Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PELATIHAN PEMBUATAN KOMPOS ORGANIK DARI FESES SAPI DIPERKAYA LIMBAH KULIT KOPI DI DESA KEMIRI KEC JABUNG MALANG Wehandaka Pancapalaga; Khusnul Khotimah; Malikah Umar
DedikasiMU : Journal of Community Service Vol. 7 No. 2 (2025): DedikasiMU Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/dedikasimu.v7i2.9887

Abstract

Masyarakat Desa Kemiri mempunyai potensi untuk produksi kompos dari limbah feses sapi perah dengan kombinasi dari limbah kulit kopi. Namun umumnya masyarakat Desa kemiri belum paham proses pembuatan kompos. Kemanfaatannya dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Selain itu penggunaan kompos dalam jangka panjang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Melihat potensi yang ada itu pengabdi ingin membantu melatih masyarakat di Desa Kemiri kec Jabung terkait pengolahan pupuk kompos dari kedua limbah yaitu feses sapi dan limbah kulit kopi. Tujuan kegiatan ini untuk mendampingi para peternak sapi perah dan petani kopi berupa transfer teknologi tentang pembuatan kompos dari feses sapi yang difortifikasi limbah kulit kopi sebagai upaya mewujudkan system pertanian yang berkelanjutan. Metode pengabdian yang digunakan yaitu dengan memberi pelatihan dan pendampingan. Kepada 20 peternak sapi perah atau petani kopi. Pelatihan diberikan untuk meningkatkan ketrampilan dalam membuat kompos berbahan feses sapi dengan penambahan limbah organic kulit kopi. Sedangkan pendampingan diberikan bagi peternak sapi perah dan petani kopi yang sungguh sungguh mau mengolah limbahnya dan digunakan untuk meningkatkan produksi kopi ataupun rumput sebagai pakan ternak. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan membandingkan peningkatan persentase pengetahuan dan ketrampilan sebelum dan sesudah pelatihan. Hasil diperoleh bahwa kegiatan pelatihan dan pendampingan pembuatan kompos dengan fortifikasi limbah kulit kopi yang telah dilakukan di Desa Kemiri Jabung berjalan dengan baik dan lancar. Kesimpulan bahwa hasil kegiatan pelatihan dan pendampingan mampu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peternak sapi perah dan petani kopi terkait pembuatan kompos sebesar 150% dan Kompos yang dihasilkan sudah memenuhi SNI 19-7030-2004.
Karapan Sapi Tangghe' cultural tourism attraction local wisdom in Madura Zali, Moh; A. Yudi Heryadi; Malikah Umar; Selvia Nurlaila; Bambang Kurnadi; Abu Amar; Ach Ahdafil Aman
Jurnal Ternak Vol. 16 No. 2 (2025): Desember, 2025
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM LAMONGAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/jt.v16i2.273

Abstract

This study aims to understand the meaning, role, and potential of tangghe cow racing tradition in Madura as a cultural tourist attraction as well as economic opportunities based on local wisdom. The research approach used is qualitative with case study design that focuses on Langsar Village, Saronggi District, Sumenep regency. Data were obtained through in-depth interviews, participatory observations, and documentation, and analyzed using Miles and Huberman interactive models through the stages of data reduction, data presentation, and verification. The results showed that the bull race tangghe ' is not only seen as a race, but also as a symbol of identity and pride of the Madurese community. This tradition has a considerable tourist attraction because it attracts audiences from various regions, so it has the potential to be developed as a leading cultural tourist attraction. In addition, tangghe’ bull race has a positive economic impact on the community through trading activities, services, and rental of cattle and race equipment. Local wisdom values such as mutual cooperation, solidarity, and village Honor are maintained in the practice of this tradition. However, there are challenges in the form of stigma of violence in traditional Bull Racing, which can be minimized by promoting the tangghe’ model as a revitalization of non-violent culture. This study concludes that karapan sapi tangghe’ can be developed as a sustainable cultural tourism that is aligned with ethical values, religious norms, and animal welfare, while contributing to the improvement of the local economy.