Kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil masih menjadi tantangan serius dalam pengembangan keterampilan berpikir kritis siswa. Di sisi lain, model pembelajaran inovatif seperti Problem Based Learning (PBL) telah terbukti mampu meningkatkan partisipasi aktif siswa dan mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi, namun implementasinya di daerah dengan keterbatasan infrastruktur belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model PBL terhadap kemampuan berpikir kritis siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di daerah terpencil. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kuasi eksperimen non-equivalent control group design yang melibatkan dua kelas, yaitu kelas eksperimen yang menggunakan model PBL dan kelas kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Instrumen utama berupa tes kemampuan berpikir kritis yang telah divalidasi dan diuji reliabilitasnya. Data dikumpulkan melalui pre-test dan post-test, kemudian dianalisis menggunakan uji-t (paired dan independent sample t-test) pada taraf signifikansi 0,05. Hasil menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan kemampuan berpikir kritis pada kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol. Kesimpulan utama dari temuan ini adalah bahwa PBL terbukti efektif meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa meskipun diterapkan di daerah terpencil dengan keterbatasan sarana. Kontribusi penelitian ini terletak pada penyediaan bukti empiris bahwa strategi pembelajaran berbasis masalah dapat menjadi alternatif yang relevan, adaptif, dan inklusif dalam peningkatan kualitas pembelajaran di wilayah dengan tantangan geografis dan sosial.
Copyrights © 2025