Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Katarak Pada Pasien Diabetes Mellitus Brigischa Febrilia AP; Suliati P Amir; Nur Aulia Amir; Zulfikri Khalil Novriansyah; Ariyanie Nurtania
The Indonesian Journal of General Medicine Vol. 14 No. 1 (2025): The Indonesian Journal of General Medicine
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/d6kpjm10

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang berpotensi menimbulkan komplikasi mikrovaskular, salah satunya adalah katarak. Dibandingkan populasi non-diabetik, penderita DM memiliki risiko 2–5 kali lebih tinggi mengalami katarak, yang dapat berkembang lebih cepat dan pada usia yang lebih muda. Mekanisme utama yang mendasari pembentukan katarak pada DM antara lain adalah akumulasi sorbitol melalui jalur poliol dan stres oksidatif yang menyebabkan kerusakan serat lensa. Metode: Penelitian ini merupakan narrative literature review yang bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis artikel ilmiah terkait hubungan antara diabetes mellitus dan risiko katarak. Literatur diperoleh melalui pencarian sistematis pada database ilmiah. Total 14 artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi, dengan lima artikel utama dianalisis lebih dalam. Hasil: Review menunjukkan prevalensi katarak yang tinggi pada pasien DM, berkisar antara 42–70%, dengan jenis katarak yang paling sering adalah subkapsular posterior dan kortikal. Faktor risiko yang konsisten ditemukan mencakup kontrol glikemik buruk (HbA1c tinggi), durasi DM lebih dari 10 tahun, usia lanjut, dan keberadaan retinopati diabetik. Studi juga menunjukkan hubungan antara hipertensi, hiperlipidemia, serta neuropati diabetik dengan kejadian katarak. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara diabetes mellitus dan peningkatan risiko katarak. Faktor metabolik dan sistemik turut mempercepat proses kekeruhan lensa. Oleh karena itu, manajemen DM yang optimal, pemeriksaan mata berkala, serta edukasi pasien merupakan langkah penting untuk mencegah gangguan penglihatan yang lebih lanjut.
HUBUNGAN GAYA HIDUP DENGAN ONSET TERJADINYA KATARAK SENILIS Nemal Anugrahyanti; Marlyanti Nur Rahmah Akib; Faridah Amien; Suliati P Amir; Hikmah Hiromi
The Indonesian Journal of General Medicine Vol. 24 No. 1 (2026): The Indonesian Journal of General Medicine
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/m9k6rs59

Abstract

Latar Belakang: Katarak senilis merupakan penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah dan prevalensinya terus meningkat seiring bertambahnya usia populasi. Bukti epidemiologis menunjukkan bahwa faktor gaya hidup berperan penting dalam patogenesis katarak melalui mekanisme stres oksidatif, inflamasi kronis, dan gangguan metabolik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara faktor gaya hidup dengan kejadian katarak senilis berdasarkan telaah literatur ilmiah terkini. Metode: Penelitian ini merupakan literature review dengan desain narrative review menggunakan data sekunder yang diperoleh dari jurnal internasional, jurnal nasional, sitasi Fakultas Kedokteran UMI, ClinicalKey, textbook, dan proceeding book yang dipublikasikan pada periode 2018–2025. Literatur yang membahas katarak non-senilis atau katarak akibat penyebab sekunder dikeluarkan dari kajian. Hasil: Hasil telaah menunjukkan bahwa gaya hidup tidak sehat seperti merokok, konsumsi alkohol, obesitas, pola makan rendah antioksidan, paparan sinar ultraviolet berlebihan, serta kurang aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko katarak senilis. Sebaliknya, gaya hidup sehat yang mencakup aktivitas fisik teratur intensitas moderat, pola makan kaya antioksidan, pemeliharaan berat badan ideal, perlindungan terhadap paparan UV, serta pengendalian penyakit metabolik memiliki efek protektif terhadap kejadian dan progresivitas katarak. Kesimpulan: Gaya hidup merupakan faktor determinan penting dalam kejadian katarak senilis, sehingga modifikasi gaya hidup sehat berpotensi menjadi strategi pencegahan primer yang efektif untuk menurunkan risiko dan beban katarak pada populasi lanjut usia.
3-Snip Punctoplasty with Silicone Tube Implantation: A Simple Procedure For Punctal Disorders R Wattimena, Aisyah Amelia Zulkarnaen; Andi Pratiwi; Pagarra, Halimah; Suliati P Amir; Syukriah Sofyan
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 52 No 1 (2026): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/oi.v52i1.101872

Abstract

Introduction: Punctal or canalicular atresia is a rare disorder in which an intact epithelial layer covers the punctum, impairing tear drainage and causing epiphora, especially in lower punctal atresia. Less frequently, canalicular atresia occurs. Standard management involves probing, irrigation, and silicone tube insertion. Case Report: In two cases, an 8-year-old and a 30-year-old female presented with lifelong tearing and discharge from the left eye. Ophthalmic examination revealed imperforate superior and inferior lacrimal puncta, and the Dye Disappearance Test (DDT) confirmed reduced tear drainage, leading to a diagnosis of punctal atresia. In a third case, a 40-year-old female experienced a painful, red lump on the right medial lower eyelid over a three-month period. Palpation produced yellowish discharge, and examination revealed a hyperemic mass with granulomas around the punctum, consistent with chronic canaliculitis. All three patients underwent a 3-snip punctoplasty with silicone tube implantation using a round-tip pigtail probe. Discussion: The 3-snip procedure is a minimally invasive and effective treatment for punctal disorders. It involves one basal cut and two vertical incisions along the canaliculus. Although canaliculotomy with curettage can lead to fistula formation, the use of a silicone tube helps prevent this complication. At the three-month follow-up, all patients demonstrated functional tear drainage and normal DDT results. Conclusion: The 3-snip procedure with silicone tube implantation offers favorable functional and cosmetic outcomes. It is a simple and viable option for ophthalmologists in resource-limited settings, ensuring improvement in tear drainage without symptom recurrence.