Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Bioremediation of Profenofos-Contaminated Soil using Bio-Slurry, Exogenous, and Indigenous Microorganism Formulation from Puntukdoro Farmland, Indonesia Pujiati, Pujiati; Sholikhah, Oktaviariesta Habibatus; Utami, Sri; Fatimah, Fatimah; Ramadhan, Rico; Ni'matuzahroh, Ni'matuzahroh
Journal of Multidisciplinary Applied Natural Science Vol. 5 No. 2 (2025): Journal of Multidisciplinary Applied Natural Science
Publisher : Pandawa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47352/jmans.2774-3047.265

Abstract

Pesticide residues in soil present significant environmental and health risks, especially in regions with heavy organophosphate used in vegetable farming. This study examines bioaugmentation, an eco-friendly method for degrading soil pesticide residues, utilizing both indigenous and exogenous microorganisms, as well as bio-slurry from biogas production. Puntukdoro Village, Magetan, Indonesia, generates a substantial quantity of bio-slurry waste, which presents a promising solution to local agricultural challenges, including low crop yields and soil degradation. Puntukdoro Village produces a significant amount of bio-slurry waste, which offers a promising solution to local agricultural issues, including poor crop yield and soil degradation. The study aims to identify and formulate microorganisms from Puntukdoro using bio-slurry and exogenous cellulolytic mold formulations. This involves extracting and characterizing indigenous bacteria, preparing external supplements, and conducting ex situ bioaugmentation with seven different treatments. Ten mold isolates, including Penicillium, Monilia, Aspergillus, and Trichoderma, and eight bacterial isolates, including Micrococcus, Pseudomonas, and Bacillus, were identified. Bioremediation assays showed that both indigenous and exogenous microorganisms improved soil quality and reduced pesticide levels. The most effective treatment, P7, with 10% bio-slurry, 10% biofostik, and 10% indigenous microorganisms applied for 28 d (W4), reduced profenofos from 4.718 to 0.000 mg/kg. In contrast, treatment P2W1, with 30% biofostik for 7 d, reduced profenofos by 0.293 mg/kg. These findings indicate that exogenous and indigenous microorganisms can effectively enhance profenofos bioremediation.
PENGGUNAAN PENDEKATAN STEM (SCIENCE, TECHNOLOGY, ENGINEERING, AND MATHEMATICS) UNTUK MENGEMBANGKAN LITERASI SAINS PESERTA DIDIK: ANALISIS BIBLIOMETRIK Liu, An Nisaa Al Mu’min; Sholikhah, Oktaviariesta Habibatus; Siahaan, Fine Eirene
OPTIKA: Jurnal Pendidikan Fisika Vol. 9 No. 2 (2025): OPTIKA: Jurnal Pendidikan Fisika
Publisher : Department of Physics Education, Faculty of Teacher Training and Education, Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/optika.v9i2.7164

Abstract

Penelitian ini bertujuan memetakan perkembangan kajian terkait penerapan Pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dalam meningkatkan Literasi Sains peserta didik melalui metode analisis bibliometrik. Kajian ini menginvestigasi publikasi yang terindeks dalam basis data Scopus selama periode 2016–2025 untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai dinamika performa publikasi, tema kajian utama, serta pola kolaborasi antarpeneliti. Temuan analisis performa menunjukkan adanya peningkatan jumlah publikasi yang konsisten dan signifikan dari tahun ke tahun, meningkat drastis dari 6 artikel pada 2019 menjadi 20 artikel pada 2025. Hal ini menegaskan bahwa topik ini semakin mendapat perhatian dalam komunitas akademik internasional. Amerika Serikat dan Kanada muncul sebagai negara dengan kontribusi terbesar sekaligus menjadi pusat utama dalam jaringan kolaborasi global. Melalui analisis struktur intelektual (Awan Kata Kunci dan Peta Tematik), teridentifikasi bahwa fokus penelitian terkini berpusat pada efektivitas pendekatan STEM dalam pendidikan formal untuk memperkuat Literasi Sains, khususnya dalam konteks penyelesaian Isu Sosiosaintifik. Studi ini juga menemukan bahwa masih terdapat ruang untuk memperdalam penelitian pada aspek metodologis tertentu, misalnya pendekatan inkuiri, serta untuk mengintegrasikan tema-tema strategis seperti kemampuan berpikir kritis dan isu keberlanjutan dalam kerangka STEM dan Literasi Sains. Keseluruhan hasil menunjukkan bahwa kajian mengenai STEM dan Literasi Sains telah berkembang menjadi bidang yang semakin mapan dan terhubung satu sama lain. Namun demikian, perluasan fokus menuju isu keberlanjutan serta penguatan penerapan keterampilan berpikir tingkat tinggi masih diperlukan. Temuan ini memberikan arahan bagi peneliti maupun pengembang kurikulum dalam menentukan tema yang sudah kuat serta area yang membutuhkan eksplorasi penelitian lanjutan.