Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Impact of Bagasse Carbonization Temperature on Activated Carbon Properties for Chromium Hexavalent Adsorption and an Environmental Analysis A.S. Dwi Saptati Nur Hidayati; Maulida Zumrotul Azizah; Nur Rochmah Septia Amanda; Dian Rahmawati
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol. 14 No. 1 (2025): June 2025 [Nationally Accredited Sinta 3]
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v14i1.23601

Abstract

The electroplating industry releases a high concentration of Chromium Hexavalent [Cr(VI)] up to 48.7 mg/L, significantly surpassing the quality standard of 0.1 mg/L. The activated carbon adsorption process is a cost-effective and straightforward approch to reducing the concentration of Cr(VI). Activated carbon can be produced from bagasse which is rich in cellulose. Due to limited information on the effect of carbonization temperature on the properties of activated carbon from bagasse, this study aims to identify the effect of carbonization temperature range from 450°C to 600°C and how it affects the performance of adsorbing Cr(VI). In addition, this study analyses the environmental impact of activated carbon production from bagasse with different temperature operating conditions through life cycle assessment. The research has four stages: carbonization, activation, adsorption, and environmental impact analysis. The result indicates that higher temperatures enhance the performance of activated carbon to adsorb Cr(VI) and produce the best-activated carbon quality. However, the environmental impact of performing at the highest temperature (600°C) is also the highest while having the lowest yield. Therefore, a temperature of 550°C is suggested to achieve fair product quality with good adsorbing performance, high yield, and less harming the environment. The hotspots of the production process lie in the freshwater aquatic ecotoxicity, acidification, and human toxicity due to using of H2SO4 and electricity.
Implementasi Akuaponik Terpadu: Drip System, Deep Water Culture dan Nutrient Film Technique di Merjosari Kota Malang A.S. Dwi Saptati Nur Hidayati; Bambang Ismuyanto; Moh. Sholichin; Mar’atul Fauziyah
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 8 No 1 (2026): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v8i1.1681

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengoptimalkan produktivitas lahan dan mengatasi rendahnya tingkat keberhasilan panen serta rendahnya kualitas air kolam ikan pada pengelolaan kebun Tanaman Obat Keluarga (Toga), Sayur dan kolam ikan di Kelurahan Merjosari, Kota Malang. Strategi yang diterapkan yaitu sistem akuaponik bersirkulasi tertutup (closed loop) mengintegrasikan tiga model yaitu Drip System, Deep Water Culture (DWC) dan Nutrient Film Technique (NFT). Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian ini terdiri dari tahap observasi-koordinasi, perancangan dan implementasi sistem akuaponik, serta evaluasi dan analisis. Secara teknis, penerapan rekayasa sirkulasi air dan alih fungsi kolam lama sebagai biofilter dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas air kolam. Efektivitas teknis sistem ini telah terbukti secara empiris melalui keberhasilan panen yang meningkat dari ±50% menjadi ±90% dari bibit yang ditanam dan efisiensi biaya pupuk hingga 100% karena pemanfaatan nutrisi dari limbah ikan. Proses biofiltrasi dan nitrifikasi pada sistem ini berlangsung dengan baik yang terkonfirmasi melalui indikator biologis yaitu pertumbuhan enceng gondok dan melati air yang sangat subur. Keberhasilan secara teknis ini berbanding lurus dengan respon dan penilaian yang baik dari mitra, dibuktikan dengan hasil kuesioner dan pencapaian Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) berada pada kategori sangat baik dengan nilai 3,86 atau 96,49 (mutu A). Kegiatan pengabdian ini mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan kebun Toga, sayur dan kolam ikan secara terintegrasi dan berkelanjutan melalui sistem akuaponik. Pendampingan berkelanjutan yang dilakukan tim pengabdian akan dapat menjamin keberlanjutan program dan potensi replikasinya di wilayah lain.