Basy, Bashiratud Diyana
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGENALAN “MAGHADIR” (MAYSIR, GHARAR, DZULM, HARAM, IHTIKAR, RIBA, RISYWAH) SECARA DINI SEBAGAI BENTUK PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BERMUAMALAH M. Qamaruddin, Sulaiman dan; Basy, Bashiratud Diyana
Tarbawi Vol 8, No 02 (2020): TARBAWI
Publisher : STIT Darul Hijrah Martapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62748/tarbawi.v8i02.29

Abstract

Saat ini banyak sekali didapati praktik muamalah yang tidak sesuai dengan etika dan norma-norma agama, seperti korupsi, suap, penipuan, dan yang lainnya. Hal ini diperparah dengan perilaku dan karakter manusia, khususnya masyarakat di Indonesia yang agak menyepelekan praktik-praktik terlarang tersebut dan terkesan menganggapnya hal biasa. Maka daripada itu, perlu adanya suatu usaha untuk memperbaikinya, salah satunya adalah dengan pembentukan karakter dalam bermuamalah sejak dini. Pembentukan karakter yang dimaksud yaitu dengan pendidikan secara terancana, untuk menumbuhkan akhlak dan moral yang luhur di masa yang akan datang. Beberapa prinsip dasar muamalah yang harus dihindari dalam praktiknya seperti Maysir, gharar, haram, dhulm/zhulm, ihtikar, riba, dan risywah yang disingkat dengan MAGHADIR. Adapun pendidikan karakter yang dimaksud adalah usaha sadar dan terencana dalam membentuk pribadi manusia yang memiliki pengetahuan, perasaan dan tindakan moral dalam kehidupannya sehari-hari. Harapannya, pendidikan karakter mengenai muamalah sejak dini akan membentuk manusia yang ber-akhaqul karimah ketika ia dewasa dan memahami tentang aturan-aturan di dalam bermuamalah. Berdasarkan konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural yang dikelompokkan ke dalam olah hati, olah pikir, olah raga dan kinestetik, dan olah rasa dan karsa, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi antara implementasi pelarangan MAGHADIR dengan pendidikan karakter itu sendiri. Hal ini merujuk pada pemahaman mengenai MAGHADIR yang merupakan bagian yang tidak bisa dilepas dari konsep pendidikan karakter dengan keimanan dan ketakwaan. Kenyataannya, pendidikan karakter yang dipadukan dengan pendidikan Islam, akan memberikan kontribusi pada seluruh aspek kehidupan, termasuk di dalamnya aspek ruhani. Oleh karena itu, pengenalan MAGHADIR dalam pendidikan karakter sejak usia dini seharusnya dapat memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan karakter individu di masa yang akan datang.
LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI KALIMANTAN SELATAN: TRASFORMASI DARI TRADISI PESANTREN KE KURIKULUM NASIONAL Basy, Bashiratud Diyana; Salamah, Salamah
Tarbawi Vol 13, No 2 (2025): TARBAWI
Publisher : STIT Darul Hijrah Martapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62748/tarbawi.v13i2.297

Abstract

AbstractThis study examines the historical transformation of Islamic Religious Education (PAI) in South Kalimantan, focusing on how pesantren institutions responded to the implementation of the National Curriculum policy. Historically, PAI in the region was dominated by autonomous salaf pesantren traditions centered on kitab kuning studies and the authority of the Tuan Guru. State intervention following independence, particularly the 1975 Joint Decree of Three Ministers (SKB 3 Menteri), required pesantren to adopt the national curriculum for formal recognition, creating institutional challenges. This research employs a qualitative approach using library research and historical analysis. The findings reveal that pesantren responses did not reflect total resistance or full assimilation, but rather a process of curricular negotiation. This negotiation resulted in two hybrid models: the historical adaptation (dual-system) model, which maintains traditional learning while adopting formal educational structures, and the modern integration model, which incorporates the national curriculum alongside traditional content from the outset. The study concludes that this hybrid consensus enables pesantren to preserve religious identity while securing formal legitimacy and socio-economic mobility for students.AbstrakPenelitian ini menganalisis proses transformasi historis Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kalimantan Selatan dengan menyoroti dinamika respons lembaga pesantren terhadap penerapan kebijakan Kurikulum Nasional. Secara historis, PAI di Kalimantan Selatan didominasi oleh tradisi pesantren salaf yang otonom, berpusat pada otoritas Tuan Guru dan kajian kitab kuning. Intervensi negara pascakemerdekaan, khususnya melalui kebijakan SKB Tiga Menteri tahun 1975 yang mensyaratkan adopsi kurikulum umum untuk pengakuan formal, menimbulkan dilema kelembagaan bagi pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons pesantren tidak bersifat asimilatif maupun resistif secara total, melainkan melalui proses negosiasi kurikuler. Proses ini melahirkan dua model pendidikan hibrid, yaitu model adaptasi historis (sistem ganda) yang mempertahankan tradisi pembelajaran kitab kuning sekaligus mengadopsi struktur pendidikan formal, serta model integrasi modern yang sejak awal menggabungkan kurikulum nasional dengan konten tradisional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsensus hibrid tersebut memungkinkan pesantren mempertahankan identitas keagamaan sekaligus memperoleh legitimasi formal dan mobilitas sosial-ekonomi bagi santri.
IMPLEMENTASI PRINSIP REWARD DAN PUNISHMENT DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGAJI SANTRI TPQ BABURRAHMAH Basy, Bashiratud Diyana; Basir, Abdul
AL-ULUM | JURNAL PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN Vol. 3 No. 02 (2025): AL-ULUM | JURNAL PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN
Publisher : IAI DARUL ULUM KANDANGAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63216/alulum.v3i02.534

Abstract

Quranic education in non-formal institutions such as the Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) faces complex challenges, particularly regarding the heterogeneity of students' ages in a single class, ranging from early childhood (PAUD) to adolescence (junior high school). This condition leads to variations in cognitive abilities and concentration levels, complicating classroom management and the maintenance of learning motivation. This study aims to analyze teachers' strategies in bridging these challenges through the implementation of reward and punishment methods, focusing on their forms, processes, impacts, and effectiveness on students' motivation and learning achievement. This study employs a qualitative field research approach at TPQ Baburrahmah, Banjarbaru. Data collection was conducted through in-depth interviews with 10 key informants (teachers) and literature review. The results indicate that: (1) Forms of reward are dominated by verbal praise and body gestures as positive reinforcement, while punishment is applied persuasively through verbal admonition without physical violence; (2) The implementation process is based on the principles of balance (Law of Effect), immediacy, and a humanist approach; (3) The impact of implementation proves to be constructive, where rewards fulfill Esteem Needs and punishment builds inner control. This strategy is considered highly effective in improving learning achievement through the "Push and Pull Factors" mechanism, where rewards attract learning interest and punishment maintains discipline, creating a conducive learning climate.