Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EVALUASI WESTGARD RULE JUMLAH ERITROSIT DAN LEUKOSIT DI LABORATORIUM KESEHATAN KOTA X Suhri, Yuyun Afida; Ratih, Woro Ummi; Anggraeni, Rosmita
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.47828

Abstract

Pemeriksaan hematologi adalah komponen penting dalam diagnostik dan pengelolaan penyakit. Pemeriksaan eritrosit dan leukosit merupakan bagian dari pemeriksaan hematologi yang berguna membantu menegakkan diagnosis anemia dan infeksi. Untuk memastikan ketepatan hasil pemeriksaan kedua parameter tersebut, diperlukan penerapan Quality Control (QC) dengan pemeriksaan bahan kontrol harian. Evaluasi QC hematologi umumnya hanya berdasarkan plotting pada grafik Levey-Jenning sehingga sulit diketahui adanya kesalahan acak maupun sistematik, maka dari itu diperlukan implementasi Westgard Rules. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hasil QC pemeriksaan eritrosit dan leukosit menggunakan Westgard Rules di Laboratorium Kesehatan Kota X. Metode penelitian ini dengan desain deskriptif kuantitatif dari data sekunder hasil Quality Control pemeriksaan eritrosit dan leukosit dengan bahan kontrol low level dan normal level dari pihak ketiga alat Hematology Analyzer Sysmex XN 450 bulan November - Januari 2025. Hasil penelitian menunjukkan bias pemeriksaan eritrosit -0,20% (low level) dan 0,06% (level normal), sedangkan leukosit -0,09% dan 0,00%. Nilai CV eritrosit 2,67% dan 0,98% sedangkan leukosit 3,08% dan 2,2%. Hasil evaluasi grafik Levey Jennings dengan Westgard Rule memperoleh aturan 41s pada pemeriksaan eritrosit sedangkan pemeriksaan leukosit memperoleh aturan 12s (low level), 22s, 41s, dan 10x (level normal). Kesimpulan dari penelitian ini hasil QC pada pemeriksaan leukosit dan eritrosit memiliki akurasi dan presisi yang baik, kecuali presisi eritrosit low level yang melebihi batas maksimum. Evaluasi Westgard Rule mendeteksi kesalahan acak pada kontrol leukosit low level dan normal, serta kesalahan sistematik ditemukan pada kontrol eritrosit gabungan low level dengan level normal dan leukosit pada level normal.
Gambaran Pemeriksaan CRP Pada Penderita DM Tipe 2 dengan Hipertensi atau Gagal Ginjal Kronik di RSUD dr. Gondo Suwarno Ungaran Sumaryanto, Siti Sholikhah; Shafriani, Nazula Rahma; Ratih, Woro Ummi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) sering kali disertai dengan komplikasi serius, termasuk hipertensi dan gagal ginjal. Kedua kondisi ini saling terkait dan dapat memperburuk kondisi kesehatan pasien. Komplikasi kronis diabetes melitus tipe 2 seperti gagal ginjal kronis dan hipertensi dapat menyebabkan peradangan yang ditandai dengan peningkatan kadar CRP. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran pemeriksaan kadar C-Reactive Protein (CRP) pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan hipertensi atau gagal ginjal di RSUD dr. Gondo Suwarno Ungaran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling. Besaran sampel pada penelitian ini adalah 87 sampel pasien diabetes tipe 2 rawat jalan dengan hipertensi atau gagal ginjal kronik di RSUD dr. Gondo Suwarno Ungaran. Pemeriksaan C-Reactive Protein (CRP) pada penelitian ini menggunakan metode aglutinasi. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 49 pasien (56,3%) dengan hasil CRP positif. Sebanyak 25 pasien (51,0%) usia >45 tahun, 32 pasien (65,3%) berjenis kelamin perempuan, 19 pasien (38,8%) DM Tipe 2 dengan hipertensi dan 30 pasien (61,2%) DM tipe 2 dengan gagal ginjal kronik. Hasil pemeriksaan CRP semikuantitatif, 17 pasien (34,7%) mendapatkan titer 12 mg/L pada dan 32 pasien (65,3%) mendapatkan titer 24 mg/L. Kesimpulan penelitian ini adalah terjadi peningkatan kadar CRP pada penderita DM tipe 2 dengan hipertensi atau gagal ginjal rawat jalan di RSUD dr. Gondo Suwarno Ungaran.
Hubungan Kadar Hemoglobin Dengan Ureum Berdasarkan Frekuensi Hemodialisa Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Di Rumah Sakit Soerojo Kota Magelang Amalia, Rizka; Ratih, Woro Ummi; Suryanto, Suryanto
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i1.2745

Abstract

Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan kondisi progresif dan ireversibel yang menyebabkan gangguan fungsi ginjal serta peningkatan ureum dalam darah karena ginjal yang rusak tidak mampu melakukan proses filtrasi secara optimal. Peningkatan kadar ureum berkontribusi terhadap anemia renal melalui berbagai mekanisme, termasuk penurunan produksi eritropoietin, toksisitas terhadap sumsum tulang, dan pemendekan umur eritrosit. Terapi hemodialisa (HD) adalah prosedur yang digunakan untuk menggantikan fungsi ekskretoris ginjal dan membuang metabolit seperti ureum, di mana frekuensi pelaksanaan hemodialisa berperan penting dalam efektivitas pembersihan tersebut. Penelitian ini dirancang untuk mengevaluasi korelasiantara kadar hemoglobin dan kadar ureum berdasarkan frekuensi hemodialisis di RS Soerojo Kota Magelang. Dalam penelitian ini menggunakan metode desain analitik korekasi secara cross- sectional pada 92 pasien GGK Periode tahun 2023-2024 yang menjalani hemodialisis dengan frekuensi 1, 2, dan 3 kali per minggu. Analisis stattistik menggunakan analisis korelasi spearman. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata - rata kadar hemoglobin pada pasien berkisar antara 8,15–8,18 g/dL, sedangkan kadar ureum berada pada rentang 123,58–126,59 mg/dL. Nilai-nilai tersebut mencerminkan adanya gangguan hematologis serta akumulasi metabolit nitrogen, meskipun pasien telah menjalani hemodialisis secara rutin. Hasil analisis korelasi Spearman mengindikasikan terdapat keterkaitan yang bermakna secara statistik antara kadar ureum dan hemoglobin pada seluruh frekuensi hemodialisis, dengan nilai korelasi r = -0,514 (p = 0,042) untuk frekuensi satu kali per minggu, r = -0,315 (p = 0,037) untuk dua kali per minggu, dan r = -0,460 (p = 0,008) untuk tiga kali per minggu. Hubungan tersebut tergolong sedang pada frekuensi satu dan tiga kali per minggu, serta tergolong lemah pada frekuensi dua kali per minggu. Penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungan antara bermakna antara kadar ureum dan hemoglobin pada pasien GGK berdasarkan frekuensi hemodialisa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara kadar ureum dan hemoglobin pada pasien GGK di semua frekuensi hemodialisis, dengan arah hubungan negatif. Semakin tinggi kadar ureum, semakin rendah kadar hemoglobin. Meski menjalani hemodialisis rutin, pasien masih menunjukkan akumulasi ureum dan anemia, sehingga pengelolaan hemodialisis yang optimal tetap diperlukan.   Kata Kunci: Anemia, Frekuensi Hemodialisa, Gagal Ginjal Kronik, Hemoglobin, Kadar Ureum