Leptospirosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena tingginya angka kesakitan dan kematian, serta hubungan erat dengan tikus sebagai reservoir utama. Penelitian ini dilakukan karena Dukuh Ngeropoh merupakan wilayah berisiko leptospirosis yang telah mencatat dua kasus terkonfirmasi, termasuk satu kematian, namun data mengenai kepadatan tikus dan keberadaan bakteri Leptospira masih terbatas. Penelitian bertujuan untuk menganalisis kepadatan tikus, dan keberadaan bakteri Leptospira pada ginjal tikus di Dukuh Ngeropoh, Condongcatur, Depok, Sleman. Penelitian menggunakan desain deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi mencakup seluruh tikus di area penelitian, dengan sampel diambil dari semua tikus yang tertangkap melalui teknik consecutive sampling. Penelitian dilakukan pada April-Mei 2026 dengan 150 perangkap. Analisis data dilakukan secara deskriptif univariat dengan indikator success trap dan pemeriksaan ginjal tikus menggunakan metode PCR real-time untuk mendeteksi bakteri Leptospira. Hasil menunjukkan success trap 31,3% yang termasuk kategori kepadatan tinggi. Sebanyak 47 ekor tikus tertangkap, didominasi oleh spesies Rattus argentiventer. Sebanyak 14,9% tikus positif Leptospira, dengan spesies yang terinfeksi meliputi Rattus norvegicus, dan Rattus argentiventer. Kesimpulannya, kepadatan tikus yang tinggi disertai infeksi Leptospira pada sebagian tikus menandakan risiko penularan leptospirosis, sehingga diperlukan pengendalian tikus, peningkatan sanitasi, dan edukasi.