putri Botung Kabupaten Penajam Paser Utara Nurlianti Nurlianti Nurlianti; Ratno Adrianto; Rahmad Bakhtiar; Irfansyah Baharuddin Pakki; Iriani Iriani; Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Tetra Hidayati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.58078

Abstract

Kinerja pegawai merupakan faktor utama dalam menentukan efektivitas pelayanan rumah sakit, terutama pada rumah sakit pemerintah daerah yang menghadapi tuntutan mutu pelayanan dan keterbatasan sumber daya. Kinerja pegawai tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh penerapan gaya kepemimpinan dan keterikatan emosional pegawai terhadap organisasi. Kepemimpinan autentik (authentic leadership) merupakan gaya kepemimpinan yang menekankan kesadaran diri (self-awareness), perspektif moral terinternalisasi (internalized moral perspective), pemrosesan informasi yang seimbang (balanced processing), serta transparansi relasional (relational transparency). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kepemimpinan autentik terhadap kinerja pegawai serta menguji peran komitmen afektif sebagai variabel mediasi pada pegawai RSUD Ratu Aji Putri Botung Kabupaten Penajam Paser Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 200 pegawai yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner berskala Likert 1–5, dan analisis data dilakukan dengan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan autentik berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen afektif (β=0,532; t=8,340; p=0,000); komitmen afektif berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai (β=0,396; t=5,092; p=0,000); kepemimpinan autentik berpengaruh positif namun tidak signifikan secara langsung terhadap kinerja pegawai (β=0,110; t=1,281; p=0,201); dan komitmen afektif terbukti memediasi secara penuh (full mediation) hubungan antara kepemimpinan autentik dan kinerja pegawai (β=0,211; t=3,931; p=0,000). Disimpulkan bahwa penerapan kepemimpinan autentik di RSUD Ratu Aji Putri Botung mampu meningkatkan kinerja pegawai apabila terlebih dahulu mampu membangun komitmen afektif yang kuat. Penelitian ini berkontribusi secara teoritis dalam pengembangan kajian perilaku organisasi sektor kesehatan, serta memberikan implikasi praktis bagi manajemen rumah sakit dalam merancang strategi kepemimpinan yang efektif untuk meningkatkan kinerja pegawai dan kualitas pelayanan kesehatan.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Gangguan Pendengaran pada Pekerja Operator PT. X di Kota Bontang Tsabita Radhiya Dzakira; Muhammad Sultan; Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Iwan Muhamad Ramdan; Dewi Novita Hardianti
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 7 No. 1 (2026): Januari - April 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.7.1.52-59.2026

Abstract

Noise in the workplace is a major risk factor that can cause hearing loss, especially in the oil and gas industry, which has high noise exposure. Long-term exposure to noise above the Threshold Limit Value (TLV) can cause permanent Noise-Induced Hearing Loss (NIHL). Based on observations at PT. X, Bontang City, several areas showed noise levels above 85 dBA, potentially causing hearing impairment among workers. This study aims to determine the relationship between noise levels, length of service, use of hearing protection devices (HPDs), and noisy hobbies or activities with hearing loss among operators at PT. X in Bontang City. The study used a cross-sectional design with a quantitative approach. Data were obtained through noise measurements, questionnaires, and audiometric examination results. Analysis was performed using Spearman's Rank Correlation test to assess the relationship between variables. The results of the study show a significant relationship between noise levels (p=0.000, r=0.951), the use of hearing protection devices (p=0.000, r=- 0.645), and noisy hobbies or activities (p=0.006, r=0.398) with hearing impairment (p<0.05). However, the variable of length of service did not show a significant relationship (p=0.055, r=0.282). It can be concluded that noise levels, the use of hearing protection devices (HPDs), and noisy hobbies or activities are associated with hearing loss, while length of service is not. It is recommended that companies conduct regular audiometric examinations at least twice a year, create Noise Contour Maps on a routine basis, and update noise warning signs in the workplace. The selection of comfortable EPP and education regarding the use of high-risk earphones are also necessary to prevent hearing loss and increase workers' awareness of the dangers of noise.
Analisis Model Regresi Ketepatan Waktu Vaksinasi Meningitis Pada Jamaah Umrah di Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Samarinda Alwan Zakki Nozomi; Irfansyah Baharuddin Pakki; Akhmad Azmiardi; Ratno Adrianto; Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Yadi Yadi
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.60049

Abstract

Timeliness of meningitis vaccination among Umrah pilgrims remains an important public health issue due to the high risk of Neisseria meningitidis transmission during umrah activities. Although meningitis vaccination is a mandatory requirement for Umrah pilgrims, many individuals still receive the vaccine close to their departure date, resulting in suboptimal immune protection. This study aimed to analyze the factors associated with the timeliness of meningitis vaccination among Umrah pilgrims at the Health Quarantine Office Samarinda in 2026. A quantitative study with a cross-sectional design was conducted involving 306 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using structured questionnaires and vaccination records, then analyzed using univariate, bivariate, and multivariate logistic regression analyses. The findings revealed that individual factors, including knowledge, perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, and attitudes, were significantly associated with vaccination timeliness. External factors such as access to information, travel agent support, and family support, as well as structural factors including distance accessibility, procedural convenience, and availability of health facilities, also demonstrated significant associations with timely vaccination. Multivariate analysis identified the most dominant factor influencing vaccination timeliness among Umrah pilgrims. The study concludes that the timeliness of meningitis vaccination is influenced by a combination of individual, social. Keywords : meningitis vaccination, timeliness, Umrah pilgrims.
Analisis Faktor -Faktor yang Berhubungan dengan Upaya Pencegahan Infeksi Menular Seksual Pada Anak Buah Kapal Tug Boat di Perairan Sungai Mahakam Nunuk Kusuma Wardani; Irfansyah Baharuddin Pakki; Akhmad Azmiardi; Ratno Adrianto; Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Iryani Kamaruddin
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.60262

Abstract

Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih banyak ditemukan pada kelompok pekerja dengan mobilitas tinggi, termasuk Anak Buah Kapal (ABK) Tug Boat di Perairan Sungai Mahakam. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan upaya pencegahan IMS pada ABK Tug Boat. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional terhadap 193 responden yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-square serta regresi logistik ganda. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa lama berlayar, frekuensi pulang, pengetahuan IMS, tekanan sebaya, dukungan sosial, persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi hambatan, isyarat bertindak, keyakinan diri, lama berlabuh, dan perilaku seksual berhubungan dengan upaya pencegahan IMS (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa frekuensi pulang merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi upaya pencegahan IMS (OR=277,079; 95%CI=12,277–6253,514; p<0,001), diikuti tekanan sebaya, persepsi keseriusan, persepsi hambatan, keyakinan diri, dan perilaku seksual. Temuan ini menunjukkan perlunya program pencegahan IMS yang komprehensif melalui penguatan dukungan sosial dan peningkatan akses layanan kesehatan reproduksi. Kata kunci: Anak Buah Kapal, Health Belief Model, Infeksi Menular Seksual, pencegah
Enhancing Safety Culture in the Aviation Sector at East Kalimantan: A Study on Organizational, Group, and Individual Safety Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Dewi Novita Hardianti; Iwan M Ramdan; Muhammad Sultan; Ika Wulan Sari
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 3 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i3.6141

Abstract

The aviation industry operates in a high-risk environment where safety is paramount. Despite the implementation of Safety Management Systems (SMS), aviation incidents often highlight gaps not in compliance, but in safety culture—how individuals and organizations perceive and prioritize safety. A mature and robust safety culture can significantly reduce accidents and improve operational reliability. This study aims to explore and describe the safety culture profile in the aviation sector, particularly focusing on the maturity of safety practices at the individual, group, and organizational levels. A cross-sectional study was conducted using the Nordic Occupational Safety Climate Questionnaire (NOSACQ-50), a validated instrument to assess safety culture. A total of 183 aviation workers from various operational units participated in the survey. In addition to quantitative analysis, focus group discussions (FGDs) were held with selected management and operational staff to provide contextual insights into survey findings. The results showed that the overall safety culture maturity level among respondents was categorized as proactive, with the highest scores in management commitment (85.0) and safety procedures (85.0). However, relatively lower scores were observed in risk perception (70.5) and work environment (70.0), indicating areas for targeted improvement. These findings suggest that while aviation organizations have made considerable progress in building a strong safety culture, further efforts are needed to enhance risk awareness at the individual level and improve environmental factors influencing safety behaviour. Interventions should emphasize participatory safety practices, continuous communication, and reinforcement of risk-based thinking