Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Gender dan Tingkat Nyeri Dismenore: Apakah Dukungan Sosial dan Kecemasan Ikut Berpengaruh? Aulia Afriany
AN-NISA Vol. 12 No. 2 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/an.v12i2.664

Abstract

Gender and Pain Levels of Dysmenorrhea: Does Social Support and Anxiety Also Influence?Dysmenorrhea is a menstrual disorder characterized by pain that attacks the lower abdomen until it reaches the pelvic area and thighs, which is experienced by individuals before and during menstruation due to muscle contractions in the uterine lining that block bloods flow. Dysmenorrhea is a common health problem in society that affects the quality of life of individuals. Physical and psychological factors of pain sufferers also contribute to influencing the level of dysmenorrhea pain. This study aims to determine the relationship between social support and anxiety with the level of adolescent pain in SMA Negeri 16 Makassar. Subjects in this study were 150 people consisting of young women aged 15 to 17 years who were known to have experienced menarche for at least one year and had not experienced menopause, lived with parents, and were known to have dysmenorrhea. Data collection was carried out on adolescents in Makassar 16 Public High Schools by using social support scale, depression, anxiety, and stress scale (DASS) scale and pain comparison scale. Data analysis uses multiple regression analysis techniques. The results show the value of P = 0.007, R-square = 0.064, and Fcount = 5.065. The analysis showed that social support and anxiety together had an influence on the level of dysmenorrhea pain in adolescents at SMA Negeri 16 Makassar (Fcount> Ftable = 5.065> 3.00). The effective contribution of social support and anxiety to the level of pain is 6.4%. These results indicate that social support and anxiety have a low influence on pain levels. AbstrakDismenore merupakan gangguan menstruasi yang ditandai dengan rasa sakit yang menyerang perut bagian bawah hingga mencapai daerah panggul dan paha, yang dialami individu sebelum dan sesaat menstruasi karena kontraksi otot pada dinding rahim yang menghambat aliran darah. Dismenore menjadi masalah kesehatan umum di masyarakat yang mempengaruhi kualitas hidup individu. Faktor fisik dan psikologis penderita nyeri turut andil dalam mempengaruhi tingkat nyeri dismenore. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan kecemasan dengan tingkat nyeri remaja di SMA Negeri 16 Makassar. Subjek dalam penelitian ini adalah 150 orang yang terdiri dari remaja putri berusia 15 sampai 17 tahun yang diketahui telah mengalami menarche minimal satu tahun dan belum mengalami menopause, tinggal bersama orang tua, dan diketahui mengalami dismenore. Pengumpulan data dilakukan terhadap remaja di SMA Negeri 16 Makassar dengan menggunakan skala dukungan sosial, skala depression, anxiety, and stress scale (DASS) dan skala perbandingan nyeri. Analisis data menggunakan teknik analisis regresi ganda. Hasil menunjukkan nilai P=0,007, R-square=0,064, dan Fhitung=5,065. Hasil analisis menunjukkan bahwa dukungan sosial dan kecemasan bersama-sama memiliki pengaruh terhadap tingkat nyeri dismenore pada remaja di SMA Negeri 16 Makassar (Fhitung > Ftabel = 5,065 > 3,00). Besar sumbangsih efektif dukungan sosial dan kecemasan terhadap tingkat nyeri adalah sebesar 6,4%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa dukungan sosial dan kecemasan memiliki pengaruh yang rendah terhadap tingkat nyeri.
RESILIENSI CAREGIVER PADA LANSIA DENGAN SKIZOFRENIA Afriany, Aulia
Jurnal Sublimapsi Vol 5, No 1 (2024):
Publisher : Jurusan Psikologi FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/sublimapsi.v5i1.42947

Abstract

Abstract: This study aims to determine the sources of family caregiver resilience in the elderly with schizophrenia. Elderly is the longest span of life that individuals go through, being a caregiver for the elderly with schizophrenia has a special burden for the family. The role of caregivers is important in seeking healing and stability in the lives of elderly patients in society. The research subjects were family members who had cared for people with schizophrenia in the past year. The research was conducted using qualitative methods, and subject interview data were analyzed using a phenomenological approach. Five key themes were found related to the resilience of family caregivers in the elderly with schizophrenia, namely caregivers understanding patient disorders, caregiver commitment to healing, caregivers learning coping skills, interpreting positive parenting experiences, and forming a sense of mutual support among family members. Caregiver resilience can be increased by early intervention in the family to find out the health status and possible care that can be carried out by the family, support the knowledge and skills of care, and improve the caregiver support network.
PENDEKATAN KONSELING HUMANIS DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DESA LEPPE’ Syamsu, Khairunnisa; Afriany, Aulia; Mayasari, Ros; Shaleh, Muh; Hasniran, Hasniran; Ainurrahmah, Fadillah
Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling Vol 15, No 1 (2025): Edisi Januari - Juni 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/al-irsyad.v15i1.24154

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi masyarakat pesisir di Desa Leppe’ yang selama ini menjadi sasaran program penjangkauan dan pemberdayaan dari berbagai lembaga. Meskipun telah dilakukan berbagai upaya, perubahan signifikan dalam perspektif dan perilaku masyarakat masih terbatas, dengan berbagai masalah sosial seperti pernikahan dini, putus sekolah, dan sampah pesisir yang masih ada. Dengan menggunakan pendekatan etografi evaluatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan dokumen, dengan analisa tematik. Temuan penelitian menunjukan program-program tersebut tidak memiliki analisis kebutuhan yang tepat dan hanya melibatkan sebagian kecil masyarakat dan cenderung mengikuti model komunikasi satu arah dan tidak ada evaluasi tindak lanjut. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan partisipatif, di mana masyarakat secara aktif terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program. Perubahan perilaku harus berasal dari dalam, dengan masyarakat berperan sebagai agen perubahan, bukan penerima pasif. Temuan ini menyoroti perlunya strategi penjangkauan yang lebih disesuaikan untuk mendorong perbaikan berkelanjutan berdasarkan inisiatif dan partisipasi aktif masyarakat setempat melalui pendekatan konseling.
Media Sosial dan Ibu Rumah Tangga: Memahami Motivasi, Risiko, dan Kesehatan Mental Keluarga Aulia Afriany; Ros Mayasari; Khairunnisa Syamsu; Rindiani Rindiani
Journal of Contemporary Gender and Child Studies Vol 5 No 1 (2026): April: Women and Children Welfare in Indonesian Context
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/jcgcs.v5i1.1053

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah pengalaman domestik ibu rumah tangga dari ruang privat menjadi ruang digital yang terhubung, interaktif, dan berbasis algoritma. Artikel ini bertujuan menyintesis penggunaan media sosial pada ibu rumah tangga, motivasi penggunaan, faktor risiko penggunaan media sosial yang bermasalah, serta implikasinya terhadap kesehatan mental. Penelitian ini menggunakan tinjauan naratif terhadap literatur yang membahas media sosial, peran ibu rumah tangga, faktor psikososial, dinamika keluarga, dan kesehatan mental dalam konteks transformasi digital. Media sosial digunakan ibu rumah tangga sebagai sarana komunikasi, pencarian informasi pengasuhan dan kesehatan keluarga, dukungan sosial, hiburan, ekspresi diri, serta pemberdayaan ekonomi digital. Motivasi penggunaannya meliputi kebutuhan afiliasi sosial, regulasi emosi, pengurangan kebosanan, validasi sosial, dan akses terhadap komunitas parenting. Faktor risiko penggunaan yang bermasalah mencakup rendahnya harga diri, kesepian, depresi, kecemasan, Fear of Missing Out, impulsivitas, rendahnya kontrol diri, perbandingan sosial, konflik keluarga, stres pengasuhan, rendahnya fungsi keluarga, serta desain platform seperti notifikasi, infinite scrolling, autoplay, dan algoritma berbasis emosi. Penggunaan yang tidak terkontrol berimplikasi pada peningkatan depresi, kecemasan, stres, penurunan harga diri, gangguan konsep diri, konflik keluarga, serta penurunan kualitas relasi ibu-anak akibat technoference. Media sosial memiliki peran ambivalen sebagai sumber dukungan sekaligus faktor risiko psikologis bagi ibu rumah tangga.