Harisi, Isnain La
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Development of Pesantren Patterns in Sidosermo Surabaya: Integrating tradition and modernity Kurniadi, Kurniadi; Chotib, Moch.; Khumaidah, Sofkhatin; Kumaini, Ruston; Harisi, Isnain La
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i1.31220

Abstract

Islamic boarding schools in Indonesia, as traditional Islamic educational institutions, have undergone significant transformations in recent decades. Adopting a modern curriculum is important to ensure that pesantren students have skills that are relevant to the times. By integrating religious and general sciences, pesantren can produce graduates who not only have a strong Islamic understanding, but are also competitive in the world of work. While existing studies have explored the integration of modern subjects into pesantren curricula in several regions, there remains a research gap concerning how this integration unfolds in East Java, where distinct cultural and regional dynamics influence educational practices. Therefore, this research aims at analysing the development patterns of pesantren in Indonesia in a case study of the Sidosermo Pesantren Area in Surabaya by highlighting how they integrate deeply rooted traditions with the demands of modernity. Using a qualitative approach, this study collected data through in-depth interviews, participatory observation, and literature study. The results revealed that the pesantren managed to maintain traditional values, such as the teaching of the yellow book and grave pilgrimage, while adopting modern elements that include formal curriculum, digital technology, and professional-based management. This integration process not only strengthens the role of pesantren as centers of religious education, but also places them as agents of social change that are responsive to the challenges of the times. Nevertheless, pesantren are faced with a great challenge in maintaining a balance between maintaining tradition and innovating. This study demonstrates that the success of pesantren in facing modernity depends on their ability to hold on to fundamental Islamic values, open to global developments and information technology today. The recommendations include developing a hybrid curriculum combining religion, science, and technology; integrating e-learning tools; promoting pesantren-based economic initiatives; and strengthening alumni networks to support institutional growth and student careers. Pondok pesantren di Indonesia, sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional, telah mengalami transformasi yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Penerapan kurikulum modern menjadi penting untuk memastikan bahwa para santri memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman. Dengan mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum, pesantren dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki pemahaman Islam yang kuat, tetapi juga mampu bersaing di dunia kerja. Meskipun studi sebelumnya telah meneliti integrasi mata pelajaran modern dalam kurikulum pesantren di beberapa daerah, masih terdapat kesenjangan penelitian mengenai bagaimana integrasi tersebut berlangsung di Jawa Timur, di mana dinamika budaya dan regional yang khas memengaruhi praktik pendidikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pengembangan pesantren di Indonesia melalui studi kasus di Kawasan Pesantren Sidosermo Surabaya, dengan menyoroti bagaimana mereka mengintegrasikan tradisi yang mengakar kuat dengan tuntutan modernitas. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren berhasil mempertahankan nilai-nilai tradisional, seperti pengajaran kitab kuning dan ziarah makam, sekaligus mengadopsi elemen-elemen modern yang mencakup kurikulum formal, teknologi digital, dan manajemen berbasis profesional. Proses integrasi ini tidak hanya memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga menempatkan mereka sebagai agen perubahan sosial yang responsif terhadap tantangan zaman. Namun demikian, pesantren dihadapkan pada tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi dan inovasi. Studi ini menunjukkan bahwa keberhasilan pesantren dalam menghadapi modernitas bergantung pada kemampuan mereka untuk berpegang pada nilai-nilai dasar Islam, terbuka terhadap perkembangan global dan teknologi informasi saat ini. Rekomendasi dari penelitian ini mencakup pengembangan kurikulum hibrida yang menggabungkan agama, sains, dan teknologi; integrasi perangkat e-learning; penguatan inisiatif ekonomi berbasis pesantren; serta penguatan jaringan alumni untuk mendukung pertumbuhan kelembagaan dan karier santri.
ANALISIS PENERAPAN KAIDAH YUKHTARU AHWANU SYARRAINI DALAM CERAI GUGAT KARENA SUAMI HILANG Arasy, Ramzy Kidung; Harisi, Isnain La
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.9334

Abstract

This study examines the application of the rule of Yukhtaru Ahwanu Syarraini in cases of divorce due to a missing husband, focusing on Religious Court Decision Number 1868/Pdt. G/2024/PA.Grt. The main problem in this research is how the concept of the rule Yukhtaru Ahwanu Syarraini is applied and to what extent it aligns with judges’ legal considerations in the decision to minimize harm. This study uses a normative legal research method with conceptual, statutory, and case approaches. The data sources consist of primary legal materials in the form of court decisions and secondary legal materials, such as books of fiqh rules, legislation, the Compilation of Islamic Law, and related scientific literature. Data analysis was conducted qualitatively through textual and descriptive qualitative analysis. The research findings indicate that the principle of "Yukhtaru Ahwanu Syarraini" (choosing the lesser of two evils) is highly relevant in cases of divorce due to the husband's absence from the country. This is because the judge is faced with two equally harmful options: maintaining a marriage that causes ongoing suffering or granting a divorce, although undesirable, which is the lesser of the two evils. The decision of Religious Court Number 1868/Pdt. G/2024/PA.Grt essentially reflects legal protection and substantive justice for plaintiffs. However, the judge's legal reasoning is not fully aligned with the principle of Yukhtaru Ahwanu Syarraini, as it relies more on the existence of a violation of divorce taklik, making it less comprehensive and not explicitly based on the principle of Yukhtaru Ahwanu Syarraini. This study is expected to enrich the study of Islamic law and serve as a reference for judges and legal practitioners in formulating legal considerations aimed at minimizing harm in accordance with the objectives of Islamic law. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji penerapan kaidah Yukhtaru Ahwanu Syarraini dalam perkara cerai gugat karena suami hilang, dengan studi pada Putusan Pengadilan Agama Nomor 1868/Pdt.G/2024/PA.Grt. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep kaidah Yukhtaru Ahwanu Syarraini serta penerapannya dan sejauh mana kesesuaiannya dengan pertimbangan hukum hakim dalam putusan tersebut guna meminimalisir kemudaratan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual, perundang-undangan, dan kasus. Sumber data terdiri atas bahan hukum primer berupa putusan pengadilan, serta bahan hukum sekunder berupa kitab-kitab kaidah fikih, peraturan perundang-undangan, Kompilasi Hukum Islam, dan literatur ilmiah terkait. Analisis data dilakukan secara kualitatif melalui analisis tekstual dan deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kaidah Yukhtaru Ahwanu Syarraini memiliki relevansi yang kuat dalam perkara cerai gugat karena suami hilang, karena hakim dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama mengandung kemudaratan, yaitu mempertahankan perkawinan yang menimbulkan penderitaan berkelanjutan atau menjatuhkan perceraian yang meskipun dibenci, tetapi lebih ringan mudaratnya. Putusan Pengadilan Agama Nomor 1868/Pdt.G/2024/PA.Grt pada dasarnya telah mencerminkan perlindungan hukum dan keadilan substantif bagi penggugat. Namun, konstruksi pertimbangan hukum hakim belum sepenuhnya selaras dengan kaidah Yukhtaru Ahwanu Syarraini, karena lebih bertumpu pada adanya pelanggaran taklik talak yang menjadikannya kurang komprehensif dan tidak secara eksplisit bersandar pada kaidah Yukhtaru Ahwanu Syarraini. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian hukum Islam serta menjadi rujukan bagi hakim dan praktisi hukum dalam merumuskan pertimbangan hukum yang berorientasi pada upaya meminimalisir kemudaratan sesuai dengan tujuan syariat Islam.