Abd Rahman Hamid
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Membangun Keadilan Dari Timur dan Barat dalam Bingkai Filsafat: Studi Komparatif Pemikiran Al-Farabi dan John Rawls Ranty Wulandari; Abd Rahman Hamid; Muhammad Akmansyah; Sudarman
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 6 No. 2 (2025): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58401/takwiluna.v6i2.2216

Abstract

This study discusses the concept of justice from two major philosophical traditions, namely Islamic philosophy through the thoughts of Al-Farabi and Western philosophy through the thoughts of John Rawls. This study aims to compare and examine how the two figures construct the idea of ​​justice based on their respective philosophical, historical, and cultural contexts. The method used is a qualitative study with a comparative approach and content analysis of Al-Farabi's main works, Al-Madina Al-Fadilah, and A Theory of Justice by John Rawls. The results of the study show that Al-Farabi understands justice as harmony between individuals and society in achieving collective happiness based on reason and sharia, while Rawls defines justice as fairness that emphasizes the principles of freedom and equality through social contracts. Although both are born from different traditions, both view justice as the main foundation of an ideal state life. In conclusion, the synthesis of Al-Farabi and Rawls' thoughts can contribute to the formation of a more holistic paradigm of justice, across cultural and civilizational boundaries.
Dialektika Sejarah Hegel dalam Perspektif Pascakolonial : Kasus Jawa Pasca-Diponegoro Ramadhan, Syahril; Kiki Muhamad Hakiki; Abd Rahman Hamid
El Tarikh : Journal of History, Culture and Islamic Civilization Vol. 6 No. 2 (2025): Islamic History: Intellectual Figures and Social Transformation
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/00202562743400

Abstract

Tulisan ini mengkaji dan mengkritik pemikiran filsafat sejarah Georg Wilhelm Friedrich Hegel melalui pendekatan pascakolonial, dengan studi kasus kolonialisme Belanda di Jawa pasca Perang Diponegoro (1825–1830). Dalam filsafat sejarah Hegel, sejarah dipahami sebagai proses dialektika progresif menuju kebebasan yang diklaim bersifat universal. Namun, Hegel secara eksplisit mengecualikan bangsa-bangsa Timur dari garis sejarah dunia karena dianggap belum mencapai kesadaran rasional. Narasi ini bersifat euro-sentris dan berperan dalam melegitimasi proyek kolonialisme modern. Dalam konteks Jawa, realitas pasca-Perang Diponegoro menunjukkan bahwa kolonialisme justru menghapus struktur sosial, budaya, dan kekuasaan lokal, tanpa menghadirkan kebebasan sebagaimana diklaim dalam kerangka Hegelian. Dengan menggunakan teori orientalisme Edward Said, tulisan ini membongkar bagaimana representasi kolonial turut menciptakan konstruksi wacana yang menempatkan masyarakat Jawa sebagai entitas irasional dan inferior. Sebagai respons, pemikiran sejarah Ibnu Khaldun dihadirkan sebagai tawaran epistemologi alternatif. Melalui konsep ‘ashabiyah dan ‘ilm al-‘umrān, Khaldun memandang sejarah sebagai proses sosial yang bersifat siklikal dan berbasis solidaritas kolektif. Dengan demikian, tulisan ini menawarkan pembacaan ulang sejarah dunia non-Barat yang lebih adil dan membuka ruang bagi dekolonisasi pengetahuan historis.