Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Laporan Kasus Case Report: Laki-Laki 48 Tahun dengan Infark Miokard Akut Munawara, Sobria Munawara; Wisudawan; Akina Maulidhany Tahir
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 5 No. 2 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v5i2.548

Abstract

Infark miokard akut yaitu jaringan miokard yang mengalami kerusakan dengan tiba-tiba akibat iskemia berat. Kondisi ini dikarenakan minimnya aliran darah ke jantung karena penyempitan signifikan arteri koroner akibat penyumbatan total oleh trombus atau emboli. ST Elevation Myocardial Infarction (STEMI) atau infark miokard akut melalui elevasi segmen ST termasuk dalam kelompok sindrom koroner akut (SKA), bersama dengan angina pektoris tidak stabil dan infark miokard tanpa elevasi segmen ST (NSTEMI). Penegakan diagnosis STEMI didasarkan pada riwayat nyeri dada yang khas serta hasil pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) menjelaskan adanya elevasi segmen ST lebih dari 2 mm pada setidaknya dua sadapan prekordial terdekat, ataupun melebihi 1 mm dalam dua sadapan ekstremitas. Meningkatnya kadar enzim jantung, khususnya troponin T, juga bisa menguatkan diagnosis. Kombinasi nyeri dada substernal yang berlangsung selama 30 menit lebih dengan keringat berlebih merupakan indikasi kuat adanya STEMI.
Literatur Review Efektivitas Penggunaan Streptokinase Pada Pasien Infark Miokard Akut Musdalifa; Wisudawan; Purwati Pole Rio
NERSMID : Jurnal Keperawatan dan Kebidanan Vol. 9 No. 1 (2026): Mei Dalam Proses
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55173/nersmid.v9i1.276

Abstract

Acute myocardial infarction (AMI) is a leading cause of death from ischemic heart disease, characterized by sudden blockage of the coronary arteries. One of the main therapies to treat this blockage is the administration of streptokinase, a thrombolytic agent that functions to dissolve blood clots. This paper aims to assess the effectiveness of streptokinase use in patients with AMI through a literature review of various international and national clinical studies. The method used is a literature review with descriptive analysis of relevant research results. The study results indicate that early administration of streptokinase can reduce mortality and improve patient prognosis, despite the risk of allergic reactions and lower efficacy compared to newer generation thrombolytics. However, due to its widespread availability and lower cost, streptokinase remains the primary treatment of choice in many developing countries.
Karakteristik EKG Perokok dan Non Perokok Pasien Jantung Koroner di Rs Ibnu Sina Makassar Iskandar, Yusril; Wisudawan; Basri, Rezky Pratiwi L; Nurhikmawati; Dahlia
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 5 No. 4 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v5i4.584

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia dan banyak dipengaruhi oleh faktor risiko yang dapat dimodifikasi, salah satunya adalah kebiasaan merokok. Paparan nikotin, karbon monoksida, dan berbagai zat toksik dalam asap rokok dapat mengganggu fungsi endotel dan aliran darah ke otot jantung, yang akhirnya memunculkan perubahan elektrofisiologis yang dapat terdeteksi melalui pemeriksaan elektrokardiogram (EKG). Variasi gambaran EKG pada pasien PJK, khususnya antara perokok dan non-perokok, penting untuk dikaji karena dapat memberikan indikasi awal tingkat keparahan iskemia dan jenis sindrom koroner akut yang dialami. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik EKG pada pasien perokok dan non-perokok dengan diagnosis PJK di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar tahun 2024. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan dokumentasi melalui analisis data sekunder dari rekam medis. Populasi penelitian adalah seluruh pasien PJK tahun 2024, dan sampel diperoleh menggunakan metode total sampling sebanyak 82 pasien. Data meliputi status merokok dan hasil interpretasi EKG, yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok perokok mendominasi dengan jumlah 49 pasien, sedangkan non-perokok berjumlah 33 pasien. Baik pada kelompok perokok maupun non-perokok, pola EKG yang paling banyak ditemukan adalah Non-ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI), dengan proporsi yang lebih tinggi pada kelompok perokok. Kesimpulannya, mayoritas pasien PJK di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar menunjukkan gambaran EKG berupa NSTEMI, dan temuan tersebut lebih banyak dijumpai pada pasien dengan riwayat merokok. Temuan ini menegaskan bahwa merokok merupakan faktor risiko yang berkontribusi signifikan terhadap perubahan elektrofisiologis jantung dan memperburuk gambaran EKG pada PJK.
PERBANDINGAN MODALITAS RADIOLOGI DALAM DIAGNOSIS PENYAKIT GAGAL JANTUNG KONGESTIF (CONGESTIVE HEART FAILURE/CHF) : TINJAUAN LITERATUR Ananda Hikmal Akbari; Wisudawan; Ana Meliyana
The Indonesian Journal of General Medicine Vol. 22 No. 1 (2025): The Indonesian Journal of General Medicine
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/e45evv95

Abstract

Latar Belakang: Gagal Jantung Kongestif (Congestive Heart Failure/CHF) merupakan sindrom klinis kompleks dengan prevalensi dan beban morbiditas yang terus meningkat secara global, termasuk di Indonesia. Diagnosis CHF sering terkendala oleh gejala yang tidak spesifik, sehingga pemeriksaan pencitraan radiologi memegang peran penting dalam menegakkan diagnosis, menilai fungsi jantung, menentukan etiologi, serta memantau respons terapi. Berbagai modalitas radiologi tersedia, masing-masing dengan kelebihan dan keterbatasan. Metode: Penelitian ini merupakan tinjauan pustaka (literature review) menggunakan data sekunder dari jurnal ilmiah, buku teks, dan e-book yang dipublikasikan pada periode 2015–2025. Penelusuran dilakukan melalui PubMed, Google Scholar, ScienceDirect, SpringerLink, ProQuest, dan ResearchGate. Artikel diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dianalisis secara naratif untuk membandingkan performa diagnostik berbagai modalitas radiologi dalam diagnosis CHF. Hasil: Hasil telaah menunjukkan bahwa ekokardiografi tetap menjadi modalitas lini pertama karena ketersediaan dan efisiensinya, meskipun memiliki keterbatasan akurasi terutama pada 2D-ekokardiografi. Cardiac Magnetic Resonance (CMR/MRI) merupakan standar emas untuk evaluasi fungsi dan karakterisasi jaringan miokard. Cardiac CT berkembang sebagai alternatif untuk evaluasi anatomi koroner dan fibrosis. Foto toraks (CXR) berperan sebagai skrining awal, sementara Dynamic Chest Radiography (DCR) dan penerapan kecerdasan buatan menunjukkan potensi sebagai metode non-invasif tambahan. Kesimpulan: Diagnosis CHF memerlukan pendekatan multimodalitas radiologi. Pemilihan modalitas harus disesuaikan dengan tujuan klinis, ketersediaan fasilitas, dan kondisi pasien untuk memperoleh diagnosis yang akurat dan optimal.