Paramita Rahayu
Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Fenomena Urban Heat Island dan kaitannya dengan urbanisasi wilayah di Subosukawonosraten Shabrina Hasna Hayati; Paramita Rahayu; Erma Fitria Rini
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 21, No 1 (2026)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v21i1.98333

Abstract

The Urban Heat Island (UHI) phenomenon has become an important challenge in urban areas as urbanization drives land-cover change and surface temperature rise. This study aimed to analyze the relationship of urbanization on Land Surface Temperature (LST) in Subosukowonosraten in 2000 and 2023 using a deductive quantitative approach based on Landsat 5 and Landsat 8 imagery processed through GIS. A macro-scale analysis was conducted to examine the relationship between land-cover change, vegetation density, and building density with LST, while a micro-scale analysis was used to identify hotspots, defined as areas experiencing significant temperature increases. The findings indicate a positive correlation between increasing building density and rising LST, as well as a negative correlation between decreasing vegetation density and rising LST. Areas classified as “hot” zones are predominantly composed of residential and industrial land (37%) and agricultural land (34%). This study concludes that urbanization in Subosukowonosraten contributes to the increase in LST and the intensification of UHI, highlighting the importance of more sustainable regional land-use planning and management strategies.
Dampak kota baru pada perkembangan dan pertumbuhan perumahan di daerah peri urbannya (Studi Kasus: BSD City dan Kecamatan Cisauk) Ishma Ufaira; Kusumastuti Kusumastuti; Paramita Rahayu
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 20, No 2 (2025)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v20i2.89527

Abstract

Bumi Serpong Damai (BSD) merupakan sebuah kawasan kota baru terencana yang bertujuan untuk dikembangkan sebagai penyedia perumahan skala besar dan mengurangi tekanan atas pembangunan yang terkonsentrasi di Jakarta. Perkembangan yang pesat mengakibatkan peningkatan signifikan nilai lahan BSD sehingga masyarakat mulai menargetkan kawasan perumahan di daerah pinggirannya, salah satunya Kecamatan Cisauk. Kecamatan Cisauk terletak bersebelahan dengan BSD yang terhubung dengan adanya jalan kolektor. Pada tahun 2010, BSD melakukan pengembangan yang melibatkan 1 desa dari Kecamatan Cisauk sebagai kawasan pengembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana perkembangan kota baru BSD berdampak terhadap penyediaan perumahan di daerah peri-urbannya. Penelitian ini menggunakan data tahun 2000, 2010, dan 2020 untuk melihat proses perkembangan secara spasial dengan teknik analisis deskriptif untuk analisis kepadatan penduduk dan analisis spasial. Temuan menunjukkan adanya perubahan di Kecamatan Cisauk yang dipengaruhi oleh BSD terutama pada perubahan guna lahan menjadi perumahan di sepanjang akses jalan yang menghubungkan kedua wilayah.
Pengaruh faktor spasial terhadap pendapatan aktivitas komersial: Pusat Pelayanan Kota Surakarta Adhie Rum Muttaqin; Paramita Rahayu; Bambang S Pujantiyo
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 20, No 2 (2025)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v20i2.89771

Abstract

Kota Surakarta adalah pusat bisnis dan ekonomi yang penting bagi wilayah sekitarnya. Sebagai motor penggerak, aktivitas perdagangan dioptimalisasi melalui pembentukan pusat-pusat pelayanan Jebres, Purwosari, Nusukan, Joyotakan, dan Koridor Slamet Riyadi. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh aspek spasial terhadap pendapatan aktivitas perdagangan dan jasa di pusat pelayanan kota menggunakan analisis regresi linear berganda. Variabel terikat dalam penelitian ini merupakan pendapatan aktivitas komersial, sedangkan variabel bebas meliputi sentralitas kawasan, jarak ke pusat, sirkulasi kendaraan, ketersediaan lahan parkir, persebaran dan keanekaragaman aktivitas komersial. Data diperoleh melalui observasi lapangan dan kuesioner dan diolah menggunakan teknik analisis kuantitatif dengan metode deskriptif, statistik, dan geospasial. Hasil analisis menunjukkan bahwa kawasan pusat pelayanan berada di lokasi yang sentral dengan rata-rata jarak antar pusat yang dekat, memiliki sirkulasi lalu lintas yang tidak stabil namun masih dapat dikendalikan, serta memiliki lahan parkir yang terbatas. Sarana komersial di kawasan penelitian cenderung mengelompok dengan keberagaman tinggi. Regresi linear menunjukkan bahwa sentralitas, jarak ke pusat, ketersediaan lahan parkir, persebaran, dan keanekaragaman aktivitas komersial berpengaruh signifikan terhadap pendapatan, sedangkan sirkulasi lalu lintas tidak berpengaruh signifikan.
Kajian pola pergerakan penghuni kawasan berorientasi transit Lebak Bulus terhadap prinsip Transit Oriented Development (TOD) Muhamad Naufal Alifiansach; Paramita Rahayu; Candraningratri Ekaputri Widodo
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 20, No 1 (2025)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v20i1.86774

Abstract

Transit Oriented Development (TOD) merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah kemacetan perkotaan akibat penggunakan kendaraan pribadi yang lebih tinggi dibanding transportasi umum. Kawasan Berorientasi Transit Lebak Bulus merupakan salah satu kawasan TOD yang ditetapkan di DKI Jakarta. Penghuni kawasan TOD akan cenderung lebih menggunakan transportasi umum, berjalan kaki, ataupun bersepeda karena sarana dan prasarana dapat diakses dengan mudah. Dengan menggunakan data hasil observasi, kuesioner, dan studi dokumen, kesesuaian karakteristik kawasan terhadap prinsip TOD dianalisis menggunakan teknik analisis skoring dengan skala Guttman. Setelahnya, kesesuaian pola pergerakan penghuni kawasan terhadap prinsip TOD dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Hasil menunjukkan bahwa kawasan penelitian belum memiliki karakteristik yang sesuai dengan prinsip TOD, tetapi terdapat rencana kawasan yang apabila terlaksana sesuai target, maka akan ada 3 dari 7 variabel yang sesuai (42,86%). Maksud dan tujuan pergerakan penghuni belum sesuai dengan prinsip TOD karena masih bersifat eksternal ke luar kawasan (68,3%). Pilihan moda pergerakan penghuni dalam melakukan pergerakan juga belum sesuai karena masih didominasi penggunaan kendaraan pribadi berupa motor (39,6%) dan mobil pribadi (13%).
Potensi pengembangan Transit-Oriented Development di kawasan Stasiun Klaten Ahmad Fariski; Paramita Rahayu; Candraningratri Ekaputri Widodo
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 20, No 2 (2025)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v20i2.89606

Abstract

Urbanisasi memengaruhi perkembangan Perkotaan Klaten dan meningkatkan kebutuhan pelayanan penduduk, terutama akses transportasi, lapangan kerja, serta peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum guna mengurangi kemacetan, polusi udara, dan pengangguran. Pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit-Oriented Development (TOD) merupakan konsep pembangunan yang ramah bagi pejalan kaki dan pesepeda, didukung transportasi umum yang terintegrasi dengan tata guna lahan dan jaringan transportasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi kawasan Stasiun Klaten sebagai kawasan TOD berdasarkan prinsip keberagaman, kepadatan, konektivitas, serta kemudahan berjalan kaki dan bersepeda. Pendekatan yang digunakan bersifat deduktif dengan metode deskriptif kuantitatif melalui analisis spasial, analisis deskriptif, mixed-use development, dan skoring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Stasiun Klaten memenuhi kriteria TOD Sub-Kota dengan skor 53,8% pada prinsip keberagaman. Kawasan ini berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Namun, tantangannya meliputi integrasi Stasiun Klaten dengan Terminal Ir. Soekarno, penyediaan transportasi umum dalam kota, peningkatan jalur pedestrian, parkir sepeda, serta kolaborasi kelembagaan untuk perencanaan TOD. Ketersediaan lahan dapat dimanfaatkan untuk fasilitas publik, komersial, dan hunian guna meningkatkan kepadatan kawasan.