Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

WUJUDKAN ETIKA DIGITAL PADA GENERASI MUDA MELALUI PENCEGAHAN KONTEN PORNOGRAFI ONLINE Fajrina, Rahma Melisha; Nofrian, Fendi; Darmansyah, Darmansyah; Faradhiga, Aryadwipa A.
PEDAMAS (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol. 3 No. 03 (2025): MEI 2025
Publisher : MEDIA INOVASI PENDIDIKAN DAN PUBLIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Implementasi perwujudan etika digital pada generasi muda  merupakan salah satu  langkah untuk mewujudkan generasi muda yang sehat secara digital. Pada berbagai tulisan ilmiah ditemukan bahwa generasi muda saat ini telah terpapar oleh situs pornografi online yang dengan mudah diakses melalui perangkat telepon pintar. Situs-situs tersebut sering kali tidak memiliki hambatan akses yang signifikan, sehingga memudahkan para remaja untuk mengakses tayangan yang tidak senonoh tersebut. Akibatnya berbagai peristiwa yang menjadi dampak negatif dari pornografi online ini tidak terelakkan seperti kasus pemerkosaan, pergaulan bebas, hingga penyakit menular seksual. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menyampaikan edukasi terkait etika digital pada generasi muda melalui upaya pencegahan konten pornografi online di SMAN 2 Kota Padangpanjang, Sumatera Barat. Peserta dari pengabdian ini merupakan para siswa dan siswi SMAN 2 Padangpanjang mulai dari kelas X hingga kelas XII. Metode yang digunakan dalam kegiatan meliputi ceramah dan sesi diskusi yang diisi dengan berbagai pertanyaan dari para siswa serta tanggapan dari pemateri atas pertanyaan tersebut. Edukasi ini diharapkan dapat menjadi langkah konkret untuk membantu generasi muda agar tidak terpengaruh pada konten pornografi online.
BROKEN HOME SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN PUNK FASHION Putri, Selsa Nabila; Nofrian, Fendi
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 2 (2025): July-December 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i2.367

Abstract

Penciptaan karya tugas akhir yang berjudul “Broken Home sebagai Sumber Ide Penciptaan Punk fashion” merupakan bentuk dari perwujudan busana yang terinspirasi dari broken home sebagai simbol perasaan kehilangan, kekacauan, dan pencarian jati diri. Kondisi keluarga yang retak seringkali meninggalkan luka emosional yang mendalam, dan hal tersebut diterjemahkan ke dalam gaya punk sebuah bentuk ekspresi diri yang kuat, penuh perlawanan, dan tidak konvensional. Dalam perancangan busana, digunakan elemen visual khas punk seperti rantai logam dan peniti yang tidak hanya berfungsi sebagai aksen dekoratif, tetapi juga sebagai simbol luka, perlawanan, dan ketegaran. Warna-warna gelap, potongan tidak simetris, serta detail kasar dipilih untuk memperkuat kesan emosional dan simbolik dari tema yang diangkat. Karya ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa fashion dapat menjadi media penyampai pesan dan bentuk ekspresi terhadap pengalaman hidup yang penuh tantangan. Adapum metode prnciptaaan karya ini yaitu dengan proses esksplorasi Hasil dari perwujudan karya ini adalah karya haute couture dengan penyajian karya berupa fashion show.
ICE CREAM SEBAGAI SUMBER IDE FEMININE ROMANTIC STYLE Nurrisky, Laila; Nofrian, Fendi
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 2 (2025): July-December 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i2.369

Abstract

Karya yang berjudul Ice Cream Sebagai Sumber Ide Feminine Romantic Style terinspirasi dari es krim stroberi sebagai sumber inspirasi utama dalam penciptaan busana merepresentasikan estetika feminine dan romantis yang diadaptasi ke dalam desain busana melalui siluet gaun yang anggun, lembut, dan elegan. Busana yang dikolaborasikan dengan kain tenun sadum Mandailing sebagai wastra tradisional bertujuan untuk menyeimbangkan antara unsur modern dan budaya nusantara. Pemilihan warna terinspirasi langsung dari segala elemen yang ada pada hidangan es krim stroberi, yaitu merah muda dan coklat muda (cream). Bahan yang digunakan pada busana Ready to Wear yaitu katun linen rami, pada busana Ready to Wear Deluxe dan Houte Couture kain silk maxmara, solft tulle, dan HPL. Metode penciptaan dimulai dengan tahap: eksplorasi, perancangan, perwujudan, dan penyajian. Karya diwujudkan dengan menggunakan teknik penyambungan dan butik. Teknik hias yang digunakan adalah sulam payet dan lekapan benang. Detail pada busana diwujudkan menggunakan teknik fabric manipulation yaitu tucking. Hasil penciptaan karya berupa tiga tingkatan busana yaitu Ready to Wear yang berjudul Dewdrop Strawberry, Ready to Wear Deluxe yang berjudul Whipped Strawberry Whisper dan Houte Couture yang berjudul Blush Berry Fantasy. Busana ini dapat digunakan untuk kegiatan sehari-hari, acara pesta, dan acara gala.
Implikasi Mahakarya Seniman Tanpa Dilindungi Hak Kekayaan Intelektual Nofrian, Fendi; Letri, Dilla Ayuna
UNES Journal of Swara Justisia Vol 9 No 3 (2025): Unes Journal of Swara Justisia (Oktober 2025)
Publisher : Program Magister Ilmu Hukum Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/w7g74p02

Abstract

Perkembangan mahakarya seni di dunia telah meluas pesat dengan munculnya karya-karya yang diciptakan oleh seniman, sering kali dibantu oleh teknologi. Seniman rentan kehilangan hak atas hasil jerih payah kreatif mereka tanpa perlindungan Kekayaan Intelektual yang memadai, terutama mereka yang berada di daerah kaya budaya seperti Padang Panjang. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam implikasi yang muncul ketika mahakarya seniman tidak dilindungi oleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif (doctrinal legal research) menggunakan pendekatan studi kasus konseptual dan komparatif terbatas. Pendekatan ini dipilih untuk menganalisis kerangka hukum hak kekayaan intelektual yang ada, mengidentifikasi celah dan tantangan yang timbul dari perkembangan dunia seni kontemporer. Salah satu implikasi paling signifikan adalah tingginya risiko plagiarisme dan pembajakan. Artikel ini juga menyoroti dampak negatif terhadap warisan budaya. Secara keseluruhan, artikel ini menegaskan bahwa perlindungan HKI bukan sekadar formalitas hukum, melainkan fondasi vital yang mendukung keberlangsungan, pertumbuhan, dan inovasi dalam dunia seni. Sangatlah penting bagi pemerintah, lembaga terkait, dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pendaftaran dan pengelolaan hak cipta bagi seniman di era kontemporer saat ini, sekaligus menyediakan landasan bagi kebijakan yang lebih adaptif dalam melestarikan dan menghargai warisan seni Indonesia.