Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM BAHASA ARAB DI PONDOK PESANTREN SALAFIYAH DAN MODERN Sapura, Najla Lia; Amalia, Lia; Shofah, Anuri; Nugraha, Rahmat Mulya
MANAJERIAL : Jurnal Inovasi Manajemen dan Supervisi Pendidikan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/manajerial.v5i3.6944

Abstract

Curriculum evaluation is a strategic step in improving the quality of learning, including in teaching Arabic in Islamic boarding schools. This article discusses the evaluation of the Arabic language curriculum in Salafiyah and modern Islamic boarding schools using the CIPP (Context, Input, Process, Product) model developed by Daniel Stufflebeam. This model allows for a comprehensive assessment of the curriculum context, resources, learning implementation, and the final results achieved. Salafiyah Islamic boarding schools emphasize more on understanding classical texts (yellow books) with traditional methods such as sorogan and bandongan, while modern Islamic boarding schools adopt a competency-based and technology-based approach to improve active communication skills in Arabic. The evaluation shows that both types of Islamic boarding schools have their own advantages and challenges in implementing the Arabic language curriculum. Supporting factors such as the competence of teaching staff, the use of learning media, and policy support also influence the effectiveness of the curriculum. Therefore, a comprehensive evaluation system is needed so that Islamic boarding schools can develop a curriculum that is relevant. ABSTRAKEvaluasi kurikulum merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, termasuk dalam pengajaran bahasa Arab di pesantren. Artikel ini membahas evaluasi kurikulum bahasa Arab di pesantren salafiyah dan modern dengan menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product) yang dikembangkan oleh Daniel Stufflebeam. Model ini memungkinkan penilaian menyeluruh terhadap konteks kurikulum, sumber daya, pelaksanaan pembelajaran, dan hasil akhir yang dicapai. Pesantren salafiyah lebih menitikberatkan pada pemahaman teks klasik (kitab kuning) dengan metode tradisional seperti sorogan dan bandongan, sementara pesantren modern mengadopsi pendekatan berbasis kompetensi dan teknologi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi aktif dalam bahasa Arab. Evaluasi menunjukkan bahwa kedua jenis pesantren memiliki keunggulan dan tantangan masing-masing dalam implementasi kurikulum bahasa Arab. Faktor pendukung seperti kompetensi tenaga pengajar, penggunaan media pembelajaran, dan dukungan kebijakan turut memengaruhi efektivitas kurikulum. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem evaluasi yang komprehensif agar pesantren dapat menyusun kurikulum yang relevan.
PERKEMBANGAN SASTRA JAHILIYAH DALAM MASYARAKAT ARAB PRA-ISLAM SEBAGAI CERMINAN BUDAYA, NILAI, DAN TRADISI SOSIAL HISTORIS Riyadi, Agus; Latopah, Leni; Amalia, Lia; Sapura, Najla Lia
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.10112

Abstract

The development of Arabic literature during the Jahiliyyah period represents an important phenomenon reflecting the cultural dynamics, values, and social structure of pre-Islamic Arab society. This study aims to analyze the characteristics, social functions, and historical roles of Jahiliyyah literature in shaping the collective identity of Arab communities. This research employs a qualitative method with a descriptive approach through library research, examining various historical sources and classical literary texts, particularly poems by prominent poets. The data were analyzed using data reduction, interpretation, and thematic conclusion techniques. The findings reveal that Jahiliyyah literature was predominantly characterized by qasidah poetry, which addressed themes such as tribal pride, warfare, nomadic life, and emotional expressions including love and sorrow. Beyond its aesthetic function, literature also served as a medium of social communication, a tool for political legitimization, and a means of transmitting moral values and cultural norms. Furthermore, the strong oral tradition positioned literature as a form of collective archive, despite its limitations in documentation. In conclusion, Jahiliyyah literature not only laid the foundation for classical Arabic literature but also remains relevant for analysis through modern literary theories in understanding the relationship between language, culture, and power. ABSTRAK Perkembangan sastra Arab pada masa Jahiliyah merupakan fenomena penting yang merepresentasikan dinamika budaya, nilai, dan struktur sosial masyarakat Arab pra-Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik, fungsi sosial, serta peran historis sastra Jahiliyah dalam membentuk identitas kolektif masyarakat Arab. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui studi pustaka terhadap berbagai sumber historis dan teks sastra klasik, khususnya puisi karya penyair terkemuka. Analisis dilakukan menggunakan teknik reduksi data, interpretasi, dan penarikan kesimpulan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sastra Jahiliyah didominasi oleh puisi berbentuk qasidah yang mengangkat tema kebanggaan suku, peperangan, kehidupan nomaden, serta ekspresi emosional seperti cinta dan kesedihan. Selain berfungsi sebagai ekspresi estetis, sastra juga berperan sebagai media komunikasi sosial, alat legitimasi politik, serta sarana transmisi nilai moral dan norma budaya. Temuan lain menunjukkan bahwa tradisi lisan yang kuat menjadikan sastra sebagai arsip kolektif masyarakat, meskipun memiliki keterbatasan dalam aspek dokumentasi. Kesimpulannya, sastra Jahiliyah tidak hanya menjadi fondasi bagi perkembangan sastra Arab klasik, tetapi juga tetap relevan untuk dianalisis melalui perspektif teori sastra modern dalam memahami relasi antara bahasa, budaya, dan kekuasaan.