Putri, Indah Salsabilla
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tanggung Jawab Negara dalam Hukum Internasional (Studi Kasus Konflik Ukraina dengan Rusia) Ramadhana, Elsa; Putra, Deyan Ajian; Putri, Indah Salsabilla; Oktaviani, Sutra; Sugiarti, Olivia; Nababan, Grace Oktavia; Septaria, Ema
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang bagaimana pertanggung jawaban negara Rusia terhadap Ukraina berdasarkan perspektif hukum Internasional, dan juga mengapa konflik pelanggaran HAM berat Ukraina dan Rusia harus di selesaikan berdasarkan perspektif hukum internasional. Dengan menggunakan pendekatan normatif yang digunakan untuk menilai kebijakan yang ideal, didapatkan hasil bahwa pertarungan pengaruh antara dua kekuatan besar, di mana NATO sebagai kekuatan besar berusaha menjadikan Ukraina sebagai benteng militer, sementara Rusia sebagai kekuatan besar di kawasan tersebut ingin menjadikan Ukraina sebagai zona penyangga untuk mengantisipasi potensi tekanan NATO terhadap Rusia, terutama dalam aspek militer, maka dibentuklah Pengadilan Pidana Internasional yang disebut sebagai ICC untuk menegakan keadilan HAM yang dilakukan oleh Rusia terhadap Ukraina pada tahun 2022.
Reposisi Asas Ultimum Remedium dalam Penegakan Hukum Pidana Lingkungan Pasca Berlakunya KUHP Nasional dan Undang-Undang Cipta Kerja (Analisis Normatif, Praktik Peradilan, dan Pertanggungjawaban Pidana Korporasi) Febriani, Yolanda; Putri, Indah Salsabilla
AHKAM Vol 5 No 4 (2026): AHKAM: Jurnal Hukum Islam dan Humaniora
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/ahkam.v5i4.12180

Abstract

Environmental criminal law enforcement in Indonesia underwent reconfiguration following the enactment of the Undang-Undang Cipta Kerja, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP Nasional), and Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana. These changes have raised questions regarding the position of the ultimum remedium principle in determining the use of criminal law against environmental offenses and in corporate criminal liability. This study aims to analyze the construction of environmental offenses following the amendments introduced through the Undang-Undang Cipta Kerja, judicial practices in applying the principles of ultimum remedium and primum remedium, and the repositioning of the ultimum remedium principle following the enactment of the KUHP Nasional, particularly in the context of corporate criminal liability. This study employed a normative legal method using statutory, conceptual, and case approaches through an analysis of relevant legislation and court decisions. The findings indicate that, first, ultimum remedium is not formulated as a general prerequisite for imposing criminal sanctions and is explicitly attached only to Article 100(2) of the UUPPLH, whereas the Undang-Undang Cipta Kerja introduced a structural ultimum remedium model for licensing violations through Articles 82A–82C and Article 109. Second, judicial practice demonstrates inconsistent application because it depends on judicial interpretation and interinstitutional coordination. Third, the KUHP Nasional provides sentencing objectives and guidelines, provisions on corporate liability under Articles 45–50, and additional penalties and measures for corporations under Articles 118–123, which are better able to accommodate proportionality considerations. Based on these findings, the ultimum remedium principle needs to be repositioned from a determinant of criminalization to a tiered guideline for formulating legal norms, exercising prosecutorial discretion, and imposing criminal sanctions, accompanied by selection criteria based on the una via principle and strengthened institutional coordination. This repositioning offers a conceptual framework for more proportionate, consistent, and accountable environmental criminal law enforcement, particularly in addressing corporate criminal liability.