Pendidikan karakter menjadi aspek krusial dalam penguatan nilai-nilai kemanusiaan di sekolah multikultural, terutama di tengah tantangan keberagaman sosial budaya yang kompleks. Namun, hingga kini masih terdapat kekosongan literatur terkait strategi pembelajaran kontekstual yang diterapkan guru untuk menanamkan karakter toleransi secara nyata di ruang kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis strategi pembelajaran yang digunakan guru dalam membangun karakter toleransi siswa di sekolah menengah pertama multikultural. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan subjek enam guru yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara mendalam, dan dokumentasi pembelajaran. Analisis data menggunakan model Miles & Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil utama menunjukkan bahwa strategi dominan yang digunakan guru meliputi metode cerita lintas budaya, proyek sosial kolaboratif, dan diskusi reflektif. Strategi ini terbukti efektif dalam menumbuhkan sikap empatik, kesadaran kritis, dan kolaborasi antaridentitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual berbasis nilai sangat relevan dalam membentuk karakter toleransi siswa. Temuan ini berkontribusi pada penguatan kebijakan pendidikan karakter serta pengembangan pelatihan guru berbasis konteks sosial-budaya. Abstract Character education is a crucial component in reinforcing humanitarian values in multicultural schools, particularly amid the challenges of complex socio-cultural diversity. However, a literature gap remains regarding the contextual teaching strategies that teachers employ to foster tolerance within the classroom environment. This study aims to identify and analyze the teaching strategies used by teachers to develop students' tolerance in multicultural junior high schools. A qualitative descriptive approach was applied, involving six purposively selected teachers as participants. Data collection techniques included classroom observation, in-depth interviews, and instructional documentation. Data analysis followed the Miles and Huberman model, encompassing data reduction, display, and verification. The principal findings indicate that teachers predominantly employed cultural storytelling, collaborative social projects, and reflective discussions. These strategies effectively promote empathy, critical awareness, and cross-cultural collaboration among students. The study concludes that value-based contextual teaching is highly effective in shaping students' tolerance in multicultural settings. These findings contribute to strengthening character education policy and guide the development of culturally responsive teacher training programs.