Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Effect of Citric Acid and Polyvinylpyrrolidone (PVP) on Browning of Kepel (Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson) Nodes Marendeng, Yunita Kendek; Viorenta, Miranda Gardha; Sinaga, Meisi Olivia; Christy, Nita Elvira; Sibarani, Devi Sonti; Restiani, Ratih
Jurnal Biologi Tropis Vol. 24 No. 4 (2024): Oktober - Desember
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v24i4.7647

Abstract

Browning is a major constraint in in vitro propagation of Kepel (S. burahol). Therefore, the selection of an effective anti-browning compound can be useful to prevent browning in Kepel in vitro culture and produce explants that are able to regenerate. This study was aimed to investigate the effect of the addition of citric acid and PVP at different concentrations and incubation conditions on the prevention of browning in in vitro cultures of S. burahol. This research is an experimental study using S.burahol node explants. The research design used a Completely Randomized Design (CRD) with citric acid and PVP treatments of 300 and 400 ppm respectively and control incubated in dark and light conditions. Each treatment was repeated twice. The culture was incubated for 28 days. Observations were conducted on browning initiation time, browning intensity and callus initiation time. Data were analyzed descriptively. The results showed that citric acid treatment of 300 and 400 ppm and incubation of cultures in dark conditions effectively reduced the intensity of browning (0.2) and browning initiation time (6 DAI). In addition, the suplementation of 400 ppm citric acid and incubation in light conditions was also effective in initiating the fastest callus at 2 DAI. The results suggest that the addition of citric acid at concentrations of 300 and 400 ppm is more effective at slowing browning and reducing browning intensity for S. burahol node explants than PVP. The results of this study play an important role in supporting efforts to increase the productivity of S. burahol nodes growth through in vitro culture.
Integrasi Laboratorium Mini Kultur Jaringan Tumbuhan dalam Pembelajaran Bioteknologi Siswa SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Restiani, Ratih; Galgani, Gemma; Sekar, Astrid Ayu; Marendeng, Yunita Kendek; Sinambela, Gracia Rolas; Viorenta, Miranda Gardha
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 1 (2026): Edisi Januari - Maret
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v7i1.8444

Abstract

Pembelajaran kultur jaringan tumbuhan pada mata pelajaran Biologi di SMA BOPKRI 2 Yogyakarta masih didominasi oleh pemberian teori di kelas karena keterbatasan fasilitas laboratorium, sehingga siswa belum memiliki pengalaman praktik bioteknologi. Kondisi ini menyebabkan rendahnya pemahaman aplikatif dan keterampilan bioteknologi siswa. Program ini menawarkan solusi berupa pelatihan kultur jaringan berbasis laboratorium mini yang terintegrasi dengan pembelajaran Biologi bagi siswa kelas X. Kegiatan dilaksanakan melalui tahapan koordinasi dengan guru mitra, penyusunan modul dan persiapan alat dan bahan praktikum, pelaksanaan pelatihan (pemberian teori dan praktikum) selama dua hari, serta evaluasi berbasis observasi keterampilan dan pengetahuan siswa. Pelatihan melibatkan 71 siswa dari tiga kelas X melalui penyampaian materi pengantar, demonstrasi pembuatan medium, sterilisasi dan inokulasi eksplan, dilaknjutkan praktikum membuat media kultur dan inokulasi eksplan secara berkelompok. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan dan pengetahuan siswa. Sebelum pelatihan, siswa belum mengenal definisi, manfaat dan tahapan kerja kultur jaringan tumbuhan. Setelah pelatihan, hasil evaluasi menunjukkan peningkatan keterampilan dan pengetahuan siswa dalam mempelajari aplikasi bioteknologi. Indikator keberhasilan pelatihan ini adalah peningkatan keterampilan siswa dari 0% menjadi 100% mampu dalam membuat media kultur jaringan dasar yaitu Murashige and Skoog (MS) dan menginokulasi eksplan steril ke dalam medium MS sesuai dengan prosedur dan waktu yang diberikan. Selain peningkatan dalam keterampilan, pelatihan ini juga meningkatkan pemahaman pengetahuan siswa (dari 0% menjadi 100%) dalam menjelaskan manfaat, tujuan dan tahapan pembuatan media MS dan inokulasi eksplan dengan tepat. Berdasarkan dua indikator tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan mini laboratorium kultur jaringan tumbuhan yang diintegrasikan dalam pembelajaran bioteknologi dasar bagi siswa mampu membantu siswa dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di mata pelajaran Bioteknologi.