Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

The Shift In The Ecumenical Church Paradigm A Historical Study Of The Shift In The Ecumenical Paradigm In GMIM From 1934 To 2016 Gosal, Riedel Christian
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 4 No. 8 (2024): Journal Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v4i8.1740

Abstract

Global changes occur in all aspects of human life. The church as a community in the midst of society is also not spared from the impact of change due to changing times. The Evangelical Church in Minahasa is a church that grows and develops in the midst of Minahasa society which is also experiencing changes. Change gave birth to a new paradigm in the church. The problem is whether the change is a synthesis of the old and new paradigms or really gives birth to a new paradigm? Perhaps even a return to the old ecclesiological order adapted to the current context? GMIM has historically tried to answer its calling in the midst of a changing world. GMIM is the largest church in North Sulawesi that has influenced the development of the region. Ecumenism in the local church is strongly influenced by the ecclesiology set by the church. In this paper, the author uses a qualitative method and uses a historical research approach to dissect changes in the ecumenical paradigm from 1934-2016. The author compares ecumenical theories from several Indonesian and foreign figures and theories about paradigm shifts. The results show that there was a shift in GMIM ecumenical ecclesiology through the discussion of sessions, seminars, discussions among theological experts.
AJARAN EKAM SAT VIPRA BAHUDHA VADANTI SEBAGAI PARADIGMA BERINTERAKSI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MAJEMUK Lembong, Theresia Yashinta Tiara; Gosal, Riedel Christian
ATOHEMA: Jurnal Teologi Pastoral Konseling Vol. 3 No. 1 (2026): Januari || ATOHEMA: Jurnal Teologi Pastoral Konseling
Publisher : PT. Giat Konseling Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70420/atohema.v3.i1.247

Abstract

The teaching of Ekam Sat Vipra Bahudha Vadanti “Truth is one, though the wise call it by many names”offers a meaningful framework for interreligious engagement in diverse societies. Rather than treating other religions as theological systems to be judged or criticized, this study shows that they are understood as authentic and meaningful expressions of spirituality. Such an understanding resonates with John Hick’s view of a transcendent reality that is encountered and interpreted through different religious and cultural traditions. The pluralistic outlook that emerges from this reflection is not merely theoretical but grows out of lived philosophical reflection and everyday social experience. In this way, the findings contribute to and enrich Paul Knitter’s typology of interreligious relations. The religious life of the Hindu community at Pura Jagadhita Taas illustrates a distinctive and dynamic form of religious practice, marked by a high degree of fluidity. Here, religious communication is shaped less by rigid doctrinal claims and more by shared ethical values such as harmony, moral virtue, and respect for human dignity. Seen in this light, Ekam Sat functions not as an abstract theological formula, but as a lived spiritual orientation one that encourages inclusive social attitudes and strengthens cohesion within pluralistic communities.
Integrasi Nilai Minahasa Sitou Timou Tumou Tou dalam Praktik dan Spiritualitas Hindu di Kota Manado Sumolang, Easter Meini; Gosal, Riedel Christian
Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar Vol. 2 No. 1 (2026): Maret : Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen: Arastamar
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa J

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63536/arastamar.v2i1.85

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi nilai budaya Minahasa Sitou Timou Tumou Tou dalam praktik keagamaan dan spiritualitas umat Hindu di Kota Manado, serta mengkaji perannya dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis di tengah masyarakat plural. Masalah penelitian berangkat dari pertanyaan bagaimana nilai kearifan lokal Minahasa dimaknai, diinternalisasi, dan diwujudkan oleh komunitas Hindu sebagai kelompok minoritas religius dalam konteks sosial-budaya Manado. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-interpretatif, melalui teknik pengumpulan data melalui literatur, observasi partisipatif. Data dianalisis secara tematik dengan mengaitkan temuan literatur dan teori antropologi agama serta spiritualitas kontekstual. Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada pengungkapan nilai Sitou Timou Tumou Tou sebagai medium integrasi sosial dan spiritual yang menjembatani ajaran etika Hindu dengan budaya lokal Minahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan, saling menghargai, dan hidup berdampingan terintegrasi secara nyata dalam ritual keagamaan, aktivitas sosial, serta relasi lintas agama umat Hindu di Manado. Integrasi ini memperkuat spiritualitas yang bersifat relasional dan berkontribusi positif bagi kerukunan antarumat beragama berbasis kearifan lokal.
Upaya Dekonstruksi Paradigma Ekologi Antroposentris melalui Arya Astangika Marga di Vihara Vajra Viriya Dharma Tikala Kota Manado Kasehung, Sergio Theorig; Gosal, Riedel Christian
Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen : Arastamar Vol. 2 No. 1 (2026): Maret : Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen: Arastamar
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa J

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63536/arastamar.v2i1.90

Abstract

Krisis lingkungan saat ini tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan teknologi atau lemahnya regulasi, tetapi juga karena cara pandang manusia yang menempatkan dirinya sebagai pusat dan melihat alam semata-mata sebagai sumber pemenuhan kebutuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memahami bagaimana ajaran Arya Astangika Marga, atau Jalan Mulia Berunsur Delapan, dapat membentuk kesadaran ekologis yang lebih etis dan holistik. Delapan unsur ajaran pandangan, niat, ucapan, perbuatan, mata pencaharian, upaya, perhatian, dan konsentrasi benar mendorong manusia untuk menyadari keterkaitan semua makhluk dan bertindak dengan penuh tanggung jawab terhadap lingkungan. Penerapan ajaran ini di Vihara Vajra Viriya Dharma Tikala melalui kegiatan penghijauan, pengelolaan sampah, dan edukasi ekologis menunjukkan bahwa kesadaran lingkungan dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bersifat praktis, emosional, dan spiritual. Temuan ini menegaskan bahwa Arya Astangika Marga dapat menjadi landasan untuk menggantikan pandangan dominasi manusia dengan pendekatan yang lebih seimbang dan berkelanjutan.