Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Informasi Obat Non Etiket pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Kota Bandar Lampung Isnenia, Isnenia; Fauziyah, Ageng Hasna
Journal of Islamic Pharmacy Vol 10, No 1 (2025): J. Islamic Pharm.
Publisher : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jip.v10i1.32432

Abstract

Etiket sebagai media informasi obat memiliki keterbatasan dalam menampung informasi. Beban kerja yang tinggi menjadi alasan pemberian informasi obat secara lisan tidak adekuat. Hipertensi sebagai penyakit kronis, membutuhkan pengobatan jangka panjang. Ketidakpatuhannya dapat berdampak buruk bagi kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui media selain etiket yang diperoleh pasien, jenis informasi lisan selain yang ada di etiket, tingkat kepentingan untuk dicantumkannya, dan sumber informasi obat selain dari puskemas. Penelitian dilakukan secara cross-sectional pada 134 pasien hipertensi. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi saat pasien memperoleh obat dan wawancara. Hasil yang diperoleh yaitu sebanyak 69,4% responden adalah perempuan, 73% berada pada rentang umur 61-80 tahun, lama menderita hipertensi 1-5 tahun. Media selain etiket berupa kartu kendali kronis dan potongan kertas diperoleh 33,5% responden. Jenis informasi tertulis pada media tersebut adalah nama obat, jumlah obat, tanggal berobat ulang pada kartu kendali kronis, dan waktu minum obat pada potongan kertas. Informasi lisan yang tidak tercantum pada etiket adalah penggunaan rutin di malam hari, pagi hari, dan tanggal berobat ulang. Responden menyatakan tidak perlu menuliskan informasi lisan tersebut. Responden memperoleh informasi obat selain dari puskesmas sebesar 17,2% (kerabat, kader posyandu, dan tenaga kesehatan). Dapat disimpulkan bahwa terdapat media non etiket (kartu kendali dan potongan kertas) sebagai informasi tambahan tertulis dan informasi lisan tidak tertulis pada etiket yang diberikan pada responden. Sebagian kecil responden memperoleh informasi selain dari puskesmas.Labels, as a tool for drug information, have limitations in accommodating comprehensive information. A high workload often leads to the inadequate provision of verbal drug information. Hypertension, being a chronic disease, necessitates long-term treatment. Non-compliance can significantly impact a patient's quality of life. This study aimed to identify media used by patients other than labels, types of verbal information provided beyond what is written on labels, the perceived importance of documenting this information, and sources of drug information other than the health center. This cross-sectional study was conducted on 134 hypertensive patients. Data were collected through observation when patients received drugs and through interviews.The results show that 69.4% of respondents were female, 73% were in the 61-80 age range, and they had suffered from hypertension for 1-5 years. Media other than labels, such as 'kartu kendali kronis' and pieces of paper, were obtained by 33.5% of respondents. The types of information written on these media included the name of the drug, the quantity of the drug, and the date of repeat treatment on the 'kartu kendali kronis', as well as the time to take the drug on the pieces of paper. Verbal information not listed on the labels included routine use at night, in the morning and the date of repeat treatment. Respondents indicated that they did not need to have this verbal information written down. A small percentage of respondents (17.2%) obtained drug information from sources other than the health center, including relatives, integrated health post cadres, and other health workers. In conclusion, non-label media (specifically 'kartu kendali kronis' and pieces of paper) serve as sources of additional written information, and verbal information not written on labels is also provided to respondents. A minority of respondents obtained information from sources other than the health center.
Edukasi Hipertensi dan Penyuluhan kepada Peserta Bakti Sosial Pemeriksaan Kesehatan di Apotek Siaga Kota Bandar Lampung Makhdalena, Makhdalena; Fauziyah, Ageng Hasna
Jurnal Pengabdian Masyarakat Farmasi : Pharmacare Society Vol 4, No 2 (2025)
Publisher : State University of Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/phar.soc.v4i2.31472

Abstract

Usia Harapan Hidup merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan terutama dibidang kesehatan. Bangsa yang sehat ditandai dengan semakin panjangnya usia harapan hidup penduduknya. Dengan bertambahnya usia tentu akan terjadi perubahan secara fisiologis terutama pada lansia, serta akan timbul berbagai masalah kesehatan. Salah satunya adalah penyakit tidak menular yang pada saat ini menjadi prioritas dunia kesehatan secara global yaitu hipertensi. Hipertensi merupakan penyakit dengan peningkatan tekanan darah di atas nilai normal dengan tekanan darah sistolik pada tubuh seseorang lebih dari atau sama dengan 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik lebih dari atau sama dengan 90 mmHg.  Menurut American Society of Hypertension (ASH), hipertensi adalah suatu sindrom atau kumpulan gejala kardiovaskuler yang progresif akibat dari kondisi lain yang kompleks dan saling berhubungan. Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) adalah salah satu organisasi profesi kesehatan saat ini mulai mencanangkan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat terkait penggunaan obat yang baik dan benar. Penatalaksanaan yang bisa dilakukan untuk mengontrol hipertensi yaitu penatalaksanaan farmakologi terapi dengan menggunakan obat-obat hipertensi. Selain itu, tanaman herbal banyak dimanfaatkan sebagai terapi pencegahan dan pengobatan yang digunakan secara turun temurun yang dibuktikan secara empiris. Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan kepada peserta bakti sosial pemeriksaan kesehatan di Apotek Siaga Kota Bandar Lampung. Metode yang digunakan adalah ceramah langsung. Untuk mengetahui hasil kegiatan pengabmas maka dilakukan evaluasi pengetahuan peserta pengabmas berupa pemberian pretest dan posttest sebelum dan sesudah kegiatan penyuluhan hipertensi dilakukan. Hasil evaluasi menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan mengenai penggunaan obat hipertensi dan herbal pada peserta sebesar 96 %.
Potential of Instant Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) as an Immunomodulatory Agent against Viral Infections: A Systematic Narrative Review Firmansah, Moh.; Thaher, M Iman Tarmizi; Palungan, Juliana; Dewa, Sima Asmara; Rahmah, Winda Wahyu Setya; Arta, Alfa Frista; Fauziyah, Ageng Hasna
Indonesian Journal of Science and Pharmacy Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Science and Pharmacy
Publisher : Pustaka Media Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63763/ijsp.v3i3.160

Abstract

The COVID-19 pandemic has significantly increased public interest in traditional herbal medicines, particularly instant temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), as immune-boosting agents. This systematic narrative review evaluates the immunomodulatory and antiviral potential of temulawak's bioactive compounds, especially curcuminoids, in the context of instant herbal formulations. A comprehensive literature search was conducted across PubMed, Google Scholar, Scopus, and Science Direct using Boolean operators. From 247 initial records, 38 articles met the inclusion criteria. Evidence demonstrates that curcuminoids exhibit broad-spectrum antiviral activity against SARS-CoV-2, influenza, hepatitis B/C, dengue, and HIV through inhibition of viral entry, replication, and modulation of NF-κB, MAPK, and JAK/STAT signaling pathways. Immunomodulatory effects include enhanced macrophage function, T-cell modulation, and cytokine balance regulation. A notable case report showed C. xanthorrhiza consumption led to HBsAg seroconversion in a chronic hepatitis B patient. However, critical gaps persist regarding the specific efficacy of instant formulations, bioavailability challenges of curcumin in processed forms and the absence of rigorous clinical trials on temulawak instan specifically. Future research should prioritize standardized formulations, bioavailability optimization, and clinical validation to bridge the translational gap between in vitro evidence and practical herbal applications.