Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kombinasi Plyometric Training Dengan Mobilization With Movement Lebih Baik Dibanding Kombinasi Plyometric Training Dengan Strain Counter Strain Dalam Meningkatkan Keseimbangan Dan Range Of Motion Ankle Joint Pada Kasus Chronic Ankle Instability Di Klinik Barito Farma Hamzah, Arfian; Fauziah, Enny; Sa’diah, Mar’atus
FISIO MU: Physiotherapy Evidences Vol.1, No.2, Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/fisiomu.v1i2.4963

Abstract

Pendahuluan; Chronic Ankle Instability (CAI) merupakan suatu kondisi dimana terjadi ketidakstabilan pergelangan kaki lateral serta gejala sisa seperti nyeri dan keterbatasan luas gerak sendi setelah cedera berulang pada ligament pergelangan kaki lateral. Tujuan; Untuk membandingkan kombinasi plyometric training dengan Mobilization with Movement (MWM) dan kombinasi plyometric training dengan Strain Counter Strain (SCS) terhadap peningkatan keseimbangan, Range of Motion (ROM), dan fungsional ankle pada kasus CAI. Metode; Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan rancangan penelitian pre-test and post-test group design. Sampel berjumlah 22 orang yang terdiri dari 11 orang di setiap kelompok. Kelompok 1 diberikan plyometric training dan MWM dan kelompok 2 diberikan plyometric training dan SCS. Latihan diberikan 3x seminggu selama 6 minggu. Teknik pengambilan sampel dengan random sampling. Keseimbangan diukur dengan Star Excursion Balance Test (SEBT), ROM diukur dengan Dorsiflexion Range of Motion (DFROM), fungsional ankle diukur dengan Foot and Ankle Ability Measure (FAAM). Hasil; Uji Paired sample t-test pada kedua kelompok didapatkan hasil signifikan untuk SEBT, DFROM, FAAM (p=0,001). Hasil sama pada uji Independent sample t-test nilai SEBT dan DFROM (p=0,001), namun nilai FAAM (p lebih dari 0,05). Simpulan; Kombinasi plyometric training dengan MWM dan kombinasi plyometric training dengan SCS sama-sama meningkatkan keseimbangan, ROM, dan fungsional ankle. Namun, untuk meningkatkan keseimbangan dan ROM kombinasi plyometric training dengan MWM lebih baik.
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KETERBATASAN LINGKUP GERAK SENDI BAHU AKIBAT POST ORIF FRAKTUR SHAFT HUMERUS DEXTRA DI KELURAHAN ALALAK UTARA BANJARMASIN TAHUN 2018 Sa’diah, Mar’atus
Jurnal Kajian Ilmiah Kesehatan dan Teknologi Vol 1 No 1 (2019)
Publisher : Politeknik Unggulan Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.845 KB) | DOI: 10.52674/jkikt.v1i1.5

Abstract

Fraktur humerus merupakan suatu kondisi terputusnya kontinuitas jaringan tulang lengan atas yang disebabkan oleh benturan atau trauma langsung maupun tidak langsung. Terjadinya fraktur dapat menyebabkan timbulnya nyeri, bengkak, spasme, penurunan kekuatan otot dan pengecilan otot. Fraktur humerus juga mengakibatkan keterbatasan Lingkup Gerak Sendi (LGS) pada bahu dan siku. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan LGS pada bahu kanan yang mengalami keterbatasan dengan menggunakan intervensi exercise therapy berupa passive dan active exercise serta hold relax. Penelitian menggunakan metode case study pada 1 jenis kasus dengan sampel tunggal, diberikan dosis 6 kali perlakuan dalam waktu 3 minggu. Hasilnya terjadi peningkatan LGS bahu kanan yang dievaluasi menggunakan goniometer, perbandingan antara T1 dengan T6 yaitu S. 40⁰ - 0⁰ - 120⁰ menjadi S. 50⁰ - 0⁰ - 140⁰, F. 100⁰ - 0⁰ - 60⁰ menjadi F. 110⁰ - 0⁰ - 70⁰ dan R belum dapat dilakukan menjadi R. 75⁰ - 0⁰ - 80⁰.