Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peran Kegiatan Mewarnai Ember Bekas dan Menanam Kacang Hijau dalam Menumbuhkan Sikap Peduli Lingkungan Anak PAUD : Pendekatan Experiential Learning pada Pendidikan Lingkungan Putri Suwaibah Safira; Alma Silvi; Dias Amaliah Kangiden; Raja Oloan Tumanggor
Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. 5 No. 1 (2025): Maret : Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/khatulistiwa.v5i1.6125

Abstract

Environmental education at an early age is a strategic step to shape children's character who care about the sustainability of nature. This article examines the role of simple but meaningful activities, namely coloring used buckets and planting green beans, in fostering environmental awareness in PAUD children. By using an experiential learning approach, children not only learn through theory, but also experience the recycling and planting process directly as a form of contribution to the environment. This study was conducted through a literature study of relevant literature in the fields of early childhood education, environmental education, and experiential learning approaches. The results of the study show that this activity is able to instill the values of sustainability, responsibility, and social awareness from an early age.
Budaya Betawi Di Persimpangan Globalisasi : Upaya Menjaga Identitas Lokal Prajna Paramitha Marhaeni; Kezia Alexandra Emor; Dias Amaliah Kangiden; Alma Silvi; Jap Tji Beng
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3180

Abstract

Budaya Betawi sebagai simbol identitas lokal masyarakat Jakarta saat ini menghadapi tantangan besar akibat derasnya arus globalisasi, modernisasi, dan urbanisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika budaya Betawi, proses akulturasi yang membentuknya, serta pengaruh perubahan sosial terhadap keberlanjutan budaya tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada 8 tokoh dan pelaku budaya Betawi yang tersebar di beberapa wilayah Jakarta, yaitu Menteng, Senen, Setu Babakan, Tanjung Priok, Condet, Kampung Melayu, Kemayoran, dan kawasan Taman Mini Indonesia Indah  (TMII). Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya Betawi terbentuk melalui proses sejarah panjang yang melibatkan akulturasi dengan berbagai bangsa, seperti Cina, Arab, Belanda, Portugis, dan India. Pengaruh tersebut tercermin dalam seni pertunjukan tradisional seperti Lenong dan Gambang Kromong, kuliner khas, bahasa sehari-hari, serta berbagai tradisi dan upacara adat. Namun, perkembangan zaman, dominasi budaya populer, dan minimnya minat generasi muda menyebabkan semakin memudarnya praktik budaya tradisional di kehidupan sehari-hari.Upaya pelestarian yang telah dilakukan, seperti pengembangan kawasan wisata budaya Setu Babakan, dinilai belum cukup jika tidak diiringi dengan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat, khususnya generasi muda. Oleh karena itu, diperlukan strategi pelestarian yang adaptif melalui pendidikan berbasis budaya lokal, pemanfaatan media digital, serta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan komunitas seni agar budaya Betawi tetap lestari dan relevan tanpa kehilangan identitas aslinya.
Hubungan antara Harga Diri dengan Kesepian pada Mahasiswa Perantau Dias Amaliah Kangiden; Raja Oloan Tumanggor
YASIN Vol 6 No 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/yasin.v6i1.8746

Abstract

Migrant students are a group vulnerable to psychological challenges arising from adaptation to a new environment, separation from family, and changes in social networks, which can elicit feelings of loneliness when needs for emotional closeness and social support are not met. One psychological factor presumed to contribute to loneliness among migrant students is self-esteem, defined as an individual’s evaluation of their worth and value. This study aimed to examine the relationship between self-esteem and loneliness among migrant students. Using a quantitative correlational method, the study involved 355 participants aged 18–25 years who were studying at Universitas X. Self-esteem was measured using the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), and loneliness was measured using the UCLA Loneliness Scale Version 3. Because the data were not normally distributed, Spearman’s rho correlation was used for analysis. The results showed a strong negative relationship between self-esteem and loneliness (r = -0.873; p < 0.001), indicating that higher self-esteem was associated with lower loneliness among migrant students, and vice versa. Descriptive analysis also indicated that self-esteem was in the moderate category, whereas loneliness was in the high category. These findings underscore the importance of attending to self-esteem in understanding and reducing loneliness among migrant students facing adaptation pressures in higher education settings.