Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Effective Safety Communication Strategies to Reduce Workplace Accidents in High-Risk Industries Hanifah Handayani
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 1 (Spesial Issue) (2026): "Dharma Samudera"
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/47rf9w48

Abstract

Occupational Health and Safety (OHS) is a crucial issue in high-risk industries due to the high potential for work accidents that impact worker productivity and welfare. One of the important factors that affect the effectiveness of OHS implementation is the quality of safety communication in the work environment. This study aims to analyze the influence of safety communication strategies on work safety behavior and understand safety communication practices and barriers at the operational level. The research uses a mixed methods approach with a sequential explanatory design. Quantitative data was collected through a survey of 55 purposively selected production workers, then analyzed using regression analysis to test the relationship between variables. Furthermore, qualitative data were obtained through in-depth interviews with 4 key informants consisting of production workers, supervisors, and OHS officers, which were analyzed using thematic analysis to explain the quantitative findings. This research was carried out in a high-risk industry located in Subang Regency, West Java, as one of the industrial estates with intensive operational activities. The results showed that message clarity, consistency of delivery, and two-way communication in safety communication strategies had a significant effect on improving safe work behavior and reducing the risk of work accidents. Qualitative findings reveal that time constraints, differences in worker understanding, and dominance of one-way communication are the main challenges in the implementation of safety communication. This study concludes that strengthening participatory and contextual safety communication strategies is a key element in increasing the effectiveness of OHS implementation, as well as making a practical contribution to the development of occupational safety policies and programs in the industrial sector
STUDI LITERATUR : METODE PELATIHAN MANAJEMEN KESELAMATAN PROSES BAGI MANAJER, PENGAWAS DAN PEKERJA LAPANGAN DI PERUSAHAAN KILANG MINYAK BUMI Masjuli Masjuli; Andhika Dwi Marhaendra; Hanifah Handayani; Azizan Ramli; Rosmalia Rosmalia
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 17 No 1 (2026)
Publisher : UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/jik.v17i1.944

Abstract

Perusahaan kilang minyak bumi mempunyai potensi bahaya terjadinya kebakaran, peledakan, pencemaran lingkungan yang dapat menyebabkan korban jiwa manusia baik dari pekerja, maupun masyarakat, harta benda perusahaan, masyarakat dan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, untuk meminimalkan risiko, maka semua pekerja baik jenjang manajer, pengawas (supervisor), maupun pekerja lapangan (frontliner) perlu mendapatkan pelatihan untuk memahami manajemen keselamatan proses (Process Safety Management – PSM). Persoalan yang muncul, yaitu: materi dan pola pelatihan bagi para pekerja pada ketiga jenjang pekerja itu belum terlihat jelas pemetaannya. Padahal, dari segi pekerjaan yang dilakukan dan tanggung jawabnya berbeda satu sama lain. Studi literatur ini bertujuan untuk menemukan metode pelatihan PSM yang sesuai bagi manajer, pengawas, dan pekerja lapangan di perusahaan kilang minyak bumi. Berdasarkan literatur jurnal-jurnal yang dipelajari, menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan paradigma andragogi yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman itu dapat menyentuh dan membentuk seluruh unsur yang penting dalam proses pembelajaran, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik dari peserta belajar, sehingga paradigma itu dinilai tepat untuk digunakan. Sementara itu, Taksonomi Bloom dapat membantu pemetaan materi pelatihan untuk masing-masing jenjang pekerja. Dari penelitian literatur ini, dapat disimpulkan bahwa instruktur pelatihan yang menerapkan paradigma andragogi dapat mengembangkan aneka bentuk dinamika belajar, termasuk diantaranya dengan memanfaatkan teknologi informasi untuk menumbuhkan minat dan keasyikan dalam belajar dan berlatih bagi para peserta, baik saat mengikuti pelatihan, maupun setelahnya, agar mereka dapat selalu mengikuti perkembangan teknologi dan terbitnya peraturan perundangan yang baru. Selain itu, pelatihan PSM untuk jenjang manajer, pengawas dan pekerja lapangan harus dirancang dengan modul berbeda sesuai dengan ruang lingkup pekerjaan dan tanggungjawabnya masing-masing.
Penerapan Budaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) di PT Clariant Indonesia – Tangerang yenny frisca madhona; Hanifah Handayani; Asyifa Putri Aditiawarman
Jurnal Migasian Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Migasian
Publisher : LPPM Institut Teknologi Petroleum Balongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36601/jm.v10i1.379

Abstract

PT Clariant Indonesia dalam melaksanakan kegiatan produksinya melibatkan berbagai pekerjaan yang berpotensi untuk menyebabkan kecelakaan kerja, sehingga sebagai perusahaan yang memiliki resiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi menyadari bahwa memberikan perlindungan serta jaminan keamanan terkait K3 bagi tenaga kerja. Penerapan Budaya K3 sebagai upaya awal dalam rangka mencegah dan mengendalikan bahaya sehingga kerugian bagi perusahaan baik berupa asset dan jiwa dapat di minimalisir dampaknya ataupun dihilangkan. Penelitian ini untuk mengetahui program, prosedur dan  implementasi Budaya K3 di PT Clariant Indonesia menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan melakukan wawancara, observasi serta meninjau dokumen yang terdapat pada perusahaan. Program Budaya K3 di PT Clariant Indonesia memiliki 9 program  yaitu, pelatihan K3, Distribusi PPE, Safety Talk, Safety Permit, Program 5S + 1S, Penerapan poster dan Rambu K3, Safety Performance, Survey safety Performance dan Peringatan bulan K3 Nasional. PT Clariant Indonesia memiliki prosedur terkait penerapan budaya K3 dengan nomor dukumen PR-ALL-SA-08 terkait Sistem Izin Kerja, PR-ALL-SA-06 Terkait Distribusi PPE, PR-ALL-SA-16 terkait Safety Communication. Untuk pengimplementasian dari Pada penerapan program dan prosedur sudah disesuaikan melalui adanya Pelatihan K3, Distribusi PPE, safety talk, safety permit, Houseekeeping, Pemasangan Poster dan Rambu K3, HSE Performance, Survey Budaya keselamatan dan Peringatan Bulan K3 Nasional telah dilaksanakan sesuai dengan regulasi terkait K3 yang berlaku seperti Undang–Undang Nomor 1 Tahun 1970 Bab 5 pasal 9 dan pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 pasal 6 Ayat 1 dan ISO 45001:2018 klausul 6.1.2 dan klausul 8.1.2.