Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

MEMAHAMI KONTRADIKSI HADÎTH ÂĤÂD DENGAN QIYÂS DAN DAMPAKNYA TERHADAP HUKUM MAHAR HUTANG GHAYRU MUSAMMÂ PASCA MENINGGALNYA SUAMI SEBELUM MENGGAULI ISTRI Zaman, Ahmad Zuhairuz; Mochamad Baqir, Zaenal Abidin
MABAHITS: Jurnal Hukum Keluarga Vol 6 No 01 (2025): MEI
Publisher : UAS PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62097/mabahits.v6i01.2426

Abstract

Hadîth Âĥâd adalah hadîth yang jumlah râwi yang pada setiap ţabaqah atau salah satunya itu terbatas. Dalam menggunakan hadîth âĥâd yang berhubungan dengan masalah hukum maka menurut mayoritas ulama, wajib diamalkan. Akan tetapi sebagian lainnya menolak hadîth âĥâd dalam beberapa kasus seperti dalam konteks ’umūm al-balwâ atau ketika bertentangan dengan qiyâs. Penelitian ini adalah library research dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metodologi content analisis. Penelitian ini bertujuan mengungkap kontradiksi hadîth âĥâd dengan qiyâs dan dampaknya pada hukum mahar yang belum ditetapkan oleh suami ketika akad nikah berlangsung, dan kemudian suami meninggal dunia sebelum sempat menggauli istrinya. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa jika ’illat qiyâs itu digali dari dalil yang bersifat yang qaţ'iy, sedangkan hadīth yang bertentangan dengan qiyâs adalah kategori hadīth âĥâd, maka terdapat khilâf. Dan perbedaan pendapat ini berdampak pada persoalan mahar yang belum ditetapkan oleh suami ketika akad nikah berlangsung, kemudian suami meninggal dunia sebelum sempat menggauli istrinya. Pendapat dari jumhûr fuqahâ’ adalah istri berhak memperoleh mahar mitsil dan warisan berdasarkan hadith âĥâd riwayat dari Ibn Mas'ud. Sedangkan pendapat dari kalangan Malikiyah yaitu istri tidak mendapatkan mut’ah, dan tidak mendapatkan mahar tetapi istri mendapatkan warisan berdasarkan qiyâs pada jual beli
PERLAKUAN SUAMI TERHADAP ISTRI SAAT NUSHŪZ PERSPEKTIF IMAM AL-HAROMAYN DAN IMAM AL-NAWAWĪ Maulana, Ahmad In’am; Zaman, Ahmad Zuhairuz
Mabahits : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 6 No 01 (2025): MEI
Publisher : UAS PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62097/mabahits.v6i01.2437

Abstract

Islam requires a husband to provide for his wife physically and spiritually. However, the husband's responsibility depends on the wife's obedience. A wife's behavior of nushūz can result in the loss of her husband's responsibility for providing for her. The issue of nushūz and its legal consequences have been widely debated by Islamic scholars. This study aims to delve deeper into the categories of wives' attitudes during nushūz and explore the concept of how a husband should treat his wife during nushūz from the perspectives of Imam Al-Ḥaromayn and Imam Al-Nawawī. This study uses a library research method with a qualitative approach. The primary data sources are the Nihāyat al-Maṭlab and Minhāj al-Ṭālibīn. Meanwhile, secondary data sources are related books and articles, scientific works, and online sources. The results of the study indicate that Imam Al-Ḥaromayn considers a wife to be nushūz if she leaves the house without permission or refuses an obligation and cannot be guided back. According to Imam Nawawī, nushūz occurs when a wife refuses obligations, such as intimate relations, household responsibilities, or leaving the house without permission. Imam Al-Ḥaromayn argues that a husband should first advise his wife, then leave the bed, and if nushūz continues, the husband can gently hit her without causing injury. Imam Nawawī also recommends advice as a first step, followed by separation from the bed, and light spanking if nushūz continues, provided it is not painful. Imam Al-Ḥaromayn states that nushūz can disrupt marital harmony and may require mediation or legal action, with the husband acting fairly and considering the wife's rights. Imam Nawawī emphasizes advice as the first step, followed by separation from the bed, and light spanking if nushūz recurs, on the principle of justice.
OPTIMIZING DIGITAL WAQF FOR SUSTAINABLE NATIONAL DEVELOPMENT: PUBLIC POLICY APPROACHES IN INDONESIA Wulandari, Yunita; M. Naseh, Ahmad; Zaman, Ahmad Zuhairuz; Bukhori, Imam; Febrianti, Andini
International Conference on Humanity Education and Society (ICHES) Vol. 4 No. 1 (2025): The 4rd International Conference on Humanity Education and Society (ICHES)
Publisher : FORPIM PTKIS ZONA TAPAL KUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Conventional waqf management often falls short in optimizing the potential of waqf assets to significantly contribute to sustainable national development, particularly amidst rapid digital technological advancements. Traditional management systemslimit the transparency, accountability, and outreach of this form of Islamic philanthropy. This study aims to explore and formulate effective public policy approaches to enhance the digitalization of waqf management in Indonesia. It also examines existing regulatory frameworks and the opportunities to leverage technology in waqf administration. This research adopts a qualitative, library-based method using a normative-juridical approach to analyze various waqf-related regulations in Indonesia. The findings highlight that robust public policies are essential to standardize digital infrastructure, ensure data security, foster public trustin digital waqf, and support nazir in managing waqf assets more effectively. Ultimately, optimizing digital waqf through strategic public policy is crucial for transforming waqf into a dynamic and transparent instrument for sustainable national development.
Analisis Pelaksanaan Kewajiban Suami dalam Perspektif Hukum Keluarga Islam (Studi Kasus Desa Sarimulyo) Subadar, Muhamad; Zaman, Ahmad Zuhairuz
Mabahits : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 6 No 02 (2025): NOVEMBER
Publisher : UAS PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62097/mabahits.v6i02.2560

Abstract

Di antara bentuk tanggung jawab utama dalam rumah tangga adalah peran dan kewajiban suami terhadap istri seperti memberikan nafkah, perlindungan, kepemimpinan, serta pendidikan kepada istri dan keluarganya. Pelaksanaan kewajiban ini memiliki peran penting dalam menciptakan keluarga yang harmonis dan sakinah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis pelaksanaan kewajiban suami terhadap istri dalam aspek nafkah, perlindungan, kepemimpinan, dan pendidikan di Desa Sarimulyo ditinjau dari hukum keluarga Islam. (2) Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kewajiban suami. Jenis penelitian adalah penelitian lapangan yang bersifat deskriptif-analitik. Sumber data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan pasangan suami istri dan pihak KUA Kecamatan Cluring, sedangkan data sekunder diperoleh dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Dan teknik pengumpulan datanya melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Sebagian besar suami di Desa Sarimulyo telah melaksanakan kewajiban rumah tangganya, terutama dalam hal memberikan nafkah dan menjadi pemimpin keluarga. Namun demikian, masih terdapat kekurangan dalam aspek pendidikan keagamaan dan komunikasi emosional. (2) Faktor ekonomi, pendidikan, dan pemahaman agama menjadi pengaruh utama terhadap keberhasilan pelaksanaan kewajiban tersebut. Oleh karena itu, penting adanya bimbingan berkelanjutan dari tokoh agama dan lembaga terkait agar cita-cita keluarga sakinah dapat terwujud.
Pendampingan restorasi hukum pernikahan siri pada masyarakat pesisir Tendas di Desa Mojosari Kabupaten Jember Ainiyah, Qurrotul; Zaman, Ahmad Zuhairuz; Wulandari, Yunita
PERDIKAN (Journal of Community Engagement) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/pjce.v7i2.22397

Abstract

Based on field observation data, 62.96% of the coastal community of Tendas tend to engage in nikah siri (unregistered marriage) due to low awareness of administrative legal requirements. This community service program aims to carry out legal restoration to reduce the negative impacts of nikah siri, while ensuring legal protection and administrative rights for 17 women involved in unregistered marriages and their children. Using a Participatory Action Research (PAR) approach, this program emphasizes the active participation of the Tendas coastal community in addressing issues related to nikah siri. The program's results reveal three main findings. First, the Tendas coastal community is a relatively isolated community that tends to practice nikah siri due to limited understanding of the risks of unregistered marriage, low educational attainment, weak economic conditions, early marriage practices, and conservative and stubborn attitudes. Second, the community service actions were implemented through focus group discussions (FGDs), training on low-cost marriage registration procedures, the establishment of the Sakinah Mawaddah wa Rahmah (SAMAWA) Family Post, and assistance with the isbat nikah (marriage legalization) process. Third, the legal restoration outcomes in the Tendas community encouraged the legalization of unregistered marriages through isbat nikah, enhanced community legal education, and strengthened the roles of traditional and religious leaders in promoting official marriage registration. Overall, this community service program successfully increased legal awareness among the Tendas coastal community and expanded access to administrative protection through legally registered marriages.[Berdasarkan data observasi lapangan, 62,96% masyarakat pesisir Tendas cenderung melakukan pernikahan siri karena rendahnya kesadaran terhadap hukum administrasi. Pengabdian ini bertujuan melakukan restorasi hukum untuk mengurangi dampak negatif pernikahan siri, sekaligus menjamin perlindungan hukum dan hak administratif bagi 17 perempuan pelaku nikah siri serta anak-anak mereka. Dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR), pengabdian ini menekankan partisipasi aktif masyarakat pesisir Tendas dalam menyelesaikan permasalahan nikah siri. Hasil pengabdian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, masyarakat pesisir Tendas merupakan komunitas yang relatif terisolasi dan cenderung melakukan nikah siri akibat kurangnya pemahaman terhadap risiko perkawinan siri, rendahnya tingkat pendidikan, lemahnya kondisi ekonomi, praktik pernikahan dini, serta sikap kolot dan keras kepala. Kedua, aksi pengabdian dilakukan melalui kegiatan focus group discussion (FGD), pelatihan prosedur pencatatan pernikahan berbiaya minimal, pembentukan Posko Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rahmah (SAMAWA), serta pendampingan proses isbat nikah. Ketiga, hasil restorasi hukum pernikahan siri di masyarakat Tendas mendorong legalisasi pernikahan melalui isbat nikah, meningkatkan edukasi hukum masyarakat, serta memperkuat peran tokoh adat dan tokoh agama dalam mendorong pencatatan pernikahan secara resmi. Secara keseluruhan, pengabdian ini berhasil meningkatkan kesadaran hukum masyarakat pesisir Tendas serta membuka akses yang lebih luas terhadap perlindungan administratif melalui pencatatan pernikahan yang sah.]