Penelitian ini secara kritis mengeksplorasi kontribusi sastra komunitas Tionghoa peranakan di Sumatra kolonial melalui lensa majalah Doenia Baroe, sebuah majalah berbahasa Melayu yang terbit di Padang dari Januari hingga November 1930. Meskipun peran Tionghoa peranakan dalam perkembangan sastra dan jurnalisme di Indonesia sangat signifikan, kontribusi mereka tetap terpinggirkan dalam narasi historiografi sastra utama. Dengan menggunakan metodologi penelitian sejarah yang mencakup heuristik sumber, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, artikel ini menganalisis bagaimana Doenia Baroe berfungsi sebagai platform budaya dan intelektual bagi Tionghoa peranakan pada masa kolonial Belanda. Majalah ini menunjukkan orientasi liberal dan kosmopolitan yang strategis dalam lanskap media kolonial, serta perannya dalam membentuk genre sastra baru yang menggabungkan pengaruh Tionghoa, Melayu, dan Barat. Temuan menunjukkan bahwa Doenia Baroe berhasil meng navigasi regulasi pers kolonial yang ketat sambil memberikan ruang bagi Tionghoa peranakan untuk mengartikulasikan identitas, mengkritik realitas sosial, dan berkontribusi pada wacana intelektual era tersebut. Penelitian ini mengisi celah signifikan dalam historiografi sastra Indonesia dengan menunjukkan bahwa produksi sastra Tionghoa peranakan bukan hanya fenomena marginal, tetapi merupakan bagian integral dari lanskap intelektual kolonial, yang menantang kanon sempit yang secara historis mengecualikan kontribusi mereka dari narasi sastra utama.