Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menumbuhkan Minat Belajar Siswa di SDN 24 Maros Andi Nurfatimah; Hasibuddin; Shamad, Ishaq; Hasibuddin, Hasibuddin
Journal of Gurutta Education Vol. 2 No. 2 (2023): Journal of Gurutta Education (JGE)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.676 KB) | DOI: 10.33096/jge.v2i2.1393

Abstract

Peran pendidikan penting untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur. Peningkatan dan peyempurnaan kualitas pendidikan dilakukan dengan berbagai peran, mulai dari pembenahan Sistem Pendidikan Nasional maupun pengaturan jenjang satuan pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui peran guru dan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menumbuhkan minat belajar siswa di SDN 24 Maros. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskiptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi. Data-data tersebut diolah dengan analisis kualitatif interpretative dimulai dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dilapangan menentukan peran guru pendidikan agama Islam (PAI) dalam menumbuhkan minat belajar adalah mengembangkan perencanaan pembelajaran dengan memperhatikan kondisi dan minat anak, mengintegrasikan variasi mengajar, dengan pendekatan individual, keterbukaan, keteladanan, serta pemberian motivasi, memfasilitasi minat, bakat dengan sarana dan prasarana yang menunjang belajar, mengevaluasi perkembangan hasil belajar, bimbingan individual dalam pembelajaran Al-Qur’an. Faktor pendukung dalam menumbuhkan minat belajar siswa adalah faktor dari dalam siswa siswa itu sendiri seperti kemauan belajar, kesiapan siswa untuk belajar juga dari luar adanya ganjaran dan kompetisi. Faktor yang dapat menghambat minat belajar siswa antara lain: pengaruh kondisi lingkungan/teman, kondisi siswa/keluarga baik dari siswa sendiri maupun dari sekolah. Sedangkan dari pihak guru sendiri adalah jadwal pelajaran yang kurang tepat.
Implementasi Strategi Dakwah Karang Taruna dalam Mengurangi Kenakalan Remaja di Desa Mario Kecamatan Libureng Kabupaten Bone Andi Nurfatimah; Mahmuddin; Ramsiah Tasruddin
Interaction: Jurnal Sosiologi Komunikasi Vol 1 No 1 (2025): Mendobrak batas: Memanfaatkan komunikasi dakwah modern untuk inovasi sosial
Publisher : Danudirja Setyabudi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64271/216ptw92

Abstract

This study examines the da'wah strategy the Youth Organization (Karang Taruna) implemented to reduce juvenile delinquency in Mario Village, Libureng District, Bone Regency. Using a descriptive qualitative method with a phenomenological approach, data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation from key informants, including Youth Organization leaders, religious figures, community leaders, and local teenagers. Findings reveal that Karang Taruna employs a sentimental da'wah strategy that focuses on emotional approaches through multiple program dimensions: (1) religious activities, including recitation, corpse bathing training, and establishing Islamic spiritual groups (Rohis); (2) educational interventions through juvenile delinquency seminars; (3) community engagement via charity activities; and (4) talent development through sports and arts programs. The research identifies three primary challenges: limited funding resources, management turnover, human resource constraints, and declining teenage enthusiasm due to technology distractions. The study demonstrates that while the sentimental da'wah approach shows promising results in reducing juvenile delinquency, its effectiveness could be enhanced through sustainable funding mechanisms, strengthened organizational capacity, and more engaging youth-centered activities that respond to contemporary interests. This research contributes to understanding religiously informed youth intervention strategies in rural contexts and provides practical recommendations for community-based approaches to juvenile delinquency.