Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Faktor Yang Mempengaruhi Masalah Mental Emosional Remaja Di SMP Negeri 9 Palopo Tahun 2025 Husri, Hasiwulansi; Fadli, Fadli; Eka Sari, Erni; Hastuty, Dewi
Diagnosis Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2025): Diagnosis: Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35892/jikd.v20i1.2521

Abstract

Masa remaja merupakan tahap transisi antara masa anak-anak dan dewasa. Tahap ini banyak perubahan yang terjadi, baik dari segi fisik, biologis, maupun emosional. Ketidakstabilan kondisi mental dan emosional remaja dapat mempengaruhi perilaku mereka serta berpotensi menimbulkan masalah pada kesehatan mental. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi masalah mental emosional remaja di SMP Negeri 9 Palopo Tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik menggunakan pendekatan cross-sectional study. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan jumlah 177 responden yang merupakan seluruh siswa kelas VIII di SMP Negeri 9 Palopo. Instrumen yang digunakan adalah lembar kuesioner Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ) untuk mengukur tingkat masalah mental emosional dan kuesioner faktor-faktor yang mempengaruhi masalah mental emosional remaja. Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah dan dianalisis menggunakan program statistik SPSS dengan analisis uji Pearson Chi Square (p<0.05). Berdasarkan hasil analisa uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara faktor internal jenis kelamin (p=0,039) dan jumlah saudara (p=0,037) serta faktor eksternal dukungan keluarga (p=0,007) dan lingkungan sekolah (p=0,011) terhadap masalah mental emosional remaja, sedangkan faktor internal urutan kelahiran (p=0,641) dan faktor eksternal teman sebaya (p=0,270) menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Kesimpulan: Masalah mental emosional pada remaja di SMP Negeri 9 Palopo dipengaruhi oleh faktor internal (jenis kelamin dan jumlah saudara) faktor eksternal (dukungan keluarga dan lingkungan sekolah). Oleh karena itu penting untuk meningkatkan dukungan keluarga dan tidak membedakan perhatian khusus bagi setiap anak, serta sekolah dapat menciptakan lingkungan yang kondusif baik lingkungan fisik maupun non fisik guna mencegah dan mengatasi masalah mental emosional pada remaja.
Dampak Senam Kaki Diabetik dalam Menurunkan Glukosa Darah pada Lansia Di UPT PPSLU Mappakasunggu Kota Pare Pare Husri, Hasiwulansi; Ida, Ida; Izza, Izza; Helena, Masita; K, Musdalifah; Nirma, Nirma; Aisyah Saleh, Nur; Wafiah, Nur; Kaharuddin, Nurwildah; Fadli, Fadli; Sastria Ahmad, Andi
Mega Buana Journal of Innovation and Community Service Vol. 4 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : LPPM Universitas Mega Buana Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59183/fstw8k49

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit jangka panjang yang memerlukan perawatan berkelanjutan. Perubahan gaya hidup, seperti pola makan, kurang berolahraga, dan kelebihan berat badan, dapat menyebabkan kadar gula darah tidak terkendali, yang dapat memicu diabetes melitus tipe 2. Metode dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan asam urat dan GDS, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan senam kaki diabetik yang bertujuan untuk mengendalikan kadar glukosa darah dan melancarkan sirkulasi darah. Hasil kegiatan diperoleh glukosa darah pada lansia berdasarkan kelompok usia 60-70 tahun (57%) dengan nilai glukosa darah terendah yaitu 99 mg/dL dan nilai glukosa darah tertinggi yaitu 262 mg/dL, usia 71-80 tahun (22%) dengan nilai glukosa darah terendah yaitu 117 mg/dL dan nilai glukosa darah tertinggi yaitu 199 mg/dL sedangkan  umur ≥ 80 tahun (21%) dengan nilai glukosa darah terendah 102 mg/dL dan nilai glukosa darah tertinggi yaitu 220 mg/dL. Kesimpulan: Semua lansia dalam kegiatan pengabdian masyarakat dapat memahami tentang terapi aktivitas fisik senam kaki diabetik untuk mengontrol kadar glukosa darah. Saran dari kegiatan pengabdian ini adalah diharapkan senam kaki diabetik dapat dijadwalkan secara rutin minimal 2-3 kali perminggu, lansia dapat melakukan senam kaki diabetik dirumah secara mandiri serta tenaga kesehatan memberikan edukasi yang berkelanjutan mengenai pengendalian diabetes melitus dan juga gaya hidup sehat yang mendukung penurunan resiko komplikasi.