Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penyuluhan Teknik Pengolahan Air di Desa Babatan Saudagar Ogan Ilir Putri, Zeolita Prabu; Sari, Melati Ireng; Putri, Eka; Zanita, Erlina
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 3 No. 4 (2025): Bulan Juli
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v3i4.187

Abstract

Desa Babatan Saudagar, berlokasi di Kecamatan Pemulutan. Warga di desa tersebut menjadikan Sungai Ogan sebagai sumber air sebagai aktivitas sehari-hari. Namun, seiring dengan meningkatnya pembangunan dan aktivitas industri di sekitar sungai, kualitas air mengalami penurunan akibat limbah dan pencemaran. Sebagian besar penduduk menggunakan air sungai untuk mandi dan mencuci, sementara untuk konsumsi, mereka mengandalkan air isi ulang. Oleh karena itu, diperlukan penyuluhan agar masyarakat dapat mengolah air sungai menjadi air bersih secara sederhana melalui kegiatan sosialisasi (penjelasan) tentang karakteristik air bersih dan praktek (pendampingan) menggunakan filter air sederhana. Dengan menggunakan filter tersebut, diharapkan masyarakat Desa Babatan Saudagar dapat menghasilkan air bersih secara mandiri, menghindari konsumsi air yang belum diolah dari sungai, dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
PENGARUH JENIS SUBSTRAT TERHADAP KARAKTERISTIK PUPUK ORGANIK CAIR (POC): ANALISIS pH DAN TINGGI ENDAPAN Putri, Zeolita Prabu; Lestari, Dwi Indah; Putri, Rara Eka Dyla; Sari, Debi Anggun
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol. 14 No. 1 (2025): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - May 2025
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v14i1.21717

Abstract

Banyaknya bahan organik yang dapat digunakan untuk membuat pupuk organik saat ini, diharapkan masyarakat dapat mengganti penggunaan pupuk kimia dengan pupuk organik tersebut. Pupuk organik cair mengandung makronutrien seperti fosfor, nitrogen, kalium dan mikronutrien lain yang dibutuhkan oleh tanaman, yang dapat meningkatkan nutrisi tanah. Teknik yang digunakan dalam pembuatan  pupuk organik cair adalah teknik fermentasi. Pada penelitian ini bahan yang digunakan berupa air kelapa (AK), air cucian beras (ACB),  gula merah (GM), dan Effective Microorganism 4 (EM4) dengan volume pencampuran yang berbeda. Adapun tujuan dari penelitian ini  yaitu untuk  mengidentifikasi parameter warna, aroma, pH, serta tinggi pengendapan dari pupuk organik cair. Variabel tetap pada penelitian yaitu bahan baku berupa gula merah dan EM4, sedangkan variabel bebas yaitu bahan baku air kelapa dan air cucian beras. Variasi 1 menggunakan bahan baku tambahan berupa air kelapa, variasi 2 menggunakan bahan air cucian beras, dan variasi 3 menggunakan air kelapa dan air cucian beras dengan perbandingan volume 1:1. Pada penelitian ini proses fermentasi telah dilakukan selama 12 hari. Berdasarkan hasil data pengamatan terlihat bahwa perbandingan pupuk organik cair yang terbaik ditunjukkan oleh variasi 1 dimana menggunakan bahan baku berupa air kelapa.
Kinetics of Irreversible Saponification Reactions in terms of changes in Reactant Concentration: Kinetika Reaksi Saponifikasi Irreversible ditinjau dari Perubahan Konsentrasi Reaktan Lestari, Dwi Indah; Sari, Debi Anggun; Putri, Zeolita Prabu; Maranggi, Isma Uly
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Januari 2026
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to investigate the kinetics of the irreversible saponification reaction between triglycerides in cooking oil and sodium hydroxide (NaOH) by analyzing the changes in reactant concentrations over time. The reaction was carried out at 60 oC, and samples were collected every 5 minutes and analyzed by titration using 0.5 M HCl. The results showed that the concentration of NaOH decreased from 0.500 mol/L to 0.290 mol/L within 30 minutes, while triglycerides decreased from 0.203 mol/L to 0.133 mol/L. The kinetic data were evaluated using both second-order and pseudo first-order models to determine the most appropriate mechanism. The second-order model yielded an R2 value of 0.9069 with a rate constant of 0.0125 L-mol-1·min-1, whereas the pseudo first-order model exhibited better linearity with an R2 of 0.9296 and a rate constant of 0.0169 min-1. These results indicate that although the reaction is mechanistically bimolecular, the experimental conditions particularly the relative excess of NaOH caused the reaction to behave in accordance with pseudo first-order kinetics. Thus, the observed kinetic behavior is more accurately described by the pseudo first-order model, in which the decrease in triglyceride concentration plays a dominant role in controlling the reaction rate. This study provides further insight into the kinetic characteristics of saponification under laboratory operating conditions. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari kinetika reaksi saponifikasi irreversible antara trigliserida dalam minyak goreng dan natrium hidroksida (NaOH) melalui analisis perubahan konsentrasi reaktan terhadap waktu. Reaksi dijalankan pada suhu 60 oC, dan sampel diambil setiap 5 menit untuk dianalisis melalui titrasi menggunakan HCl 0,5 M. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH menurun dari 0,500 mol/L menjadi 0,290 mol/L dalam 30 menit, sedangkan trigliserida turun dari 0,203 mol/L menjadi 0,133 mol/L. Data kemudian dianalisis menggunakan model kinetika orde dua dan pseudo first-order untuk menentukan mekanisme reaksi yang paling sesuai. Model orde dua memberikan nilai R2 sebesar 0,9069 dengan konstanta laju 0,0125 L-mol-1·min-1, sedangkan model pseudo first-order menunjukkan linearitas lebih baik dengan R2 0,9296 dan konstanta laju 0,0169 min-1. Perbedaan ini menunjukkan bahwa meskipun reaksi secara mekanistik bersifat bimolekuler, kelebihan relatif NaOH menyebabkan reaksi tampak mengikuti pola pseudo first-order. Dengan demikian, kinetika teramati lebih akurat dijelaskan oleh model pseudo first-order, dimana penurunan konsentrasi trigliserida menjadi faktor pengendali utama laju reaksi. Hasil penelitian ini memperkuat pemahaman mengenai perilaku kinetika saponifikasi pada kondisi operasi laboratorium.