Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

DIVERSIFIKASI AIR KELAPA MENJADI PRODUK KECAP UNTUK MENUNJANG KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT DESA Siti Masitoh Kartikawati; Siva Devi Azahra; Destiana Destiana
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 2 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i2.13730

Abstract

Abstrak: Desa Sungai Kupah merupakan desa pesisir yang memiliki produk unggulan yaitu buah kelapa. Pemanfaatan komoditas kelapa masih terbatas pada nilai jual buah kelapa, gula kelapa dan kopra. Pada pembuatan kopra, air kelapa menjadi limbah yang belum dimanfaatkan. Kegiatan ini bertujuan memberi pelatihan pemanfaatan air kelapa yang tidak terpakai menjadi produk kecap sehingga dapat menunjang ketahanan pangan dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan kepada masyarakat Desa Sungai Kupah dengan metode penyuluhan tentang manfaat air kelapa dan diversifikasi produk air kelapa, praktek pembuatan kecap, praktek pengunaan produk kecap, dan evaluasi kegiatan dalam bentuk pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta mengenai manfaat dan nilai tambah ekonomi dari air kelapa sebesar 34%, selain itu setiap peserta juga berhasil mempraktekkan pembuatan produk kecap air kelapa.Abstract: Sungai Kupah Village is a coastal village that has a superior product, namely coconuts. Utilization of coconut commodities is still limited to the selling value of coconuts, coconut sugar, and copra. In the manufacture of copra, coconut water becomes waste that has not been utilized. This activity aims to provide training on the utilization of unused coconut water in soy sauce products so that it can support food security and have economic value for the community. Community service activities were carried out for the people of Sungai Kupah Village with counseling methods about the benefits of coconut water and coconut water product diversification, the practice of making soy sauce, the practice of using soy sauce products, and evaluation of activities in the form of a pre- and post-test. The results of the activity showed an increase of 34% in participants' knowledge about the benefits and economic added value of coconut water, besides the fact that each participant also succeeded in practicing making coconut water soy sauce products.
PENDAMPINGAN MASYARAKAT DALAM PEMBUATAN SOUVENIR SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN EKOWISATA Siti Puji Lestariningsih; Togar Fernando Manurung; Siva Devi Azahra; Destiana Destiana
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.15130

Abstract

Abstrak: Kegiatan pelatihan pembuatan souvenir dilaksanakan di Desa Sungai Kupah pada Hari Kamis tanggal 21 Juli 2022. Kegiatan diikuti oleh 30 peserta dari Kelompok Sadar Wisata dan PKK. Pelaksanaan kegiatan PKM ini dilatarbelakangi oleh belum adanya souvenir wisata di desa tersebut. Tahun 2021 Desa Sungai Kupah mendapatkan penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia sehingga harus memiliki unsur Sapta Pesona. Unsur yang belum terpenuhi yaitu unsur kenangan (adanya souvenir) sebagai kenang-kenangan dari kunjungan wisata. Selain potensi wisata, terdapat usaha mebel yang menghasilkan limbah kayu bertumpuk dan dapat dijadikan bahan pembuatan souvenir wisata. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk membekali keterampilan membuat souvenir dari limbah kayu yang bisa dijadikan souvenir wisata sebagai ide bisnis. Metode pelaksanaan PKM yaitu observasi, sosialisasi, praktek pembuatan, dan evaluasi. Dihasilkan 30 pajangan dan 60 gantungan kunci kayu dari pelatihan. Pengetahuan peserta tentang wisata, desa wisata, sapta pesona, souvenir kayu, teknik sablon sederhana, dan jenis kayu yang digunakan meningkat 58,3 % setelah mengikuti pelatihan jika dibandingkan dengan sebelum pelatihan. Persepsi peserta tentang hasil produk souvenir sangat baik dan dinilai menguntungkan secara ekonomi berdasarkan analisis modal dan harga jual sehingga peserta berminat untuk mengembangkannya.Abstract: The souvenir making training was held in Sungai Kupah Village on Thursday 21 July 2022, was attended by 30 participants. The implementation of the activity was motivated by the absence of tourist souvenirs in the village. In 2021 Sungai Kupah Village won the Indonesian Tourism Village Award. The element that has not been fulfilled is the element of the existence of souvenirs as a memento from a tourist visit. In addition to tourism potential, there is a furniture business that produces stacked wood waste and can be used as material for making tourist souvenirs. This community service activity aims to equip the skills to make souvenirs from wood waste which can be used as tourist souvenirs as a business idea. The implementation method is observation, outreach, production practice, and evaluation. 30 displays and 60 wooden key chains were produced from the training. Participants' knowledge about tourism, tourist villages, Sapta Pesona, wooden souvenirs, simple screen printing techniques, and the type of wood used increased by 58.3% after attending the training compared to before the training.Participants' perceptions of the results of souvenir products are very good and are considered economically profitable based on the analysis of capital and selling prices so that participants are interested in developing them.
PEMANFAATAN TUMBUHAN LOKAL SEBAGAI OLAHAN PANGAN UNTUK MEMPERKUAT PEREKONOMIAN MASYARAKAT Destiana Destiana; Siva Devi Azahra; Siti Puji Lestariningsih; Siti Masitoh Kartikawati
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 3 (2024): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i3.23084

Abstract

Abstrak: Umbut kelapa merupakan bagian dari tumbuhan kelapa yang terletak pada bagian ujung batang yang jika terus tumbuh akan menjadi pelepah dan daun, bagian ini berada di empulur batang, bertekstur lembut dan memiliki rasa yang manis. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan umbut kelapa sebagai alternatif produk olahan pangan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dilakukan di Desa Peniti besar Kecamatan Segedong Kabupaten Mempawah, peserta kegiatan ini diikuti oleh kelompk Ibu-ibu PKK sebanyak 35 orang. Adapun metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah dengan cara menyampaikan sosialisasi kepada masyarakat dan sistem evaluasi dengan menggunakan kuisoner yang dilakukan diawal dan diakhir kegiatan. Hasil pelaksanaan kegiatan menggambarkan adanya perubahan informasi dan pemahaman tentang pemanfaatan umbut kelapa menjadi olahan pangan berbentuk kelapa dari yang sebelumnya 17% menjadi 100%, pemahaman tingkat kesulitan pembuatan umbut kelapa menjadi olahan pangan yanga awalnya sebesar 63% menyatakan sulit menjadi 10% dan ketertarikan berusaha sebesar 27% menjadi 73%.Abstract: The coconut sheath is part of the coconut plant located at the end of the stem, which, if it continues to grow, will become fronds and leaves; this part is in the pith of the stem, has a soft texture, and has a sweet taste. This activity aims to increase the activity aims to increase community knowledge about using coconut tubers as an alternative processed food product to improve the surrounding community's economy. Community service activities were carried out in Peniti Besar Village, Segedong District, and Mempawah Regency, and the participants of this activity were attended by a group of 35 mother Family Empowerment and Welfare (PKK). The method used in this activity is delivering socialization to the community, and the evaluatioj system is used, using questionnaries conducted at the beagining and the end of the activity. The results of the implementation of the activity illustrate a change in information and understanding of the utilization of coconut tubers into processed food in the form of coconut from the previous 17% to 100%, understanding the level of difficulty in making coconut tubers into processed food,which initially 63% to 10%, and interest in trying 27% to 73%. 
KARAKTERISTIK SARANG ORANGUTAN (Pongo pygmaeus, Linnaeus 1760) DI RESORT MENTATAI TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA Lestari, Adinda Triyoni; Prayogo, Hari; Azahra, Siva Devi
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 22, No 1 (2024): BIOTIKA JUNI 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v22i1.50328

Abstract

Resort Mentatai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan kawasan alami yang mempunyai fungsi penting sebagai tempat rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan yang merupakan spesies yang statusnya terancam punah.Salah satu faktor yang menjadi penyebab menurunnya jumlah populasi orangutan yaitu rusaknya tempat bersarang orangutan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji karakteristik sarang orangutan. Penelitian menggunakan metode survei dengan berjalan menelusuri jalur monitoring orangutan yang telah ditetapkan oleh International Animal Rescue (IAR). Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa ditemukan sebanyak 65 sarang orangutan, dengan karakteristik sarang berdasarkan kelas sarang yaitu kelas A (semua daun masih berwarna hijau) sebanyak 2 sarang, kelas B (warna daun sudah mulai berwarna coklat) sebanyak 36 sarang dan kelas C (daun sudah coklat semua dan terdapat lubang di sarang) sebanyak 27 sarang. Berdasarkan posisi sarang, teridentifikasi sebanyak 19 sarang pada posisi 1 (sarang di pangkal percabangan utama), 40 sarang pada posisi 2 (sarang di tengah atau ujung cabang pohon), 4 sarang pada posisi 3 (sarang di pucuk pohon utama), dan 2 sarang pada posisi 4 (sarang diantara dua pohon atau lebih). Jenis pohon yang paling banyak dijadikan sebagai sarang adalah Syzigium dan Knema dengan famili yang terbanyak dijadikan sarang yaitu Dipterocarpaceae.
Kualitas Air Sumur Berdasarkan Lebar Jalur Hijau Mangrove Kelurahan Sedau Destiana, Destiana; Azahra, Siva Devi; Lestariningsih, Siti Puji
Journal of Forest Science Avicennia Vol. 6 No. 2 (2023): AGUSTUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/avicennia.v6i2.27309

Abstract

Biodiversitas vegetasi mangrove dan Lebar Jalur Hijau (LJH) mangrove memiliki peran yang sangat besar dalam memfilter air laut yang masuk kedaratan, dengan sistem perakaran yang kompleks dan lebar jalur hijau yang besar salinitas air laut yang tinggi dapat mengalami penurunan sehingga kemudian dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui kualitas air sumur berdasarkan lebar jalur hijau yang ada di Kelurahan Sedau Kota Singkawang. Metode penelitian menggunakan metode survei dengan penentuan titik secara purposive: stasiun 1 (mangrove LJH besar) dan stasiun 2 (mangrove yang memiliki LJH kecil), setiap stasiun dibuat titik-titik pengambilan sampel air sumur untuk kemudian dianalisis kandungan salinitas, pH air, suhu air, DO, TDS, tingkat kesadahan, dan kandungan nitrat. Secara umum dari tujuh parameter yang diamati hanya suhu dan nitrit yang menunjukkan nilai dibawah baku mutu air layak konsumsi yang telah ditetapkan Asiahoki77 terus berinovasi untuk memberikan pengalaman bermain yang terbaik bagi para penggunanya. Dengan antarmuka yang user-friendly dan fitur-fitur canggih, Asiahoki77 berhasil menarik perhatian banyak pemain dari berbagai kalangan. Dengan reputasi yang terus meningkat, tidak mengherankan jika Asiahoki77 menjadi pilihan utama bagi para pecinta judi online di Asia dan sekitarnya. oleh pemerintah sedangkan parameter pH, suhu, oksigen terlarut, TDS, dan kesadahan air sumur menunjukkan bahwa air tersebut layak dikonsumsi. Secara umum berdasarkan hasil yang ada air minum di wilayah tersebut masih aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat sekitar.
IDENTIFIKASI POTENSI DAYA TARIK EKOWISATA BUKIT TALAGA DESA AUR SAMPUK KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK Erianto, Erianto; Ardian, Fransiskus; Azahra, Siva Devi
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.68336

Abstract

Identification of ecotourism potential is an activity of searching, recording, finding, and registering all that has potential or makes the place attractive for visitors to visit. This study aims to find and explain the existence of objects that are ecotourism attractions in Talaga Hill, Aur Sampuk Village, Sengah Temila District, and Landak Regency. The research method uses data collection techniques with direct field observations and interviews with visitor respondents and the local community with a questionnaire guide. Research shows that the Talaga Hills area has potential as an ecotourism attraction, including biological and non-biological potential. The biological potential is in the form of the presence of moss plants, types of fungi, orchids, corpse flowers (Amorphophallus sp.), fruit-producing trees for consumption, and a diversity of animal species such as lemurs (Galeopterus variegatus), rock magpies (Copsychus saularis), and porcupines (Hystrix brachyura). While the non-biological potential includes beautiful views of hills, high cliffs, rocks, stone caves, and clean water sources, Talaga Hill also presents attractions in the form of adventure activities, namely hiking activities, camping activities, wildlife observation, natural resource exploration activities, and rock-climbing activities. Apart from its natural beauty, Bukit Talaga also has the potential to attract cultural tourism, including the existence of three traditional Dayak ceremonial places on Bukit Talaga and the traditions and ceremonies of the local community.Keywords: attraction, ecotourism, identification, talaga hill.AbstrakIdentifikasi potensi ekowisata   merupakan suatu kegiatan mencari, mencatat, menemukan serta mendaftarkan semua yang menjadi potensi atau yang menjadikan tempat tersebut menarik untuk dikunjungi oleh pengunjung. Penelitian ini bertujuan menemukan dan menjelaskan keberadaan objek-objek yang menjadi daya tarik ekowisata di Bukit Talaga Desa Aur Sampuk, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak. Metode penelitian menggunakan teknik pengumpulan data dengan pengamatan langsung dilapangan dan wawancara terhadap responden pengunjung dan masyarakat setempat dengan panduan kuesioner. Penelitian menunjukkan bahwa Kawasan Bukit Talaga memiliki potensi yang menjadi daya tarik ekowisata diantaranya yaitu potensi hayati dan potensi non-hayati. Potensi hayati berupa keberadaan tumbuhan lumut, jenis jamur, tumbuhan angrek, bunga bangkai (Amorphophallus sp), pohon penghasil buah untuk konsumsi dan keanekaragaman jenis satwa seperti kubung (Galeopterus variegatus), burung murai batu (Copsychus saularis) dan landak (Hystrix brachyura). Sedangkan potensi non-hayati antara lain yaitu pemandangan indah di atas bukit, tebing tinggi, bebatuan, gua batu, dan sumber air bersih. Bukit Talaga juga menyajikan daya tarik berupa kegiatan petualangan yaitu kegiatan hiking, kegiatan berkemah, pengamatan satwa liar, kegiatan eksplorasi sumber daya alam dan kegiatan panjat tebing. Terlepas dari keindahan alamnya Bukit Talaga juga memiliki potensi daya tarik wisata budaya, diantaranya yaitu keberadaan tiga tempat upacara adat Dayak di Bukit Talaga, tradisi/upacara adat masyarakat setempat. Kata kunci: daya tarik, ekowisata, identifikasi, bukit talaga
REKAYASA DESAIN MOTIF KAIN DENGAN TEKNIK CETAK DAUN Kartikawati, Siti Masitoh; Azahra, Siva Devi; Dewantara, Jagad Aditya
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 6, No 2 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v6i2.9721

Abstract

Abstrak: Komunitas Kampung Batik Kamboja merupakan komunitas pengrajin batik di Kota Pontianak yang menjadi target pengembangan industri tekstil dan tujuan wisata oleh pemerintah Kota Pontianak. Oleh karena itu, pengembangan teknik dan desain motif menjadi hal yang penting untuk menunjukkan ciri khas, meningkatkan nilai estetika, dan daya saing dengan produk tekstil lainnya. Inovasi desain motif dengan teknik cetak daun dapat memperkaya dan meningkatkan ragam motif produk yang dihasilkan, menjadi sarana pendidikan lingkungan mengenai jenis tumbuhan dan keanekaragaman bentuk daun bagi masyarakat, pengrajin setempat, maupun wisatawan Kampung Batik. Kegiatan dilakukan dengan melakukan pretest, penjelasan, demontrasi, pembimbingan dalam praktek pembuatan desain teknik cetak daun yang diaplikasikan langsung pada kaos dan totebag, dan diakhiri dengan evaluasi kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta mengenai identifikasi potensi dan karakteristik daun yang dapat dikembangkan sebagai inovasi desain motif karya tekstil yang memiliki nilai estetika.Abstract: The Kampung Batik Kamboja Community is a community of batik artisans in Pontianak City, which is the target of the development of the textile industry and tourism destination by the government of Pontianak City. Therefore, developing techniques and motifs is essential to show characteristics, increase aesthetic value, and improve the competitiveness of other textile products. Innovative motif designs with leaf printing techniques can be produced and improved upon product motifs as a means of environmental education regarding plant species and the diversity of leaf shapes for the community, local artisans, and tourists from Kampung Batik. The activity was carried out by conducting pretests, explanations, demonstrations, and guidance in making leaf printing techniques, which were applied directly to t-shirts and tote bags, and ended with an evaluation of the activities. The results showed an increase in participants' understanding and skills regarding the potential and characteristics of leaves that can be developed as an innovative design of art with aesthetic value.
OPTIMASI SUMBER DAYA TUMBUHAN LOKAL MENJADI PRODUK DAUR ULANG YANG BERNILAI EKONOMI DAN RAMAH LINGKUNGAN Azahra, Siva Devi; Destiana, Destiana; Kartikawati, Siti Masitoh; Lestariningsih, Siti Puji
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 6 (2023): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i6.19803

Abstract

Abstrak: Desa Peniti Besar memiliki beragam sumberdaya tumbuhan lokal, antara lain kelapa (Cocos nucifera) dan pisang (Musa paradisiaca) yang merupakan komoditas andalan desa tersebut . Desa ini juga menghadapi permasalahan meningkatnya sampah kertas dari berbagai kegiatan masyarakat serta limbah berupa sabut kelapa dan batang pisang kering yang belum didayagunakan secara optimal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan keterampilan baru kepada masyarakat untuk memanfaatkan limbah-limbah tersebut agar menghasilkan produk ramah lingkungan yang memiliki ciri khas, bernilai ekonomi, sehingga berpotensi untuk dikembangkan dan diolah menjadi produk unggulan desa yang ramah lingkungan yaitu berupa kertas daur ulang. Kegiatan pelatihan dan pendampingan dilakukan kepada 27 anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), diawali dengan pemaparan mengenai permasalahan limbah dan potensi pendayagunaannya, demonstrasi pembuatan kertas daur ulang oleh narasumber yang dilanjutkan dengan praktek oleh peserta, serta evaluasi pengetahuan dan keterampilan peserta sebagai output pelatihan. Topik yang tepat sesuai dengan permasalahan masyarakat danserta kemampuanmampunya peserta membuat kertas daur ulang secara mandiri mengindikasikan bahwa kegiatan ini berjalan dengan baik, dibuktikan dengan masing-masing peserta dapat dapat mencetak kertas daur ulangnya serta adanya peningkatan pengetahuan peserta terhadap topik pelatihan sebesar 43,7%k.Abstract: Peniti Besar Village has various local plant resources, including coconut (Cocos nucifera) and banana (Musa paradisiaca), the village's mainstay commodities. The village also faces the problem of increasing paper waste from various community activities and waste in the form of coconut fiber and dried banana stems that need to be optimally utilized. This service activity aims to provide new skills to the community to utilize these wastes to produce environmentally friendly products that have characteristics of economic value so that they have the potential to be developed and processed into environmentally friendly village superior products in the form of recycled paper. Training and mentoring activities were carried out for 27 members of the Family Welfare Empowerment (PKK), starting with an explanation of the problems of waste and its potential utilization, demonstration of making recycled paper by resource persons followed by practice by participants, and evaluation of participants' knowledge and skills as training output. The right topic according to community problems and the ability of participants to make recycled paper independently indicate that this activity is going well, evidenced by each participant being able to print their recycled paper and an increase in participant knowledge of the training topic by 43.7%.
Green Open Spaces as Butterfly Refuge Habitat: Potential, Issues, and Management Strategies for Butterfly Conservation in Urban Areas Azahra, Siva Devi; Rushayati, Siti Badriyah; Destiana, Destiana
BERKALA SAINSTEK Vol 10 No 4 (2022)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bst.v10i4.33123

Abstract

One of the ecological functions of green open space (RTH) is to accommodate biodiversity in urban areas by providing a habitat for wild plants and animals. Pollution, urbanization, and various other environmental pressures make green open spaces in urban areas more susceptible to disturbances, both natural and due to human activities, which can affect the existence of biodiversity within them, including butterflies, which have specificity and sensitivity to certain environmental conditions, thus acting as bioindicators. Assessment of butterfly species, habitat conditions, and assistance with problems was carried out at four green open space locations in the East Jakarta Administrative City (DKI Jakarta Province) and four green open space locations in Pontianak City (West Borneo Province) to determine the potential and effectiveness of green open space as habitat protection for butterflies. The assessment was carried out by observing the presence of butterflies using the time search method and measuring the environmental factors that form the habitat and their correlation with the butterfly community through quantitative analysis. The results of the study showed that there were 22 species of butterflies in green open space in the East Jakarta Administrative City and 17 species of butterflies in green open space in Pontianak City. Correlation analysis at the eight green open space locations showed the same pattern, namely that the occurrence of butterfly species increased along with the number of forage plant species (as hosts or food plants) and canopy density (as shelter plants). The clustered shape of green open space is also a characteristic of green open space, which supports the function of green open space as a refuge habitat for butterflies in urban areas.
STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN DESA BUMI LESTARI DI DESA PENEPIAN RAYA, KABUPATEN KAPUAS HULU Lestariningsih, Siti Puji; Roslinda, Emi; Azahra, Siva Devi; Destiana, Destiana
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 3 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 3 Edisi September 2024
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v12i3.20563

Abstract

The Village Forest Management Institution (LPHD) Bumi Lestari of Penepian Raya Village has obtained a forest management license since 2014. Village forest is one of the social forestry schemes that aims to improve community welfare through the management of forest natural resources. However, the management must be based on sustainable forest sustainability because the forest is a vital support. This study aims to formulate a management strategy for Bumi Lestari Village Forest based on internal (strengths and weaknesses) and external (opportunities and threats) factors. The survey method was applied by collecting data through interviews with all administrators and members of LPHD Bumi Lestari. All internal and external factors were scored and weighted to find strategy priorities based on SWOT. Based on the value of all factors, the internal factor value was 0.52 and the external factor value was 0.92. Bumi Lestari Village Forest management strategy is in Quadrant I. Strategic opportunities on maximum utilization of strengths to use available opportunities. The existence of assistance and funding, can be utilized to increase institutional capacity in terms of administration, mastery of technology, and innovation of processed non-timber forest product derivatives. An effective marketing network is needed to overcome obstacles in the form of the large amount of transportation bias through waterways in the village. In the field of conservation, LPHD Bumi Lestari has been based on smart patrols but there is a need to increase the use of technology. Strengthening partnerships with the government, academics, private foundations, and fellow LPHDs can be a strength for LPHD Bumi Lestari for better village forest management.