Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MATERNAL AGE, PARITY, AND ANTENATAL CARE VISITS AS PREDICTORS OF CESAREAN SECTION DELIVERY AT TK II MARTHEN INDEY HOSPITAL, JAYAPURA Rahmadani, Ulfa; Vrensca C M Rupilu; Fika Daulian; Syaharuddin Nur; Faridha Almira; Wilma Florensia; Anneke Yacob; Ristina Rosauli Harianja
International Journal of Social Science Vol. 4 No. 3: October 2024
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/ijss.v4i3.11217

Abstract

Background: Cesarean section (CS) rates have been increasing in Indonesia, including in Papua, raising concerns about maternal and neonatal outcomes. Antenatal care (ANC) is a key intervention to monitor pregnancy and prevent complications. Objective: This study aimed to determine the association between maternal age, parity, and ANC Visits with cesarean section delivery at TK II Marthen Indey Hospital, Jayapura. Methods: An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted in 2017. The study population consisted of all delivering mothers, with a sample of 149 respondents selected based on specific inclusion and exclusion criteria. Data were obtained from medical records, including variables on maternal age, parity, ANC visits, and medical history. Univariable, bivariate (Chi-square), and multivariable (logistic regression) analyses were performed to identify dominant factors associated with CS. Results: Of 149 respondents, 57.0% delivered by CS, exceeding the WHO recommended rate (5–15%). Multivariable analysis showed that maternal age <20 or >35 years (aOR=1.6; 95% CI: 1.02–2.85; p=0.042), primiparity (aOR=1.9; 95% CI: 1.08–3.60; p=0.038), and irregular ANC visits (aOR=3.8; 95% CI: 2.00–7.20; p=0.001) were significantly associated with CS. The model showed good fit (Hosmer–Lemeshow p=0.47, Nagelkerke R²=0.32) and discrimination ability (AUC=0.76). Conclusion: Maternal age, primiparity, and ANC Visits are significant predictors of cesarean section delivery, with irregular ANC being the dominant factor. Interventions promoting regular ANC visits, particularly for high-risk mothers, are recommended to reduce unnecessary CS.
Analisis Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita Di Kabupaten Jayapura Tahun 2022 Anneke Yacob
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6150

Abstract

Latar Belakang: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia, khususnya di wilayah timur seperti Provinsi Papua. Kabupaten Jayapura merupakan salah satu wilayah dengan prevalensi stunting yang masih relatif tinggi dan menunjukkan variasi antar kecamatan. Stunting berdampak jangka panjang terhadap perkembangan kognitif, kesehatan, dan produktivitas anak di masa dewasa, sehingga diperlukan analisis faktor risiko berbasis wilayah untuk mendukung perumusan kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang memengaruhi prevalensi stunting pada balita di Kabupaten Jayapura tahun 2022. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data sekunder yang bersumber dari Profil Kesehatan Kabupaten Jayapura Tahun 2022. Unit analisis adalah 15 kecamatan. Variabel dependen adalah prevalensi stunting balita (%), sedangkan variabel independen meliputi cakupan ASI eksklusif, cakupan imunisasi dasar lengkap, persentase rumah tangga dengan akses air bersih, dan persentase rumah tangga dengan jamban sehat. Analisis data dilakukan menggunakan RStudio meliputi analisis univariat, korelasi Spearman, dan regresi linear berganda. Hasil: Rata-rata prevalensi stunting balita di Kabupaten Jayapura sebesar 16,76%, dengan rentang 4,6% hingga 26,1%. Hasil korelasi Spearman menunjukkan bahwa cakupan jamban sehat memiliki hubungan negatif yang kuat dan signifikan dengan prevalensi stunting (ρ = -0,724; p = 0,002). Analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa jamban sehat merupakan satu-satunya faktor yang berpengaruh signifikan terhadap prevalensi stunting (β = -0,575; p = 0,010), sedangkan cakupan ASI eksklusif, imunisasi dasar lengkap, dan akses air bersih tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara statistik. Model regresi mampu menjelaskan 66,3% variasi prevalensi stunting. Kesimpulan: Sanitasi lingkungan, khususnya akses terhadap jamban sehat, merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan prevalensi stunting di Kabupaten Jayapura. Intervensi penurunan stunting perlu memprioritaskan perbaikan sanitasi lingkungan yang terintegrasi dengan program gizi spesifik.