Lutfi, Muhammad Fauzi Rais
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Studi Perbandingan Pembagian Harta Bersama Akibat Perceraian Antara Hukum Perdata dan Hukum Islam Lutfi, Muhammad Fauzi Rais; Aldabena, M Reyhan; Jonathan, Berthon
Jurnal Litigasi Amsir 2025: Special Isu (September-Oktober)
Publisher : Faculty of Law Andi Sapada Institute of Social Sciences and Business

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study discusses the legal implications of dividing joint property in divorce cases under Law Number 1 of 1974 on Marriage. The main issue arises when assets such as houses or vehicles must be divided equally between spouses, which often proves difficult in practice. Using the normative legal research method based on literature review, this study emphasizes the importance of mutual agreement between the husband and wife as mandated by Article 36 of the Marriage Law. Joint property is defined as assets acquired during marriage, regardless of whose name they are registered under. To ensure clear ownership boundaries, a prenuptial or marital agreement is considered an essential legal instrument to limit or exclude the existence of joint property. Such agreements allow each party to maintain separate ownership of their assets, thereby preventing disputes and facilitating a fair and transparent division if a divorce occurs.
Implementasi Nilai-Nilai Pancasila sebagai Pedoman Etika dalam Ruang Siber Indonesia Lutfi, Muhammad Fauzi Rais; Nurhidayat, Reza; Sa’diah, Siti Musyaropatus; Sadiyah, Siti Laelatul; Hakim, Abduh Hanif; Amengkujati, Panji; Wijaya, Bima Chandra
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi dan interaksi masyarakat Indonesia, namun juga memunculkan persoalan etika seperti disinformasi, ujaran kebencian, dan pelanggaran privasi. Rendahnya literasi digital dan kurangnya sikap kritis memperburuk kualitas interaksi di ruang siber, sehingga diperlukan kerangka moral yang mampu mengarahkan perilaku pengguna. Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etika dalam aktivitas digital dengan menggunakan metode kualitatif dengan studi dokumen, penelitian ini menelaah literatur mengenai etika digital, kewargaan digital, dan implementasi nilai Pancasila. Hasil analisis menunjukkan bahwa setiap sila Pancasila menyediakan prinsip moral yang sejalan dengan kebutuhan etika siber kontemporer. Sila Ketuhanan menekankan tanggung jawab moral, sila Kemanusiaan menuntut penghormatan martabat manusia, sila Persatuan memperkuat kohesi sosial, sila Kerakyatan mendorong dialog digital yang rasional dan inklusif, sedangkan sila Keadilan Sosial menegaskan perlunya ekosistem digital yang aman dan nondiskriminatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa internalisasi nilai-nilai Pancasila merupakan strategi fundamental untuk membangun budaya digital yang etis dan berkeadaban.
Analisis Yuridis Penyalahgunaan AI (Artificial Intelegent) dalam Fenomena Tung –Tung Sahur Sesuai Regulasi Hukum Hak Kekayaan Intelektual Handoko, Bimo Putra; Lubis, Karina Puspita; Santosa, Ajeng Hesti Putri; Daniera, Keisha; Fajrurrachman, Arif; Lutfi, Muhammad Fauzi Rais
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang pesat, khususnya dalam image generator AI, telah menimbulkan dilema yuridis baru dalam sistem hukum hak cipta Indonesia, sebagaimana terlihat dalam fenomena viral “Tung Tung Sahur” yang menciptakan konflik kepemilikan dan lisensi antara kreator dengan perusahaan besar. Penelitian ini menganalisis kedudukan hukum karya yang dihasilkan melalui AI dalam sistem hukum hak cipta Indonesia serta merumuskan bentuk klausul kontrak lisensi digital yang ideal untuk mencegah sengketa serupa di masa mendatang. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan konseptual dan analisis kualitatif, dipilih karena penelitian ini mengkaji peraturan perundang-undangan, teori hukum, dan pendapat sarjana tanpa menggunakan data primer. Hasil analisis menunjukkan bahwa karya “Tung Tung Sahur” menghadapi dilema yuridis kompleks karena AI sebagai pencipta teknis bukan subjek hukum yang diakui, melainkan objek hukum yang dapat dianalogikan sebagai pekerja berdasarkan Pasal 1367 KUHPerdata, sehingga kepemilikan hak cipta seharusnya berada pada operator AI meskipun unsur orisinalitas menjadi persoalan krusial akibat ketiadaan “tangan manusia” dalam proses penciptaan visual. Klausul kontrak lisensi digital yang ideal harus mencakup penegasan kapasitas para pihak, kepemilikan output AI yang tegas, transparansi algoritma, mekanisme audit dan verifikasi, ruang lingkup layanan AI, batas pemanfaatan karya, serta perlindungan hak moral dan hak ekonomi kreator yang memberikan kontribusi kreatif melalui prompt dan kurasi hasil AI. Fenomena Tung Tung Sahur mengekspos urgensi reformasi UU Hak Cipta Indonesia agar dapat mengakomodasi realitas penciptaan karya berbantuan teknologi AI dan mengatur mekanisme lisensi digital yang jelas untuk mencegah eksploitasi komersial tanpa kompensasi kepada kreator.