Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PEMETAAN PREDIKSI LOKASI MINERAL URANIUM DENGAN CITRA LANDSAT 7 ETM+ (STUDI KASUS : KABUPATEN KETAPANG, KALIMANTAN BARAT) Syamsa, Kholid Noor; Sukojo , Bangun Muljo; Nurcahyadi, M.; W, Kurnia Setiawan; Siwi, Sukentyas Estuti
GEOID Vol. 4 No. 1 (2008)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i1.1242

Abstract

Mineral Uranium merupakan salah satu sumber energi alternatif yang selama ini belum maksimal pendaya gunaannya, dikarenakan keterbatasan data dan informasi cadangan mineral uranium, dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dan survei geofisika diharapkan mampu menyediakan data spasial yang memadai dalam inventarisasi sumber cadangan. Satelit yang mendukung penyediaan data spasial untuk pemetaan ini adalah LANDSAT 7 ETM+ yang menghasilkan citra multi band dan memiliki resolusi spasial 30x30 m dengan luas liputan 185 km. Dalam penelitian ini digunakan metode color composit untuk klasifikasi citra, dan menggabungkan data anomali radiometri batuan dari alat SPP2NF. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mineralisasi U diduga terdapat pada satuan batuan malihan pinoh dan urat reolit, dengan nilai rata-rata anomali radiometri lapangan tertinggi 500 c/s dengan sebaran yang tidak merata, karakteristik seperti ini belum cukup untuk dijadikan sebagai daerah prospek uranium. Hasil yang didapatkan berupa peta prediksi mineral uranium daerah Ketapang, Kalimatan Barat.
STUDI PERBANDINGAN SUHU PERMUKAAN LAUT MENGGUNAKAN CITRA SATELIT NOAA-AVHRR DENGAN ARGO FLOAT DI PERAIRAN SELATAN JAWA, BALI DAN NUSA TENGGARA Irawan Y. P, Farid; Sukojo , Bangun Muljo; S., B. Realino; Jaelani, LM.
GEOID Vol. 4 No. 1 (2008)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i1.1249

Abstract

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari sekitar 17.506  pulau dengan garis pantai sepanjang ± 80.791 km (Djunarsjah, 2004), memiliki wilayah perairan yang cukup luas dengan kekayaan yang terkandung di dalamnya. Dibutuhkan suatu metode yang cepat dan efisiensi dalam menyajikan kondisi laut dan perubahannya secara lengkap, dan terjangkau. Teknologi Penginderaan Jauh (Remote Sensing) memberikan peluang untuk pembuatan peta suhu permukaan laut yang lebih akurat. Citra satelit NOAA-AVHRR sebagai satelit lingkungan sangat baik digunakan untuk memantau kondisi lautan secara temporal. Pada umumnya satelit ini merekam suatu wilayah sebanyak 2 kali waktu siang dan 2 kali pada malam hari dengan cakupan lebar pandang 2.399 km. Teknologi kelautan memunculkan Argo Float (The Array for Real-time Geostropic Oceanography – Float) sebagai alat untuk pengukuran profil suhu dan salinitas secara near real-time dengan menggabungkan metode pengukuran in-situ dan satelit sebagai alat untuk mengirimkan data. Dalam penelitian dilakukan studi perbandingan suhu permukaan laut menggunakan citra NOAA-AVHRR dengan Argo Float sebagai data pengukuruan suhu pengukuran in-situ. Citra NOAA-AVHRR level 1B diolah menggunakan algoritma McMillin & Crosby. Data Argo Float diolah menggunakan software Ocean Data View 3.3.2 untuk mendapatkan suhu lapisan teratas dan digunakan sebagai suhu permukaan laut. Hasil penelitian yang didapat berupa peta suhu permukaan laut perbandingan citra NOAA-AVHRR dengan data Argo Float skala 1 : 4.500.000. Analisa yang telah dilakukan menunjukkan nilai suhu permukaan laut citra NOAA-AVHRR lebih tinggi dari Argo Float dengan selisih antara 0,167 C hingga 4,187 C pada 10 titik pengamatan. Validasi data citra NOAA-AVHRR dengan data Argo Float menggunakan suatu persamaan matematis yaitu y = 0,3979x + 19,045 dengan batasan suhu permukaan laut antara 25, 711 C sampai dengan 28,778 C. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa suhu permukaan laut yang terekam oleh data penginderaan jauh adalah suhu permukaan lapisan atas, sedangkan suhu permukaan laut dari Argo Float adalah suhu pada kedalaman 4-5 meter yang dianggap sebagai suhu permukaan laut dari data Argo Float sehingga terjadi perbedaan nilai suhu permukaan lautnya. 
PEMANFAATAN BAND THERMAL INFRARED (TIR) CITRA ASTER UNTUK PEMETAAN SUHU PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN SELAT MADURA Santoso, Santoso; Sukojo , Bangun Muljo; Jaelani, LM.; Wijanarto, Antonius B.
GEOID Vol. 4 No. 1 (2008)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i1.1253

Abstract

Suhu Permukaan Laut (SPL) merupakan faktor penting dalam oseanografi, saat ini telah banyak satelit yang dilengkapi sensor inframerah termal untuk mengukur SPL. ASTER (Advanced Spaceborn Thermal Emission and Reflection Radiometer) merupakan citra multi band sensor inframerah termal (TIR) pertama di dunia memiliki resolusi spasial 90x90 m dengan luas liputan 60 km. Dalam penelitian ini digunakan dua metode perhitungan SPL dari Citra ASTER yaitu algoritma Alley&Nilsen yang menggunakan perhitungan single band dan algoritma Kishino dengan menggunakan multi band, hasil kedua algoritma tersebut dibandingkan dengan pengukuran lapangan dan SPL dari Citra NOAA-AVHRR. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perhitungan dengan algoritma Kishino mempunyai kesesuaian yang paling baik dari pada algoritma Alley&Nilsen dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,6093 terhadap data lapangan dan 0,5592 terhadap data Citra NOAA-AVHRR.  
PEMETAAN SITUS KERAJAAN MAJAPAHIT DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN DIGITAL ELEVATIOAN MODEL DENGAN SOFTWARE ARCGIS 9.2 Setyawan , Rudi Firman; Sukojo , Bangun Muljo; Setiyoko, Andie; Budisusanto , Yanto
GEOID Vol. 4 No. 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i2.1271

Abstract

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan terbesar di Indonesia, berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga awal abad ke 16 M dan berpusat di Jawa Timur (Trowulan). Hambatan pelaksanaan penelitian arkeologi di Kerajaan Majapahit adalah: (1) Cakupan arealnya luas yaitu sebesar (9 x 11) km, (2) Ada daerah yang sulit dimasuki orang luar sebab merupakan tanah hak milik perseorangan, (3) Adanya industri bata yang cukup banyak sehingga merusak sedimentasi dan situs, (4) Artefak yang ada sudah hancur dan digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan yang lain, bahkan mungkin dijual oleh masyarakat kepada para kolektor benda-benda purbakala. Sistem informasi geografis (SIG) merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk melakukan analisa situs Kerajaan Majapahit. SIG memudahkan kita dalam mengakses, menyimpan, melakukan editing dan updating data mengenai situs-situs Kerajaan Majapahit. Dalam pembuatan SIG ini menggunakan peta dasar SPOT 4, karena citra ini dapat digunakan untuk analisa permukaan dengan baik dari anomali kenampakan warna maka tutupan lahan situs Kerajaan Majapahit dapat dipetakansehingga berguna untuk untuk pembangunan situs. Hasil penelitian berupa peta tutupan lahan, SIG dan DEM (Digital Elevation Model) situs Kerajaan Majapahit. SIG ini dapat menampilkan keterangan dan foto serta sebagian dilengkapi dengan video tentang situs Kerajaan Majapahit. Dari DEM yang dihasilkan, dapat diketahui bahwa sebagian besar situs-situs Majapahit berada pada daerah yang relatif datar dengan ketinggian antara 25 sampai 65 meter, namun ada salah satu situs (Tugu Lebak Jabung) yang berada pada daerah perbukitan dengan ketinggian 184 meter.
STUDI PERUBAHAN SUHU PERMUKAAN LAUT DALAM RANGKA PEMBUATAN SISTEM INFORMASI KELAUTAN (STUDI KASUS: PEMBUANGAN LUMPUR LAPINDO DI SELAT MADURA) Sukojo , Bangun Muljo; Pratomo, Danar Guruh; Jaelani, Lalu Muhamad
GEOID Vol. 4 No. 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i2.1273

Abstract

Peristiwa semburan lumpur panas di lokasi pengeboran PT. Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terjadi sejak 27 Mei 2006. Semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Salah satu skenario penanganan teknis untuk menghentikan semburan lumpur panas adalah dengan membuang langsung lumpur panas tersebut ke Selat Madura melalui Kali Porong. Usaha ini diindikasikan membawa perubahan terhadap Suhu Permukaan Laut (SPL) di sekitar Muara Kali Porong dan Selat Madura. Pada penelitian ini untuk mengetahui kecenderungan SPL di sekitar Muara Kali Porong dan Selat Madura sebelum dan setelah pembuangan lumpur panas ke Kali Porong, dilakukan dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Citra satelit yang digunakan untuk melakukan monitoring SPL adalah citra ASTER (Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer) multitemporal tahun 2005, 2006,2007 dan 2008. Nilai SPL yang diperoleh pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan algoritma Kishino. Berdasarkan hasil pengolahan data citra ASTER dan pengamatan langsung di lapangan terdapat adanya perbedaan nilai SPL. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan kondisi saat pencitraan dan pada saat pengambilan data lapangan. Pada penelitian ini juga dapat diketahui bahwa perubahan SPL dari citra ASTER yang terjadi pada saat sebelum dan sesudah lumpur panas dibuang melalui Kali Porong terjadi secara  tidak konsisten. Hal ini disebabkan adanya perbedaan kondisi cuaca pada saat dilakukannya proses pencitraan pada masing-masing citra.  
PEMETAAN DAERAH RAWAN LONGSOR DENGAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS : KAWASAN HUTAN LINDUNG KABUPATEN MOJOKERTO) Nugroho , Jefri Ardian; Sukojo , Bangun Muljo; Sari, Inggit Lolita
GEOID Vol. 5 No. 2 (2010)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v5i2.1297

Abstract

Bencana alam sebagai salah satu fenomena alam dapat terjadi setiap saat, dimanapun dan kapanpun, sehingga dapat menimbulkan kerugian material dan imaterial bagi kehidupan masyarakat. Bencana longsor adalah salah satu bencana alam yang sering mengakibatkan kerugian harta benda maupun korban jiwa dan menimbulkan kerusakan sarana dan prasarana lainnya yang bisa berdampak pada kondisi ekonomi dan sosial. Bencana tanah longsor yang terjadi di tahun 2002 dan 2007 pada kawasan hutan lindung di Kabupaten Mojokerto disebabkan oleh intensitas curah hujan yang tinggi dan banyaknya kawasan hutan gundul yang menyebabkan air hujan tidak bisa terserap pada kawasan tersebut. Sehingga jatuh membawa material bukit. Untuk itu dilakukan pemetaan daerah yang rawan terhadap bahaya longsor dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis. Data penginderaan jauh yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra satelit SPOT 4 tahun 2008, ditunjang data lain; peta jenis tanah Kabupaten Mojokerto skala 1:100000 tahun 2006, data curah hujan tahun 2006, peta kawasan hutan Kabupaten Mojokerto skala 1:100000 tahun 2001, peta geologi Kabupaten Mojokerto tahun 2006 skala 1:100000 dan data SRTM Dalam pengolahan citra SPOT 4 ini didapatkan hasil koreksi geometrik dengan nilai rata-rata RMS error sebesar 0,603 dan nilai SOF sebesar 0.000136. Adapun metode yang digunakan dalam analisa ini adalah melakukan proses tumpang susun (overlay), yaitu dengan meng-overlay beberapa peta parameter (peta jenis tanah, peta curah hujan, peta tutupan lahan, peta kemiringan, peta ketinggian) dan memberikan pengharkatan (skor) pada masing-masing kriteria dari peta parameter tersebut Hasil dari penelitian ini memperlihatkan kawasan hutan lindung Kabupaten Mojokerto memiliki tingkat kerawanan longsor rendah (13,28 Ha) kerawanan longsor sedang (177,24 Ha) dan kerawanan longsor tinggi (427,15 Ha.)
METODE PREDIKSI POTENSI DAERAH IKAN MENGGUNAKAN CITRA AQUA MODIS DAN PENDISTRIBUSIAN HASIL DENGAN MENGGUNAKAN WEB (Studi Kasus : Perairan Selatan Jawa Timur - Bali) Santoso, Budi; Sukojo , Bangun Muljo
GEOID Vol. 6 No. 1 (2010)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v6i1.1306

Abstract

Indonesia is a maritime country. Where one of the fishing production area is Southern region of East Java – Bali. For that this research is required in determining area which is have fishing potential. One of its parameter is oceanography obtained through the direct measurement or satellite remote sensing data extraction. Satellite imagery used in regional mapping of territorial water of Indonesia, for example NOAA-AVHRR, TERRA, and AQUA. In this research using AQUA satellite bringing multispectral sensors and also Vector Map of Indonesia. In processing of this AQUA MODIS imagery got the result of geometric correction with the average value equal to 0.229 and assess the SOF equal to 0.000722. Interpretation method done based on potential characteristic. Result obtained in this research show the prediction of potential fishing area. At southern region of East Java – Bali, there are its chlorophyll concentration 0.5-1.0mg.m3, while the temperature at front area is about 27-30oC which have potency of Madidihang, Tenggiri and Cakalang. The final result from this research is Prediction of Potential Fishing Ground Map and need to distribute using website which is able to downloaded by whom, especially the fisherman.
ANALISIS PERUBAHAN LUAS HUTAN DI JAWA TIMUR MENGGUNAKAN CITRA SATELIT TERRA MODIS ANTARA TAHUN 2007 – 2011 Basori , Basori; Sukojo , Bangun Muljo
GEOID Vol. 8 No. 1 (2012)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v8i1.1355

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan yang luas. Luas hutan tersebut mengalami penurunan akibat penebangan secara illegal ataupun karena kebakaran hutan. Salah satu propinsi yang memiliki hutan yang luas adalah Jawa Timur. laju kerusakan hutan di Jawa Timur mengalami peningkatan dikarenakan human error dalam pengelolaan hutan.Dalam penelitian ini, pemetaan hutan dilakukan dengan menggunakan metode penginderaan jauh dengan memanfaatkan data citra satelit Terra MODIS dengan menggunakan algoritma NDVI dan EVI. Identifikasi hutan dilakukan dengan memanfaatkan nilai indek vegetasi yang dihasilkan dari algoritma NDVI dan EVI.Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai indek vegetasi dengan menggunakan algoritma NDVI lebih stabil jika dibandingkan dengan algoritma EVI. Luas area hutan pada musim hujan lebih besar dibandingkan luas area hutan pada musim kemarau karena pada musim kemarau terdapat jenis vegetasi yang menggugurkan daunnya. Perubahan hutan tiap tahun hasil dari pengolahan citra memiliki sifat yang tidak stabil dikarenakan tiap citra memiliki nilai spektral yang berbeda akibat dari perbedaan posisi satelit saat pengambilan data dan kondisi atmosfer saat pengambilan data. Hasil pengolahan citra menggunakan algoritma EVI memiliki tingkat keakuratan paling baik yaitu sebesar 86,4% pada musim hujan. Sedangkan hasil pengolahan citra menggunakan algoritma NDVI memiliki tingkat keakuratan sangat rendah karena memiliki selisih sangat tinggi ketika dibandingkan dengan data dari Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Timur.
IDENTIFIKASI SEBARAN SEDIMENTASI DAN PERUBAHAN GARIS PANTAI DI PESISIR MUARA PERANCAK-BALI MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT ALOS AVNIR-2 DAN SPOT-4 Fegie, I Nyoman; Sukojo , Bangun Muljo
GEOID Vol. 9 No. 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v9i1.1395

Abstract

Kabupaten Jembrana merupakan salah satu daerah di Pulau Bali yang terkena dampak sedimentasi dan abrasi. Muara Perancak merupakan salah satu daerah yang terkena dampak ditribusi sedimen dari sungai-sungai kecil menuju ke laut yang bermuara di Perancak. Dimana Total Suspended Solid (TSS) merupakan salah satu dari mekanisme dalam pengangkutan sedimentasi. Selain itu, abrasi juga merupakan masalah yang ada di pesisir daerah tersebut. Beberapa metode dapat digunakan untuk memantau perubahan persebaran TSS dan perubahan garis pantai yang terjadi di wilayah tersebut, salah satunya menggunakan teknologi penginderaan jauh. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra satelit ALOS/AVNIR-2 tahun 2008 dan 2010 serta citra satelit SPOT-4 tahun 2012. Dalam menentukan tingkat persebaran TSS di daerah penelitian, digunakanlah algoritma Hendrawan dan Asai yang didasarkan pada Digital Number (DN). Berdasarkan hasil penelitian, tahun 2008 luasan TSS mencapai 831,22 ha dengan nilai TSS berkisar 0-243 mg/L, tahun 2010 mencapai 960,21 ha dengan nilai TSS berkisar 0-135 mg/L, dan pada tahun 2012 mencapai 1710,16 ha dengan nilai TSS berkisar 0-192 mg/L. Dari ketiga hasil TSS yang ada, didapatkan nilai TSS yang mendominasi di daerah tersebut adalah 1-10 mg/L. Sedangkan perbuahan garis pantai menunjukkan penambahan luas daratan terjadi dari tahun 2008 ke 2010 sebesar 213,05 ha, dan tahun 2010 hingga 2012 terjadi pengurangan luas daratan sebesar 377,05 ha. Peningkatan sebaran konsentrasi TSS setiap tahunnya berpengaruh terhadap perubahan garis pantai pada daerah yang terkena endapan TSS tersebut.
ANALISA NILAI KLOROFIL DENGAN MENGGUNAKAN DATA MODIS, VIIRS, DAN IN SITU (Studi Kasus: Selat Madura) Trijayanto, Dhanu Prihantoro; Sukojo , Bangun Muljo
GEOID Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i1.1468

Abstract

Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan dua pertiga dari luas keselurahan negara Indonesia adalah laut. Maka dari itu diperlukan pemantauan dinamika untuk mengetahui proses lingkungan yang memengaruhi sumberdaya kelautan dan perikanan. Dalam tiga dekade terakhir telah dilakukan pengamatan kandungan klorofil-a dengan memanfaatkan sensor satelit penginderaan jauh yang mengamati warna laut (ocean color). Data yang digunakan untuk mendapatkan persebaran potensi ikan adalah data persebaran klorofil dari hasil pengolahan citra satelit Aqua MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) dan SUOMI NPP VIIRS (Visible Infrared Imaging Radiometer Suite), serta data in-situ berupa sampel air laut yang diuji di laboratorium. Proses pengolahan citra menggunakan algoritma OC3. Hasil dari penelitian ini adalah peta persebaran klorofil-a, peta persebaran potensi ikan di perairan Selat Madura dan analisa beberapa data diantaranya data citra terhadap ground truth, analisa spasial antar citra, dan analisa konsentrasi klorofil-a lapangan dengan parameter lain. Berdasarkan pada proses analisa dapat disimpulkan bahwa Aqua MODIS dan Suomi NPP VIIRS memiliki korelasi yang cukup kuat terhadap data ground truth dengan nilai koefisien korelasi sebesar 54% untuk Data MODIS, dan 59% untuk data VIIRS. Nilai konsentrasi klorofil-a pada citra MODIS dapat mencapai rentang konsentrasi tinggi 2,001 – 3 mg/m3, sedangkan VIIRS hanya mencapai rentang konsetrasi sedang 1,001 – 2 mg/m3. Hal ini disebabkan karena perbedaan resolusi spektral antara dua sensor satelit tersebut.