Iwan Setiawan
Sekolah Tinggi Agama Kristen Sabda Holistik

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PENDERITAAN MENURUT ROMA 8:18-25 DAN IMPLIKASINYA BAGI GEREJA TUHAN MASA KINI Iwan Setiawan
Missio Ecclesiae Vol. 6 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v6i2.73

Abstract

Penderitaan adalah kata yang sering dihindari oleh manusia termasuk orang percaya. Selain itu situasi zaman sekarang yang semakin menekan umat manusia, seperti yang dikatakan Tuhan Yesus bahwa zaman akhir dunia ini ditandai bukan oleh perdamaian, melainkan oleh peperangan yang bertambah-tambah (Mat. 24:6). Banyak martir di negara-negara komunis yang menjadi korban kekerasan dan penindasan, yang mengakibatkan penderitaan. Mengenai Indonesia, meskipun bukan negara komunis atau negara terlarang untuk Injil, namun ratusan gereja telah dirusak dan dibakar, yang mengakibatkan korban yang cukup banyak. Ada cukup banyak kesaksian tentang penderitaan orang percaya karena iman mereka kepada Kristus, namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak orang percaya yang belum memahami arti penderitaan itu. Hal ini nampak pada seringnya jemaat disuguhkan Firman Tuhan yang menawarkan kesenangan hidup belaka, tanpa harus mengalami penderitaan. Karena itu mereka lebih banyak melarikan diri, putus asa dan kecewa ketika mengalami penderitaan, padahal sesungguhnya penderitaan tidak dapat dihindari, namun yang dimaksudkan penulis adalah cara menanggapi penderitaan itu harus sesuai dengan apa yang Tuhan ajarkan, yaitu bahwa penderitaan yang dialami manusia itu tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan (Rm. 8:18). Paulus menegaskan bahwa bahwa orang percaya akan mengalami penderitaan, namun penderitaan itu hanya sedikit atau sebagian kecil dari kemuliaan yang akan dinyatakan. Penderitaan dan hawa nafsu terjadi karena dunia ini memang berdosa. Penderitaan yang diderita umat manusia terjadi setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa. Masa sekarang ini semuanya jahat, diwarnai oleh dosa, kematian dan kebinasaan. Suatu ketika akan datang hari Tuhan, yaitu hari penghakiman, ketika dunia akan digoncangkan sampai ke dasarnya; tetapi sesudah itu akan datang suatu dunia baru. Ketika Paulus menggambarkan ini, ia memakai pengertian yang setiap orang Yahudi sudah mengenal dan mengerti. Ia berbicara tentang masa sekarang dan tentang kemuliaan yang akan dinyatakan. Dengan demikian, yang dimaksud Paulus dalam bagian ini adalah keyakinan kita bahwa penderitaan sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan datang yang akan dinyatakan kepada kita orang yang percaya kepada-Nya. Jadi penderitaan yang kita tanggung sebagai pengikut Kristus menunjukkan keikutsertaan kita dalam penderitaan Kristus, dan dapat disebut juga “menggenapkan apa yang belum tercakup dalam penderitaan Kristus”, supaya kita dapat bersekutu dengan Kristus dalam penderitaan-Nya. Dengan demikian pengharapan di sini berarti harapan adanya suatu keyakinan dan kepastian bahwa orang percaya akan dibebaskan atau dimerdekakan dari kesia-siaan. Tuhan telah mengaruniakan Roh Kudus sebagai jaminan pemberian lebih besar yang akan diterima di masa depan. Inilah pengharapan orang percaya, yaitu penantian penuh keyakinan akan berkat-berkat yang dijanjikan yang sekarang belum ada atau belum tampak. Tidak ada ketekunan yang tidak diawali dengan penderitaan. Ketekunan disediakan bagi kita sebagai hasil penderitaan. Orang yang menolak penderitaan dengan mengeluh dan mencari jalan keluar sendiri tidak akan memperoleh ketekunan.
Kajian Teologis Terhadap Status Perempuan Dalam Perjanjian Baru Iwan Setiawan; Chresty Thessy Tupamahu; Martono Martono; Yulia Vriska Tripena
Missio Ecclesiae Vol. 10 No. 2 (2021): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v10i2.143

Abstract

Allah menjadikan perempuan supaya menjadi penolong bagi seorang laki-laki bukan menjadi kenikmatan para lelaki. Sikap ajaran Yesus tentang Perempuan sangat berbeda dengan ajaran Yudaisme tentang Perempuan pada masa Yesus hidup di dunia. Ajaran Yudaisme didominasi oleh kaum laik-laki yang kurang menghormati kaum perempuan. Perbedaan antara laik-laki dan perempuan sedemikian besar sehingga perempuan tidak dapat bergabung dengan laki-laki setaraf dalam Pendidikan agama atau dalam ibadah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman secara teologis mengenai status perempuan dalam Perjanjian Baru. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan penelitian literatur. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa perempuan diakui harkat dan martabatnya, bahkan perempuan menjadi rekan kerja Yesus di sepanjang pelayanan-Nya. Bahkan perempuan juga menjadi rekan kerja Rasul Paulus dalam pelayanannya, sehingga tidak dapat disangkal bahwa perempuan juga dapat mengambil peran dan kedudukan yang sangat penting di dalam gereja dengan porsi masing-masing. Dalam Perjanjian Baru bagi orang Yahudi perempuan adalah kaum yang lemah, sehingga tindakan mereka dibatasi, hak dan kewajiban serta peran mereka juga dikurangi bahkan tidak jarang perempuan juga diperbudak dan diperlakukan secara tidak adil. Tetapi Yesus Kristus hadir untuk membawa perubahan yang besar bagi kaum Marginal termasuk perempuan, yaitu pembebeasan dari belenggu dab sikap diskriminatif. Kini mereka diberikan hak dan kesempatan yang sama untuk melakukan hal-hal positif termasuk kesempatan untuk melayani Tuhan.
Kontekstualisasi menurut Kisah Para Rasul 17:16-34 Iwan Setiawan; Reagen Petrus Banea
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 12 No 2 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v12i2.227

Abstract

Pelaksanaan kontekstualisasi tidak semudah yang dibayangkan, karena manusia adalah makhluk sosial yang terdiri dari adat istiadat dan kebudayaan yang berbeda-beda, maka sangatlah penting untuk mengerti dan memahami perlunya kontekstual dalam melakukan pemberitaan injil. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat sejauh mana kontekstualisasi dapat menolong orang percaya dalam melakukan penginjilan di tengah-tengah keberagaman budaya dan adat istiadat. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kontekstualisasi adalah suatu tindakan sebagai refleksi dari setiap orang percaya kepada Tuhan, berupaya untuk menjelaskan iman kristen dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Menurut Kisah Para Rasul 17:16-34 menjelaskan beberapa hal mengenai kontekstualisasi yang Paulus lakukan, yaitu kontekstualisasi lahir dari hati yang terbeban. Kontekstualisasi dilakukan dengan cara bertukar pikiran, memuji budaya orang Atena dan memberitakan tentang Injil Yesus Kristus. Dan dampak dari kontekstualisasi yaitu: dampak positifnya adalah orang menjadi percaya dan dampak negatifnya adalah pemberita injil dapat mengalami penolakan.
Air Bah Nuh: “Bukti-Bukti Yang Masih Terus Dicari” Iwan Setiawan; Hotman P. Simanjuntak; Elvin Paende; Yuliana Lu
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 1 No 1 (2022): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v1i1.164

Abstract

Air Bah adalah peristiwa yang mengundang banyak kontroversi, terutama antara pandangan para teolog dan ilmuwan, apakah Air Bah itu global atau lokal dan apakah itu mitos atau fakta? Banyak pendapat yang memberikan alasan terjadinya peristiwa Air Bah menurut versinya masing-masing. Pendapat terkadang bertentangan tetapi terkadang mendukung. Diakui untuk menyatukan dua pendapat ini tidak mudah, karena masing-masing punya alasan tersendiri. Para teolog menjelaskan pendapat mereka atas dasar Biblika sebagai sumber utama mereka, sementara para ilmuwan mendasarkan bukti empiris mereka pada fakta-fakta yang mereka temukan. Tidak mudah untuk mencapai titik temu. Oleh karena itu, untuk melihat permasalahan apa yang akan dicari dari perbedaan banjir ini, maka harus dicari sumber yang kompeten dari masing-masing pendapat. Baik dari sudut pandang para teolog maupun dari sudut pandang para ilmuwan, akan terlihat di mana tepatnya perbedaan pandangan itu terjadi dan di mana kesamaan pandangan tersebut. Baik penemuan dari sudut teologi (Alkitab) maupun dari sudut geologi, arkeologi, sehingga dapat disimpulkan bahwa keduanya memiliki persamaan dan perbedaan penemuan masing-masing berdasarkan perspektif masing-masing.
Kasih yang Benar: Sebuah Analisis Roma 13: 8-14 di Tengah Kehidupan Orang Percaya Iwan Setiawan; Alfa Chrisen Hillasterion; Christian Marlen Firuli Simarmata; Juldistriani Amisha Diana Maelite; Marni Katue
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 7, No 1 (2024): Kharismata: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.249

Abstract

Jesus was a great teacher who set an example of humility, especially in teaching love to His students in various ways or methods. Love is very easy to say, it is easy to explain good theories about love, but in reality, good theories are not balanced with good life practices. The research method that the author uses is a qualitative approach with a descriptive method, explaining it in a hermeneutic way, namely a method that expresses, translates, and interprets. The source material is the biblical text to gain an understanding of the biblical text. The research aims to discover the principles of love contained in Romans 13: 8-14, to provide a deep understanding of this text so that believers can implement love correctly. The result of his research is Jesus as the Foundation of Love. Jesus Christ is the armor of light, wearing the Lord Jesus. The correct attitude of love is don’t owe anything, love each other, love your neighbor as yourself, don't commit adultery, don't kill, don't steal, don't covet and any other word, love doesn't do evil to fellow human beings because love is the fulfillment of the law. The action is to continue living in Love because time is getting shorter by having to wake up from sleep, put off the deeds of darkness put on the armor of light, and live according to God's will. Yesus adalah guru agung yang memberikan teladan kerendahan hati terkhusus dalam mengajarkan tentang kasih kepada murid-murid-Nya dengan berbagai cara atau metode. Kasih sangat mudah untuk diucapkan, mudah untuk menjelaskan teori-teori yang baik mengenai kasih, tetapi pada kenyataanya teori yang baik itu tidak diimbangi dengan praktek hidup yang baik pula. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, menguraikannya dengan cara hermeneutik yaitu sebuah metode yang mengekpresikan, menterjemahkan dan menafsirkan. Sumber bahannya adalah teks Alkitab dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman dari teks alkitab. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan prinsip-prinsip kasih yang terdapat dalam Roma 13: 8-14, supaya memberikan pemahaman yang mendalam mengenai teks ini sehingga orang percaya dapat mengimplementasikan kasih secara benar. Hasil penelitiannya adalah Yesus sebagai Dasar Kasih. Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang, mengenakan Tuhan Yesus. Sikap Kasih yang benar yaitu jangan berhutang apa-apa, saling mengasihi, mengasihi sesama seperti diri sendiri, jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia karena kasih adalah kegenapan hukum taurat. Tindakan untuk terus hidup dalam Kasih karena waktu yang semakin singkat dengan harus bangun dari tidur, menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang dan hidup sesuai kehendak Tuhan.
Tujuan Bahasa Roh Pada Gereja Mula-Mula Berdasarkan Kisah Para Rasul Iwan Setiawan; Hilda Naomi; Meny Sulastry; Asmi Wori; Yufen Samgar Feo
Jurnal Arrabona Vol. 6 No. 2 (2024): February
Publisher : Departemen Literatur dan Media, Sekolah Tinggi Teologi Arrabona Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57058/juar.v6i2.105

Abstract

Tongue is a gift given by God through the power of the Holy Spirit. Tongues come from God and are given to those who truly believe in God. Gifts are complements that God gives freely to people who truly believe so they can serve others for the glory of God, gifts to serve with the aim that others will be saved. True tongues come from the Holy Spirit and are not memorized. All good gifts come from God, when you are filled with the Holy Spirit you must live truly believing in Jesus Christ. The research method used is literature review or library research, namely library searches, utilizing library sources to obtain the data needed by the author in the research. Library research focuses on library collection materials without using field research. The aim of the research is to provide a more comprehensive and biblical understanding of the purpose of tongues according to the Acts of the Apostles. The results of the research obtained regarding the purpose of tongues based on the Acts of the Apostles are that tongues are used to preach the Gospel by reporting the great deeds of God, tongues are used to glorify God, tongues are a sign of baptism and tongues produce life in harmony.
Signifikansi Hidup Baru Menurut Roma 6:1-4 bagi Orang Percaya Masa Kini Setiawan, Iwan; Waruwu, Andy Witra; Lede, Ardius Aritop; Djawaray, Rambu Agnes Tasya; Andriastuti, Mia Kristin
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 2 No 2 (2023): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v2i2.246

Abstract

Kehidupan seorang yang telah lahir baru menuntut adanya perubahan yang serius dan radikal, perlu adanya komitmen yang kuat dan kerja keras untuk meninggalkan kedagingan, manusia lama dan mulai mengenakan manusia baru. Hidup baru seharusnya menghasilkan perubahan dan pembaharuan hidup yang seturut dengan firman-Nya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka yaitu berupaya untuk menguraikannya dengan cara hermeneutik yaitu sebuah metode yang mengekpresikan, menterjemahkan dan menafsirkan, sumber bahannya adalah teks Alkitab dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman dari teks alkitab. Tujuan penelitian ini adalah menemukan prinsip-prinsip hidup baru berdasarkan Roma 6: 1-4 supaya orang percaya masa kini memahami pentingnya hidup baru sehingga dapat mengambil keputusan untuk hidup menjalani dalam kehidupan yang baru. Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini adalah dasar hidup baru yaitu kasih karunia dan kematian Kristus, hidup baru adalah mati bagi dosa, hidup baru adalah dibaptisan, dikuburkan, dan dibangkitkan dalam kematian Kristus, hidup baru adalah hidup dalam kehidupan yang baru.
Dipanggil Untuk Merdeka: Studi Eksegetis Terhadap Galatia 5: 13 Setiawan, Iwan; Kati, Weldiani Hae; Lukuaka, Halena Enjel; Koa, Endang Elsabet
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 4 No 1 (2025): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v4i1.324

Abstract

Kemerdekaan Kristen adalah pembebasan dari perbudakan terhadap kuasa-kuasa yang menentang Allah, untuk setiap kepenuhan tuntutan-tuntutan Allah bagi kehidupan seseorang. Sekarang ini masih terlalu banyak orang percaya yang tidak mengerti arti sesungguhnya dari kemerdekaan yang Yesus berikan, masih ada orang percaya yang menggunakan kemerdekaan untuk bebas melakukan dosa, dan yang menyedihkan justru ini terjadi di kantong-kantong Kristen yang notabene sudah mengenal Tuhan, tidak sedikit dari mereka melakukan banyak dosa seperti hidup dalam kemabukan, pesta pora, seperti halnya kasus yang ada yaitu seorang pendeta yang seharusnya mengajarkan jalan menuju kepada kristus dan menjadi panutan, tetapi justru bertindak sebagai pelaku kejahatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman alkitabiah mengenai dipanggil untuk merdeka, supaya orang percaya memiliki pengertian yang tepat dan mengerjakan kewajibannya sebagai respon terhadap kemerdekaan yang diterimanya. Penulis menggunakan metode kajian Pustaka yang berupaya menguraikannya dengan hermeneutik dengan menafsirkan teks alkitab yang terdapat dalam Galatia 5:13 dengan panduan buku-buku referensi, artikel ilmiah yang berkaitan dengan topik kemerdekaan untuk melayani dalam perspektif kekristenan dan juga berkenaan dengan teks Galatia 5:13. Hasil penelitian yang didapat adalah: Pertama, dipanggil untuk Merdeka. Kedua, kemerdekaan bukan kesempatan untuk kehidupan dalam dosa. Ketiga, Tujuan kemerdekaan adalah melayani seorang akan yang lain dengan kasih.
Prinsip-prinsip Rohani Keyakinan Kepada Kristus:: BERDASARKAN ROMA 14: 3-5 Setiawan, Iwan; Sianipar, Yohanes; Laoli, Stephen; Putri Murcasari, Ester Nanda; Ernawati, Anik
THEOLOGIA INSANI: Jurnal Theologia, Pendidikan, dan Misiologia Integratif Vol. 3 No. 2 (2024): Juli
Publisher : STAK Reformed Remnant Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58700/theologiainsani.v3i2.74

Abstract

This research aims to provide a comprehensive understanding of the principles of belief in Christ based on Romans 14: 3-5 so that today's believers have an understanding of their belief in Christ. The research method used is a literature review, attempting to explain it in a hermeneutic way by interpreting the biblical text contained in Romans 14: 3-5 using reference books, and scientific articles relating to the topic of belief in Christ. The research results obtained are: First, belief in Christ makes believers live without judging each other. Second, believing that humans are accepted by God. Third, believe that there is God's presence or protection. Fourth, believers must have faith in their hearts. Belief in Christ is the only guarantee of eternal life that believers in Christ can have, belief is true belief, without the slightest doubt in it.
Implementasi Kuasa Kasih Kristus berdasarkan Roma 8:35-39 bagi Orang Percaya Masa Kini Setiawan, Iwan; Samuel; Hutabarat, Ruth Fulcher; Bitriyani, Novillia Dian; Agustiani, Ni Made Tirza
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i1.20

Abstract

Abstract: God's love is the highest and most noble than anything else. God's love for sinners is expressed through His Son who became the savior to die for sins as an intermediary for sinners to God. There are many people who do not realize how great the power of God's love is in their lives because of the various things they have experienced, so they live in fear, doubt, and disbelief due to the suffering they have experienced. The research method used is descriptive, namely a method used in researching the status of human groups, objects, research conditions, systems of thought or a class of events in the present which aims to create good and systematic, factual descriptions, images or paintings. The hermeneutic method means expressing, translating, interpreting. The hermeneutic source material is Romans 8: 35-39 with the aim of achieving an understanding of the meaning. The research results obtained are that nothing can separate from the power of Christ's love, the power of Christ's love makes believers more than winners, the power of Christ's love is above all. So that the implementation of the power of Christ's love is based on the belief that nothing will separate believers from the Love of God that is in Christ Jesus, this makes believers selfless, generous and kind, because Christ's love is so great that they have confidence. to be able to share it with others. Abstrak: Kasih Allah yang paling tinggi dan paling mulia dibanding apapun. Kasih Allah kepada orang-orang berdosa dinyatakan melalui AnakNya yang menjadi juruselamat untuk mati menebus dosa menjadi perantara orang berdosa kepada Allah. Ada banyak orang yang tidak menyadari betapa besar kuasa kasih Allah dalam hidupnya karena berbagai hal yang dialaminya sehingga mereka hidup dalam ketakutan, keraguan, ketidakpercayaan akibat penderitaan yang dialami. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitu suatu metode yang digunakan dalam meneliti status kelompok manusia, objek, riset kondisi, sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang yang bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara baik dan sistematis, factual. Metode hermeneutika berarti mengekspresikan, menerjemahkan, menafsirkan. Bahan sumber hermeneutikanya adalah Roma 8: 35-39 dengan tujuan untuk mencapai pemahaman makna. Hasil penelitian yang diperoleh adalah tidak ada yang dapat memisahkan dari kuasa kasih Kristus, kuasa kasih kristus menjadikan orang percaya lebih dari pemenang, kuasa kasih kristus di atas segalanya. Sehingga implementasinya kuasa kasih Kristus didasari oleh keyakinan bahwa tidak akan ada yang memisahkan orang percaya dari Kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, hal itu membuat orang percaya tidak mementingkan diri sendiri, menjadi murah hati dan baik hati, karena begitu besarnya kasih Kristus sehingga memiliki keyakinan untuk dapat membagikannya kepada orang lain.