Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Towards Smart Transportation: The Impact Of Transportation Policies On Mobility In The Outskirts (Case Study: Mijen Suburban Area In Semarang City) Purwantoro, Agus Budi; Ariani, Firga; Hutama, Adhiyaksa Satria
Enrichment: Journal of Multidisciplinary Research and Development Vol. 2 No. 7 (2024): Enrichment: Journal of Multidisciplinary Research and Development
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/enrichment.v2i7.179

Abstract

This study evaluates the success of transportation policies in addressing increased travel frequency, expanded travel distribution, and changes in transportation mode choices to achieve sustainable suburban transportation. The research was conducted through a mobility analysis survey in Mijen District, Semarang City, Indonesia. Data collection focused on two main areas: first, travel frequency was analyzed using a trip generation model (Y), factoring in variables such as car ownership (X1), motorcycle ownership (X2), travel efficiency (X3), safety (X4), comfort (X5), and environmental friendliness (X6) of public transport. Second, travel distribution and mode choice were analyzed to understand community preferences for travel destinations and modes of transport. The findings revealed that land use changes in Mijen resulted in a 32% improvement in road quality and increased mobility. Recent transportation policies, such as the introduction of Bus Rapid Transit (BRT) and online transportation services, significantly influenced mobility. Mobility grew by 23.8% per year, with changes in the travel frequency model: Y = 1.957 before BRT (2012-2014), Y' = 1.927 after BRT (2014-2016), and Y'' = 1.860 after online transportation (2016-present). Transportation service demand and capacity were balanced, with load factors of 69.7% before BRT, 54.1% after BRT, and 72% after online transportation. The share of public transport users increased from 36% before BRT to 60% after online transportation services. This research contributes to developing smart city and transportation concepts by providing insights into the impact of transportation policy changes in suburban areas.
Mengukur Efek Marjinal dan Elastisitas Permintaan Transjakarta dan Jaklingko dengan Multinomial Logit Model Masrono Yugihartiman; Ariani, Firga
Jurnal Transportasi Multimoda Vol 22 No 1 (2024): Juni
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/mtm.v22i1.2360

Abstract

Wacana kenaikan tarif BRT Transjakarta yang ditetapkan sejak tahun 2005 sering muncul di media masa. Untuk memberikan evidence response penumpang terhadap tarif tersebut, penelitian ini dilakukan. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengestimasi efek marjinal dan elastisitas permintaan dua jenis pelayanan, yaitu BRT Transjakarta dan Jaklingko. Metode penghitungan efek marjinal dan elastisitas menggunaknan multinomial logit model (MNL) dan conditional logit model (CLM). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan stated preference survey terhadap 1.202 responden, yang terdiri dari 621 responden BRT Transjakarta dan 581 responden Jaklingko. Berbeda dengan penelitian yang pernah dilakukan di Jakarta sebelumnya, penelitian ini langsung mengestimasi tarif, waktu perjalanan, waktu menunggu, dan biaya transportasi kendaraan pribadi. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis efek marjinal dan elastisitas terhadap tingkat pendapatan pengguna secara langsung, yaitu dengan memasukkan tingkat pendapatan di dalam model, dan juga membuat model yang berbeda untuk tingkat pendapatan yang berbeda. Dari hasil penelitian, ditemukan efek marjinal permintaan BRT Jakarta rata-rata -0,0187, dengan elastisitas sekitar -0,0757, yang menunjukkan elastisitas pernintaan terhadap tarif tidak elastis. Demikian pun terhadap waktu perjalanan dengan efek marjinal sekitar separuh dari tarif, yaitu -0,0085 dan elastisitas -0,9074. Untuk waktu tunggu, efek marjinal sekitar dua kali dibandingkan waktu tempuhnya, yaitu sebesar -0,0165, dengan elastisitas -0,0780, dan untuk biaya perjalanan kendaraan pribadi dengan efek marjinal 0,0011 dan elastisitas 0,0848. Sedangkan untuk tingkat pendapatan dengan efek marjinal 0,0061, atau permintaan akan meningkat 0,61% setiap terjadi RpĀ 1 juta peningkatan pendapatan pengguna, dengan elastisitas 0,0546. Efek marjinal dan elastisitas ini menurun pada tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Hal yang sama terjadi pada pelayanan Jaklingko. Secara umum, efek marjinal dan elastisitas Jaklingko lebih tinggi dibandingkan dengan BRT Transjakarta.
PENENTUAN TEKNIK PERHITUNGAN KEBUTUHAN RUANG PARKIR HOTEL DI KOTA BEKASI Lesmana, Handa; Ariani, Firga; Paulus GP, Rode; Subekti, Fery
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat Vol 6 No 1 (2015): June 2015
Publisher : Politeknik Transportasi Darat Indonesia - STTD Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini Kota Bekasi memiliki peran sebagai pendukung ibukota negara dari sisi Timur maupun jalur perlintasan dari arah Barat ke Timur pulau Jawa dan dari pulau sebelah Barat ke sebelah Timur Indonesia. Keberadaan hotel tersebut harus ditunjang dengan penyediaan fasilitas pelayanan yang baik tentunya dengan fasilitas penunjang lainnya seperti ruang parkir. Apabila penyediaan ruang parkir kurang mencukupi akan menimbulkan berbagai masalah dalam kelancaran sistem lalu lintas. Kebutuhan ruang parkir hotel perlu memiliki standart menurut fungsi tata guna lahannya perlu dilakukan suatu studi kebutuhan standar parkir untuk hotel di kawasan kota bekasi sesuai dengan tata guna lahan yang ada sehingga dapat menjadikan sumbangan yang berarti didalam memecahkan masalah penyediaan ruang parkir hotel di Indonesia dan Kota Bekasi khususnya.
ANALISIS JANGKAUAN PELAYANAN ANGKUTAN PERDESAAN KABUPATEN BEKASI Guntur, M.; Ariani, Firga; Subarto, Subarto; Paulus, Rode; Wardana, Wisnu
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat Vol 6 No 1 (2015): June 2015
Publisher : Politeknik Transportasi Darat Indonesia - STTD Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angkutan umum sebagai salah satu elemen dari sistem transportasi perkotaan memegang peran yang sangat penting bagi daerah wilayah. Kabupaten Bekasi sebagai pembina transportasi di Kabupaten Bekasi tentunya sangat berkepentingan dalam membina angkutan umum di wilayahnya. Salah satu wujud pembinaan (perencanaan, pengaturan dan pengendalian pelayanan angkutan umum) yaitu melakukan kegiatan evaluasi kinerja pelayanan angkutan pedesaan. Dalam melakukan evaluasi kinerja pelayanan, hampir seluruh zona di wilayah kabupaten Bekasi memiliki nilai rendah (dibawah standar) apabila dilihat dari analisis jangkauan pelayanan. Sedangkan dalam pengembangan dan penataan trayek untuk meningkatkan aksebilitas dan jangkauan pelayanan terutama pada zona taruma jaya, zona babelan, zona sukawangi yang saat ini sangat minim pelayanan angkutan umum. selain itu, untuk perbaikan pelayanan dalam meningkatan minat penggunanaa angkutan umum. Rasio kendaraan yang beroperasi dengan kendaraan yang diizinkan atau tingkat operasi akumulasi angkutan pedesaan di Kabupaten Bekasi yang masih beroperasi sebasar 103 %. Angkutan Pedesaan di kabupaten Bekasi sampai saat ini berjumlah 25 Trayek yang tersebar di wilayah kabupaten Bekasi.
ANALISIS KINERJA PELAYANAN ANGKUTAN PEDESAAN KABUPATEN BEKASI Subarto, Subarto; Guntur, M.; Ariani, Firga; Purnama, Santausa; Wardana, Wisnu
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat Vol 7 No 1 (2016): June 2016
Publisher : Politeknik Transportasi Darat Indonesia - STTD Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Bekasi dengan Karakter wilayah yang luas dan sebaran penduduk yang relatif merata menyebabkan kebutuhan terhadap angkutan umum memiliki karakteristik unik, sehingga diperlukan analisa tentang sebaran pelayanan jaringan trayek terhadap sebaran penduduk belum lagi kebutuhan jumlah armada pada jam sibuk dan jam tidak sibuk yang sangat berbeda sesuai dengan permintaan. Asumsi yang digunakan saat ini dalam hal penyediaan armada angkutan umum adalah tetap untuk setiap waktu, sehingga pada waktu jam tidak sibuk banyak angkutan umum mempunyai faktor isian (load factor) rendah, sedangkan pada jam sibuk faktor isian yang terjadi tinggi. Di samping itu, rute angkutan umum yang baik harus dapat menjangkau seluruh wilayah dan memenuhi kepentingan beberapa pihak terkait seperti penumpang (user), pengelola (operator) dan pemerintah (regulator) yang pada umumnya kepentingan tersebut saling bertolak belakang. Misalnya, penumpang menginginkan jumlah armada yang sebesar mungkin sehingga waktu menunggu menjadi minimal dan faktor isian angkutan umum serendah mungkin. Angkutan yang beroperasi lebih dari yang diijinkan oleh pemerintah, sedangkan tingkat operasi berada dibawah 100 % artinya tidak semua kendaraan yang diizinkan digunakan sebagai kendaraan operasi. Hal ini disebabkan permintaan angkutan penumpang yang relatif sedikit, sehingga kendaraan yang beroperasi lebih sedikit. Hampir seluruh zona di wilayah Kabupaten Bekasi memiliki nilai rendah (dibawah standar) apabila dilihat dari analisis jangkauan pelayanan. Pengembangan dan penataan trayek untuk meningkatkan aksebilitas dan jangkauan pelayanan terutama pada zona taruma jaya, zona babelan, zona sukawangi yang saat ini sangat minim pelayanan angkutan umum.
ANALISIS KARAKTERISTIK PERILAKU MENGEMUDI PADA GENERASI Z DI SEKOLAH TINGGI TRANSPORTASI DARAT Ariani, Firga; N, Gloria; Purwatiningsih, Purwatiningsih; Fitrianingsih, Aryanti; Khotimah, Khusnul; Agung, Bobby; Anggada, Sudirman
Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat Vol 8 No 1 (2017): June 2017
Publisher : Politeknik Transportasi Darat Indonesia - STTD Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari World Health Organization (WHO) mengungkapkan 48 persen korban yang meninggal merupakan usia produktif (15-44 tahun).Korban kecelakaan lalu-lintas dengan tingkat pendidikan sekolah lanjutan atas (SLA) menempati angka paling banyak.Data dari Korps Lalu-Lintas POLRI menunjukan persentasi korban dengan latar belakang pendidikan SLTA mencapai 57 persen.Angka terbanyak kedua adalah latar belakang pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), sebesar 17 persen.Kemudian disusul latar belakang pendidikan Sekolah Dasar (SD) sebanyak 12 persen.Dan kemudian latar belakang Perguruan Tinggi (PT) sebesar 6 persen. pengemudi muda sangat berpotensi besar penyebab kecelakaan di jalan raya. Pada saat sekarang ini pengemudi muda tersebut berada pada generasi Z yang memiliki usia antara 16-21 tahun.