Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

AN ANALYSIS OF IDIOMATIC EXPRESSION FOUND IN NIKI’S SELECTED SONG LYRICS Alicya, Putri
Journal of English Education and Literature Journal of English Education and Literature Vol.2 No.3 (October, 2025)
Publisher : Sinar Lima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to identify and analyze the types and meanings of idiomatic found in three selected songs by NIKI from the album Live at The Wiltern, namely Lose, Lowkey, and Backburner. The focus of this research is to investigate how idiomatic expressions contribute to the overall meaning and emotional depth of the lyrics. The researcher uses a qualitative descriptive method and applies the theory proposed by Boatner and Gates to classify the types of idioms. The data were collected by listening to the songs, transcribing the lyrics, identifying idiomatic expressions, and analyzing their meanings based on context. The findings show that a total of 24 idiomatic expressions were identified in the three songs. These idioms consist of various types, including lexemic idiom noun, verb, adjective, adverbial, and phrasal idioms. Each idiom contributes to the thematic richness of the lyrics, expressing feelings of love, heartbreak, self-reflection, and personal growth. The use of idioms in the lyrics adds depth and emotional nuance, making the songs more expressive and relatable for listeners. This research is expected to provide insights for English learners, teachers, and future researchers about the importance of idiomatic expressions in song lyrics as a tool for enhancing language comprehension and cultural understanding.
Peranan Cimpa Makanan Khas Karo Dalam Merajut Harmoni Sosial Dalam Kegiatan Adat dan Budaya Masyarakat Karo Panjaitan, Taufik Kusuma; Alicya, Putri; Ramadani, Syafina; Febrianka, Gizka; Regar, Sarah K Br; Anggini, Putri; Amalia, Nadra
Journal of Management Education Social Sciences Information and Religion Vol 3, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/mesir.v3i1.8202

Abstract

Penelitian ini mengkaji peranan Cimpa sebagai makanan khas masyarakat Karo dalam merajut dan mempertahankan harmoni sosial melalui kegiatan adat dan budaya di Tanah Karo, Sumatera Utara. Menggunakan metode studi pustaka, penelitian ini menganalisis berbagai sumber sekunder terkini (2021–2025), termasuk jurnal ilmiah, artikel etnografi, dan laporan pelestarian warisan kuliner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cimpa bukan sekadar hidangan kuliner, melainkan simbol budaya yang sarat makna filosofis dan fungsi sosial. Proses pembuatan Cimpa, yang melibatkan bahan alami lokal (beras ketan, kelapa parut, gula merah/aren, daun singkut/marasi) dan sering dilakukan secara gotong royong, mencerminkan nilai kesabaran, kerjasama, dan penghormatan terhadap alam serta leluhur. Kelima varian utama Cimpa Unung Unung, Tuang, Matah, Labar, dan Gulamei memiliki perbedaan signifikan dalam komposisi bahan, teknik pembuatan, tekstur, rasa, serta konteks penggunaan dalam acara adat. Cimpa Unung Unung mendominasi pesta besar (Merdang Merdem, pernikahan) sebagai simbol syukur formal; Cimpa Tuang berfungsi praktis untuk pergaulan sehari hari; Cimpa Matah mewakili kemurnian dalam ritual intim; Cimpa Labar menggambarkan ketahanan agraris; sedangkan Cimpa Gulamei menyimbolkan kemanisan hidup yang lembut. Secara sosial, Cimpa berperan sebagai “bahasa bersama” yang memperkuat sistem kekerabatan Rakut Si Telu, memfasilitasi pembagian kebahagiaan, mengurangi potensi konflik, dan membangun solidaritas antarindividu, keluarga, serta komunitas di masyarakat Karo yang multireligius. Cimpa merupakan metafor harmoni sosial masyarakat Karo: manis namun berlapis, tradisional namun adaptif, sederhana namun kaya makna. Pelestarian dan pemahaman mendalam terhadap peran Cimpa bukan hanya upaya menjaga kuliner tradisional, melainkan investasi strategis untuk keberlanjutan harmoni sosial, solidaritas komunal, dan identitas budaya etnis Karo di tengah arus modernisasi dan globalisasi.