Penyediaan layanan kesehatan yang bermutu di daerah terpencil Indonesia, termasuk wilayah pedalaman, perbatasan, dan kepulauan, masih menghadapi tantangan serius akibat keterbatasan infrastruktur, jarak geografis, dan fasilitas yang tidak memadai. Masalah ini diperburuk dengan rendahnya retensi tenaga kesehatan yang disebabkan oleh beban kerja tinggi, insentif tidak kompetitif, dan minimnya dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pendekatan praktis yang dapat memperkuat mutu dan retensi tenaga kesehatan di daerah terpencil, dengan fokus pada strategi peningkatan insentif, perbaikan kondisi kerja, dan pelatihan yang relevan secara regional. Metode yang digunakan adalah literature review terhadap artikel yang diterbitkan tahun 2021-2025 dari basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar dengan kata kunci terkait strategi peningkatan kualitas dan retensi tenaga kesehatan di daerah terpencil. Analisis dilakukan secara kualitatif menggunakan pendekatan analisis konten. Hasil penelitian mengidentifikasi lima faktor utama yang berpengaruh terhadap mutu dan retensi tenaga kesehatan: (1) insentif dan kompensasi, baik finansial maupun non-finansial; (2) pelatihan dan pengembangan karier yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal; (3) dukungan sosial dari rekan kerja, keluarga, dan komunitas; (4) kebijakan pemerintah yang adaptif dan terintegrasi; dan (5) pemanfaatan teknologi seperti telemedicine dan e-learning. Kesimpulannya, upaya peningkatan mutu dan retensi tenaga kesehatan memerlukan pendekatan yang terintegrasi dengan melibatkan kolaborasi lintas sektor. Disarankan agar kebijakan yang dirancang mempertimbangkan kekhasan tantangan lokal serta mengintegrasikan sistem insentif, pelatihan berkelanjutan, dan dukungan sosial yang komprehensif untuk mewujudkan pemerataan layanan kesehatan yang berkelanjutan.