Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Model Hubungan Persamaan Antara Kecepatan, Kepadatan dan Volume Lalulintas Ruas Jalan Arteri Primer Kabupaten Gowa Idris, Risma Nofianti; Sainuddin; Basman, Ummu Kalsum; Alwi, Almayana
Jurnal Bangunan Konstruksi Vol 2 No 2 (2024): Barakka - Jurnal Bangunan Konstruksi
Publisher : PSTS FT UIM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63877/jbk.v2i2.80

Abstract

Transportasi merupakan hal yang penting dan melekat dalam segalah aktivitas masyarakat, berpengaruh terhadap setiap orang baik langsung maupun tidak langsung. Permasalahan lalu lintas jalan raya merupakan suatu permasalahan yang kompleks dalam dunia transportasi darat terutama transportasi perkotaan. Tujuan dalam penelitian ini Menganalisis karakteristik arus lalu lintas, serta Menganalisis hubungan model matematis dan grafis dari jalan arteri primer dengan menggunakan model terbaik dengan model Geenshield, Greenberg dan Underwood. Lokasi penelitian ini berada di Jalan Sultan Hasanuddin Kabupaten Gowa. Dari ruas jalan tersebut dibagi menjadi tiga titik penelitian yaitu diawal ruas, ditengah dan diakhir ruas jalan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan, Karakteristik arus lalu lintas Jalan Sultan Hasanuddin dimana pada titik 3 menjadi arus lalu lintas yang paling padat dengan ruas arah Gowa-Makassar 2697 smp/jam, kecepatan rata-rata 14,028 km/jam dengan nialai kepadatan 192.254 dan nilai kapasitas 2437,89 smp/jam. Model terbaik dari data hasil survei lapangan adalah model eksponensial Underwood untuk kondisi dibawah nilai kepadatan macet (D). Hal tersebut berdasarkan nilai determinasi (R2) = 0.9615 yang terbaik, bila dibandingkan dengan model lainnya.
Pelatihan dan Pendampingan Penerapan Platform Media Sosial untuk Dokumentasi dan Pemasaran Produk di Desa Sepabatu: Training and Assistance Program on Utilizing Social Media Platforms for Product Documentation and Marketing in Sepabatu Village Asriana, Zul; Sintia, Windy Septi; Basman, Ummu Kalsum; Sukran, Muh; Ilahi, Nurung
DARMADIKSANI Vol 5 No 4 (2025): Edisi Desember
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v5i4.8290

Abstract

Perkembangan era digital mengharuskan generasi muda untuk beradaptasi dengan metode pemasaran digital guna mendirikan usaha baru. Banyak pemuda di desa Sepabatu memiliki potensi kewirausahaan namun kurang menguasai pemasaran digital, sehingga membatasi akses mereka ke pasar. Proyek layanan masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dan dukungan dalam penggunaan platform media sosial untuk dokumentasi dan promosi produk dalam upaya meningkatkan kemampuan pemuda dalam menghasilkan konten digital yang menarik dan menumbuhkan motivasi kewirausahaan di bidang digital. Acara ini dilaksanakan dengan metode pemberdayaan dan partisipatif di Balai Desa Sepabatu, dengan kehadiran 25 pemuda. Kegiatan layanan masyarakat ini dilaksanakan dalam tiga fase metodis: konseling awal dan pemahaman, penerapan praktis teknik fotografi produk, pembuatan konten promosi, dan pemeliharaan akun media sosial, yang diakhiri dengan tahap evaluasi. Proyek komunitas ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis yang diperlukan bagi pemuda desa Sepabatu dalam berwirausaha di bidang digital. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kompetensi digital peserta. Penilaian melalui tes awal dan tes akhir menunjukkan bahwa pemahaman dan keterampilan awal peserta, yang relatif kurang, mengalami peningkatan signifikan setelah pelatihan, terutama dalam hal kemampuan menulis konten promosi, mengambil foto produk, dan memahami fungsi media sosial. Diharapkan setelah inisiatif layanan masyarakat ini, pemuda akan terinspirasi dan mampu secara mandiri menerapkan taktik pemasaran digital untuk mendokumentasikan dan mempromosikan produk mereka dengan efektif.
Participatory Flood Risk Mapping Using the Geographic Information System (DIG-GIS) Integration in Beru-Beru Village, Mamuju Regency Mahful, Rafid; sintia, windy septia; asriana, zul; Ar Rasyid, Muh. Rafli; asnan, amirul; Basman, Ummu Kalsum; Fortuna, Ellyni Dwi; Eliana, Eliana; Aldidayansyah, Aldidayansyah; Setyadi, Dedi; Hardiansyah, Hardiansyah
Journal of Architectural Design and Urbanism Vol 8, No 1 (2025): Volume 8 No 1, 2025
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jadu.v8i1.28766

Abstract

Recurring floods in Beru-Beru Village, West Sulawesi, devastate 200 hectares annually, resulting in economic losses of Rp 2 billion. This study presents a participatory approach that combines Geographic Information Systems (GIS) with Disaster Imagination Games (DIG) to transform community-based flood risk assessment. Utilizing structured stakeholder engagement with 40 people, we employed the risk formula R = (H × V × (1-C))¹/² on 1,401.2 hectares, uncovering significant regional variation. 15.4% of high-risk areas are centered in the Kampung Baru and Kampung Rea hamlets, whilst 30.1% of the region exhibited very low adaptive capacity. The incorporation of DIG-GIS facilitated unparalleled community engagement, converting passive risk recipients into proactive risk evaluators, hence allowing for real-time verification of technical studies through the amalgamation of local expertise. This methodology, in contrast to traditional top-down approaches, attained 89% stakeholder consensus in risk prioritization and enhanced hazard awareness by 340% relative to the first survey. This framework's primary novelty is the democratization of scientific risk assessment, coupled with technical rigor, resulting in spatially explicit risk maps that are comprehensible and trusted by the community. Research findings demonstrate that participatory GIS, when integrated with serious games, can effectively connect expert knowledge with community perceptions, fundamentally shifting catastrophe planning from a reactive to a proactive framework. This methodological advancement provides a quantifiable option for flood-prone developing areas where community endorsement is crucial for the efficacy of interventions.